PKL: Pemerintah Dengarkanlah Suara Kami
Selasa pagi (23/11/2010) ratusan petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) membongkar ratusan lapak. Penertiban berlangsung lancar tanpa ada penolakan dari para pedagang. Para pedagang mengaku pasrah dengan penertiban tersebut. Mereka mengakui lapak yang mereka dirikan di pinggir Jalan Merdeka itu melanggar aturan.
Seperti yang dituturkan Sudrajat. Sudrajat mengaku pasrah bila dirinya dilarang mengais rejeki di Jalan Merdeka ini.
“Kami cuma rakyat kecil. Kami pasrah. Tetapi kami berharap pemerintah bijaksana. Kami harus mencari nafkah demi anak istri,” ujar Sudrajat, Selasa (23/11/2010) saat ditemui di tengah-tengah proses pembongkaran.
Sudah sekitar empat tahun Sudrajat membuka Pangkas Rambut Ajat. Dengan lapak seadanya, Sudrajat biasa memangkas rambut sesama pedagang atau tukang Becak yang mencari nafkah di Sepanjang Jalan Merdeka. Namun karena lapaknya di bongkar, Sudrajat mengaku bingung hendak diberi makan apa anak dan istri yang menunggunya di rumah. Biasanya, Sudrajat bisa mengantongi uang sekitar Rp 30 ribu hingga Rp 45 ribu. Dengan memungut upah pangkas Rp 3 ribu per kepala, dapur rumah Sudrajat bisa mengepul.
Sudrajat mengaku belum mengetahui perihal rencana relokasi ke basement Pasar merdeka yang sudah ditawarkan pemerintah. “Sekarang kami harus kemana? Saya harap pemerintah bisa memberikan solusi yang terbaik,” harapnya.
Pernyataan senada juga dikeluhkan Kurdi, pedagang buah semangka yang sudah berjualan sejak 25 tahun yang lalu. Ia pun tidak mengetahui perihal tawaran relokasi ke basement Pasar Merdeka.
“Kami mendukung program pemerintah. Tetapi kalau dipindah ke Pasar Merdeka, kami harus berembuk dulu,” ujarnya.
Setahu Kurdi, para pedagang yang menempati kios di basement Pasar Merdeka banyak yang terpaksa kembali berjualan di jalan karena sepi pembeli.
Namun, Dulloh, warga Sukabumi yang sudah berjualan sayur mayur selama 30 tahun berpandangan optimistis. Menurutnya relokasi bisa saja dilakukan ke basement Pasar Merdeka. Dengan catatan, tidak ada lagi pedagang yang berjualan di pinggir jalan. “Kalau di pindah semua kita sih mau. Tetapi kita harus kompak. Jangan sampai ada satu pedagang yang berjualan di pinggir jalan lagi,” ungkapnya.
Dulloh mengakui, pihaknya pernah merasakan berjualan di basement Pasar Merdeka. Menurutnya kondisi pasar lumayan ramai dengan pembeli. Namun hal tersebut hanya berlangsung sekitar lima bulan. Setelah ada pedagang yang nekat berjualan di pinggir jalan mengakibatkan basement Pasar Merdeka sepi pengunjung.
Kini para pedagang meminta kearifan pemerintah agar bisa menguntungkan semua. Para pedagang berharap pemerintah memberikan solusi yang terbaik yang bermanfaat bagi semua pihak, mulai dari masyarakat yang tidak terganggu kemacetan, tetapi para pedagang juga bisa berjualan dengan nyaman dan tertib.(dian)
Tidak ada komentar