header_ads

Tomcat Jangan Ditepuk Saat Hinggap Ditubuh


Populasi Terganggu, serangga Tomcat yang melanda berbagai daerah di tanah air juga telah memakan korban di wilayah Bogor. Seorang warga mengaku telah menjadi korban sengatan serangga dengan cairan tubuh beracun itu.

Amar (51 tahun), Warga RT 01/05 Cibeureum Kalong, Desa Sukawening, Kecamatan Dramaga, Kabupaten Bogor mengatakan, serangan tersebut dialaminya sekitar dua minggu yang lalu. Ketika itu, ia tengah berada di persawahan tak jauh dari rumahnya. 


"Hinggap di pergelangan kaki kanan saya. Lalu secara reflek saya tepuk begitu saja," kata dia, kepada Republika, Jumat (23/3/2012).

Menurut Amar, setelah peristiwa itu, bagian tubuh bekas tepukan terasa gatal dan muncul bintik-bintik berwarna kuning. Selain itu, ia juga merasakan demam. "Badan saya jadi terasa panas sampai beberapa hari," ujarnya.

Saat ditanya ciri-ciri serangga yang menyerangnya, Amar mengaku tidak jauh berbeda dengan jenis yang sering muncul di televisi belakangan ini. Ia mengatakan, bentuknya kecil berwarna merah dan kuning.

Amar menambahkan, aktifitasnya sempat terganggu akibat serangan itu. Selama satu minggu lebih ia tidak bisa keluar jauh-jauh dari rumahnya. Di lingkungan kampungnya, belum ada warga lain yang mengalami serangan serupa.

"Saya obati pakai obat-obat seadanya yang ada di warung. Sekarang tinggal bekas luka iritasi saja," kata dia.

Populasi Habitat Terganggu

Munculnya kumbang tomcat ini bisa dikarenakan habitatnya yang mulai terusik akibat menjamurnya pembangunan. "Yang pasti, kenapa banyak terdapat di sana bisa jadi wilayah itu merupakan habitatnya," kata pakar serangga dari Departemen Proteksi Tanaman, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prof Aunu Rauf MSc, kepada Kompas di Bogor, Rabu (21/3/2012).

Aunu mengatakan, perlu dilakukan pengecekan langsung lokasi apakah keberadaannya dipicu oleh pertumbuhan permukiman di kawasan habitat hewan tersebut. Menurut Aunu, ada beberapa kemungkinan yang bisa menjelaskan terjadinya ledakan (outbreak) kumbang tomcat ini, di antaranya terjadi peningkatan populasi kumbang tomcat menjelang berakhirnya musim hujan (sebelumnya masih dalam stadia larva dan pupa). Pada saat yang bersamaan terjadi kegiatan panen sehingga kumbang tomcat beterbangan dan bergerak menuju ke tempat datangnya sumber cahaya di permukiman.

Ia menjelaskan, binatang yang disebut tomcat ini sebetulnya adalah hewan sejenis kumbang dengan nama ilmiah Paederus fuscipes. Kumbang Paederus fuscipes berkembang biak di dalam tanah di tempat-tempat yang lembab, seperti di galengan sawah, tepi sungai, daerah berawa, dan hutan. Telurnya diletakkan di dalam tanah, begitu pula larva dan pupanya hidup dalam tanah. Setelah dewasa barulah serangga ini keluar dari dalam tanah dan hidup pada tajuk tanaman.

Siklus hidup kumbang dari sejak telur diletakkan hingga menjadi kumbang dewasa sekitar 18 hari, dengan perincian stadium telur 4 hari, larva 9 hari, dan pupa 5 hari. Kumbang dapat hidup hingga 3 bulan. Seekor kumbang betina dapat meletakkan telur sebanyak 100 butir telur.

"Bisa jadi permukiman dibangun di wilayah tempat perkembangbiakan kumbang tomcat, misalnya di dekat persawahan atau di pinggiran dekat hutan yang lembab atau tempat berawa. Pada kondisi ini kumbang pada malam hari akan berdatangan ke perumahan karena tertarik cahaya lampu," katanya.

Lebih lanjut, Aunu mengatakan, masyarakat tidak perlu terlalu khawatir dengan ledakan populasi tomcat ini karena kumbang tomcat tidak menggigit atau menyengat. Tetapi, kumbang tomcat kalau terganggu atau secara tidak sengaja terpijit akan mengeluarkan cairan yang bila kena kulit akan menyebabkan gejala memerah dan melepuh seperti terbakar (dermatitis). Gejala ini muncul akibat cairan tubuh kumbang tadi mengandung zat yang disebut pederin yang bersifat racun.

Aunu mengatakan, ada yang menyebutkan bahwa pederin ini 15 kali lebih beracun daripada bisa kobra. Belakangan ini diketahui bahwa produksi pederin dalam tubuh kumbang tergantung pada keberadaan bakteri Pseudomonas sp. yang bersimbiosis dalam tubuh kumbang betina.

Pederin bersirkulasi dalam darah kumbang sehingga dapat terbawa sampai ke keturunannya (telur, larva, pupa, dan kumbang). Namun demikian, kumbang betina yang mengandung bakteri akan menghasilkan pederin yang lebih banyak dibandingkan kumbang yang dalam tubuhnya tidak ada bakteri simbion.
Aunu mengatakan, kumbang ini jangan dimusnahkan karena bermanfaat bagi petani. Penyemprotan di rumah juga tidak perlu dilakukan karena lebih berisiko terhadap kesehatan penghuninya.

Untuk menghindari serangannya, dengan cara halaulah kumbang ini agar menjauh dari rumah dengan mematikan lampu, atau memungutnya secara hati-hati dengan kantong kertas dan lepaskan ke habitatnya (sawah atau tempat lembab lainnya).

Masyarakat juga tidak perlu khawatir dengan kejadian tersebut karena outbreak kumbang tomcat seperti terjadi di Surabaya pernah pula dilaporkan terjadi di negara lain, seperti di Okinawa-Jepang (1966), Iran (2001), Sri Lanka (2002), Pulau Pinang Malaysia (2004 dan 2007), India Selatan (2007), dan Irak (2008).
"Memang sesekali kumbang datang ke permukiman karena tertarik cahaya lampu, dan mengganggu kenyamanan penghuninya. Namun demikian, jangan sampai 'pengabdian setiap hari' kepada petani oleh kumbang ini terhapus oleh perilakunya datang ke permukiman yang hanya sesekali terjadi," ujarnya. (/int)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.