MCB Diskusikan Tata Ruang Kota Bogor

KOTA BOGOR- Masyarakat Cinta Bogor (MCB) menggelar diskusi yang mengusung topik menyoal tata ruang kota Bogor. Diskusi yang melibatkan para tokoh Bogor digelar Sekretariat MCB jalan dr. Sumeru Kelurahan Menteng Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor, Rabu (1/2/2012)
Taufik Hassuna, narasumber diskusi
mengatakan, diskusi MCB bisa menjadi bahan masukan untuk Pemerintah
Kota Bogor. Sebab, sambung dia, dampak dari tata kota yang tidak
mengkuti aturan akan menyebabkan berbagai keadaan seperti timbulnya
kesemrawutan, berkembangnya kawasan kumuh, gangguan terhadap sistem
transportasi dan timbulnya dampak lingkungan yang berimplikasi kepada kesehatan
serta sulitnya mengatasi kebakaran.
Taufik yang juga pemerhati masalah sosial ini mengatakan, Kota Bogor merupakan kota yang unik, dan termodern pertama kali di Nusantara. Berdasarkan data sejarah, di abad ke 5, Maharaja Tarusbawa, pendiri Kerajaan Sunda menjadikan kota ini sebagai purasaba atau ibu kota yang tadinya dari Sundapura.
Taufik yang juga pemerhati masalah sosial ini mengatakan, Kota Bogor merupakan kota yang unik, dan termodern pertama kali di Nusantara. Berdasarkan data sejarah, di abad ke 5, Maharaja Tarusbawa, pendiri Kerajaan Sunda menjadikan kota ini sebagai purasaba atau ibu kota yang tadinya dari Sundapura.
Tradisi ini kemudian dilanjutkan oleh Sri
Baduga Maharaja yang menyatukan kembali kerajaan Sunda dan Galuh yang terpecah.
“Sri Baduga Maharaja menjadikan Kota Pakuan sebagai ibu kota dan di masarakat
kala itu dikenal dengan nama Kerajaan Pakuan Pajajaran,” tuturnya.
Selanjutnya, kata Taufik, di zaman pemerintahan Kolonial Belanda, Gubernur Jendral Baron Vaninhoff juga melakukan hal yang sama, selain mendirikan Istana juga membuat kawasan perumahan bagi para pekerjanya, diantaranya di Kawasan Taman Kencana, Kota Paris dan Jalan Riau dan Bangka.
Selanjutnya, kata Taufik, di zaman pemerintahan Kolonial Belanda, Gubernur Jendral Baron Vaninhoff juga melakukan hal yang sama, selain mendirikan Istana juga membuat kawasan perumahan bagi para pekerjanya, diantaranya di Kawasan Taman Kencana, Kota Paris dan Jalan Riau dan Bangka.
Makanya, Kota Bogor terbilang unik bila
dibandingkan dengan kota-kota lainnya di Indonesia, “ kata
dia. Prasarana gedung sudah dibangun terlebih dahulu,
kemudian jalan dan kota termodern pertama karena baik PDAM, maupun perusahaan
gas dan telepon sudah dibangun sejak zaman Belanda sekitar tahun
1892.“Tujuannya melayani para pejabat Belanda yang bermukim di Kota Bogor.
Bahkan Istana Bogor dijadikan pusat pemerintahan,” paparnya.
Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta diskusi Iyong Jayeng Rachmat soal rancunya penataan tata ruang di Kota Bogor, Taufik menegaskan mestinya pengambil kebijakan memahami hostorikalnya dahulu, sehingga tidak salah menentukan arah kebijakan.
Menurutnya, lebih dari 70 persen para pekerja yang berasal dari luar Kota Bogor atau para commuter ini menggunakan akses pemberangkatan dari dalam Kota Bogor, mulai dari stasiun kareta api Bogor hingga Terminal Baranangsiang. “Kita bisa lihat saat jam keberangkatan dan saat jam pulang kerja, “ ujar Taufik.
Menanggapi pertanyaan salah seorang peserta diskusi Iyong Jayeng Rachmat soal rancunya penataan tata ruang di Kota Bogor, Taufik menegaskan mestinya pengambil kebijakan memahami hostorikalnya dahulu, sehingga tidak salah menentukan arah kebijakan.
Menurutnya, lebih dari 70 persen para pekerja yang berasal dari luar Kota Bogor atau para commuter ini menggunakan akses pemberangkatan dari dalam Kota Bogor, mulai dari stasiun kareta api Bogor hingga Terminal Baranangsiang. “Kita bisa lihat saat jam keberangkatan dan saat jam pulang kerja, “ ujar Taufik.
Oleh karena itu, lanjut Taufik, untuk menata
kembali Kota Bogor sebaiknya dipermudah akses para commuter ini di luar kota
Bogor dan Kota Bogor dikembalikan fungsinya sebagai kota pemukiman.
“Jadi, dengan dibukanya akses-akses
tersebut nantinya secara otomatis para PKL akan mengikuti keramaian yang
terjadi di berbagai tempat, “ ungkapnya. Dibagian lain Taufik menambahkan, bahwa indikator
kesejahtraan penduduk tidak dinilai dari PAD wilayah yang bersangkutan.
Sementara itu Ketua HPI (Himpunan
Pramuwisata Indonesia) Kota Bogor, Bagus Karyanegara berharap kepada Pemerintah
Kota Bogor untuk bisa mempertahankan ruang hijau yang ada.

Tidak ada komentar