Budayawan Dukung Wajib Iket (Totopong)
Ajakan Asisten Tatapraja Sekretariat Daerah Kota Bogor H. Ade Syarif Hidayat, agar seluruh PNS laki-laki setiap Kamis mengenakan iket kepala atau totopong dan seluruh SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah) Kota Bogor menjadi lokomotif budaya setempat disambut baik salah seorang Budayawan Bogor, Eman Soelaeman.Menurut Eman, ajakan tersebut seyogyanya segera ditindaklanjuti oleh kalangan PNS di lingkungan Pemkot Bogor. Eman mengungkapkan dukungan tersebut saat menjadi pembicara di acara diskusi Masyarakat Cinta Bogor (MCB) di Sekretariatnya di Jalan Dr. Sumeru Bogor, Jumat (2/12).
Eman menyebutkan, tidak hanya itu saja, ada permasalahan lain yang juga perlu disikapi yakni tergantikannya nama-nama daerah asal dengan nama-nama yang baru. Padahal penamaan daerah itu mengandung latar belakang sejarah setempat. Seperti Bojong Neros yang tergantikan dengan nama sebuah mall, kemudian Katulampa yang tergseser posisinya dengan nama sebuah singkatan komplek perumahan.
“Kalau hal ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin semua nama asal wilayah menjadi hilang,”paparnya. Dia juga menyayangkan dibebaskannya para pengembang yang menamakan jalan-jalan dan bangunan dengan nama-nama asing seperti yang terjasi di wilayah Tajur.
“Kenapa tidak digunakan nama-nama yang lebih nyunda, seperti dalam kisah Lutung Kasarung ada Purba Rarang, Purba Asih, Purba Leuwih, Purba Kancana dan yang lainnya,”ungkapnya.
Untuk itu dia berharap agar MCB memperjuangkan nama-nama yang berbau Sunda tersebut diterapkan di komplek perumahan yang akan dibangun.
“Kami para budayawan siap membantu untuk mencarikan nama-nama yang sesuai dengan wilayah dimana komplek perumahan itu dibangun, khususnya yang berkaitan dengan sejarah setempat,”pungkasnya. Hal itu, berguna bagi pembelajaran sejarah bagi generasi muda yang akan datang.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum MCB, Bagus Karyanegara, menyatakan kesiapannya, serta mendukung sikap budayawan kahot tersebut.
Di tempat terpisah, Wahyu Affandi Suriadinata, atau yang lebih dikenal sebagai Wahyu Kujang melalui pesan singkatnya mengapresiasi kebijakan yang diambil Asisten Tata Praja, Ade Syarif Hidayat.
“Saya merasa bangga atas pernyataan tersebut dan semoga menjadi ciri bangunnya Ki Sunda, setidaknya melalui pakaian yang dikenakan,” pesannya. (chris)
Sumber: Kota Bogor 2/12/2011
Eman menyebutkan, tidak hanya itu saja, ada permasalahan lain yang juga perlu disikapi yakni tergantikannya nama-nama daerah asal dengan nama-nama yang baru. Padahal penamaan daerah itu mengandung latar belakang sejarah setempat. Seperti Bojong Neros yang tergantikan dengan nama sebuah mall, kemudian Katulampa yang tergseser posisinya dengan nama sebuah singkatan komplek perumahan.
“Kalau hal ini terus berlanjut, maka bukan tidak mungkin semua nama asal wilayah menjadi hilang,”paparnya. Dia juga menyayangkan dibebaskannya para pengembang yang menamakan jalan-jalan dan bangunan dengan nama-nama asing seperti yang terjasi di wilayah Tajur.
“Kenapa tidak digunakan nama-nama yang lebih nyunda, seperti dalam kisah Lutung Kasarung ada Purba Rarang, Purba Asih, Purba Leuwih, Purba Kancana dan yang lainnya,”ungkapnya.
Untuk itu dia berharap agar MCB memperjuangkan nama-nama yang berbau Sunda tersebut diterapkan di komplek perumahan yang akan dibangun.
“Kami para budayawan siap membantu untuk mencarikan nama-nama yang sesuai dengan wilayah dimana komplek perumahan itu dibangun, khususnya yang berkaitan dengan sejarah setempat,”pungkasnya. Hal itu, berguna bagi pembelajaran sejarah bagi generasi muda yang akan datang.
Menanggapi hal itu, Ketua Umum MCB, Bagus Karyanegara, menyatakan kesiapannya, serta mendukung sikap budayawan kahot tersebut.
Di tempat terpisah, Wahyu Affandi Suriadinata, atau yang lebih dikenal sebagai Wahyu Kujang melalui pesan singkatnya mengapresiasi kebijakan yang diambil Asisten Tata Praja, Ade Syarif Hidayat.
“Saya merasa bangga atas pernyataan tersebut dan semoga menjadi ciri bangunnya Ki Sunda, setidaknya melalui pakaian yang dikenakan,” pesannya. (chris)
Sumber: Kota Bogor 2/12/2011
Tidak ada komentar