Rebo Wekasan Di Kawasan Puncak Semarak
Pagi ini sebagian besar warga Kecamatan Cisarua, Megamendung, dan Ciawi berbondong-bondong mendatangi Masjid-Masjid terdekat. Mereka menunaikan sholat Thalaq Bala atau dikenal dengan Rebo Wekasan.
Sejak pukul 06.00 WIB, pantauan Bogor Ekspes, sejumlah kaum wanita di desa Citeko juga Nampak sibuk membawa ketupat dan sayur dengan beragam lauk-pauk untuk disajikan kepada para jama’ah yang menunaikan sholat Thalaq Bala di Masjid-Masjid.
Selain dipermukiman warga, disepanjang jalan raya puncak pun nampak ramai lalu-lalang pejalan kaki maupun pengendara sepeda motor lengkap berbusana muslim. Pagi yang cerah dipuncak kali ini memang diwarnai dengan aktifitas kaum muslim untuk menunaikan sholat Thalaq Bala.
Seperti dilakukan keluarga Asep warga Desa Citeko yang Nampak sibuk menyiapkan ketupat berikut lauk-pauknya berupa daging bebek yang dibagi-bagikan kepada jama’ah dan warga sekitar. Selain itu, Arya warga Batulayang dalam status jaringan social mengatakan pagi ini mulai berdatangan ketupat-ketupat.
Rebo wikasan juga menjadi ajang mengais rejeki bagi para pedagang ketupat di kawasan pasar Cisarua Puncak Bogor, mereka mampu meraih keuntungan hingga Rp100.000,- per hari.
Warga Desa Jepang
Warga Desa Jepang, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, juga menggelar ritual Rebo Wekasan, Selasa (17/1/2012) sore. Ritual itu dikemas dalam bentuk kirab budaya yang diakhiri dengan pembagian air salamun.
Kirab berlangsung sejauh 2 kilometer dari lapangan Kecamatan Mejobo dan berakhir di Masjid Al Makmur. Kirab itu mengusung aneka potensi Desa Jepang, terutama hasil pertanian dan kerajinan bambu.
Kirab itu sekaligus pelestarian tradisi syiar Islam yang dilakukan seorang ulama bernama Ndoro Ali pada 1925. Dalam syiarnya, Ndoro Ali membagi-bagikan air salamun yang bersumber dari sumur kuno Masjid Al Makmur.
Konon, sumur itu muncul setelah Sunan Kudus menancapkan tongkat di sekitar masjid. Hal itu terjadi bersamaan ketika Aryo Penangsang membangun Masjid Al Makmur.
"Disebut air salamun karena air itu diyakini bertuah dan menjadi sarana menangkal bala atau ancaman marabahaya. Salamun berasal dari kata 'salam' yang berarti 'selamat'," jelas Kepala Seksi Promosi Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Kudus Mutrikah.
Selain melestarikan tradisi, menurut Mutrikah, kirab itu menjadi sarana mempromosikan potensi desa. Desa Jepang terkenal dengan kerajinan anyaman bambu. (boy/kompas)


Tidak ada komentar