Kota Bogor Bendung Epidemik HIV/AIDS
KOTA BOGOR - Sekretaris Daerah Kota Bogor Aim Halim Hermana mengajak, melalui momentum peringatan Hari AIDS sedunia sebagai sebuah kesempatan untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat untuk memberikan informasi yang seluas-luasnya tentang fakta HIV/AIDS.
Stigma dan diskriminasi terhadap orang penderita HIV/AIDS (ODHA) dan orang hidup dengan penderita HIV/AIDS (OHIDHA) akan menghambat para penderitanya untuk bisa mendapatkan layanan kesehatan, karena mereka lebih memilih menyembunyikan kondisi sebenarnya.
“Kita harus bergerak bersama-sama menurunkan stigma dan diskiriminasi yang terjadi pada ODHA dan OHIDHA untuk membendung terjadinya epidemic HIV/AIDS, “ kata Aim ketika membuka Seminar pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS pada peringatan Hari AIDS sedunia tingkat Kota Bogor, di Balaikota Senin (3/12/2012).
Pembukaan seminar dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kota Bogor Fauziah Diani Budiarto. Seminar diikuti organisasi Wanita, seperti GOW, Tim Penggerak PKK, dan Dharma Wanita. Sedangkan nara sumber seminar yaitu Asisten Deputi program KPAN Halik Sidik, dan Ayie Sri Kartika dari Instalasi Pemulihan Ketergantungan Napza RS Marzuki Mahdi Bogor.
Lebih lanjut Aim mengatakan, kampanye berkesinambungan harus terus dilakukan untuk menyadarkan dan mengajak lebih banyak pihak di Kota Bogor bagaimana melakukan aksi–aksi nyata pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
Aim mengungkapkan, resiko penularan HIV/AIDS tidak hanya terbatas pada populasi berisiko tinggi juga menular pada pasangan atau bahkan istri dan anak. Hasil proyeksi 2008-2014 menunjukkan bahwa jumlah ODHA pada kelompok perempuan akan meningkat pada kisaran 28 persen.
Data KPAD Kota Bogor menyebutkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Bogor berdasarkan jenis kelamin dari tahun 2006 sampai Oktober 2012 tercacat laki-laki 1.096 orang, perempuan 403 orang.
Mencermati kondisi ini, sambung Aim, perlu dilakukan ikhtiar yang lebih besar dan lebih kuat mengurai berbagai masalah terkait penyebaran HIV/AIDS. Kondisi ini pula untuk terus mendorong KPAD Kota Bogor melakukan kerjasama dengan seluruh komponen masyarakat peduli AIDS seperti LSM, rumah sakit, puskesmas, klinik swasta petugas penjangkau dan petugas lapangan lainnya dalam upaya melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
“Tingkatkan terus kampanye kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS, karena dampak dari HIV/AIDS bukan hanya pada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA), tetapi pada orang yang hidup dengan ODHA (OHIDHA) “ ungkapnya.
24 Puskesmas Layani VCT
Sebanyak 24 Puskesmas di Kota Bogor siap memberikan pelayanan VCT (Voluntary Couseling and Testing) kepada masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.

“VCT telah kita disiapkan di puskesmas dan sejumlah rumah sakit untuk membantu masyarakat untuk mengenal apa itu HIV/AIDS, “ kata Pengelola Program HIV/AIDS pada Dinas Kesehatan Kota Bogor, Wiwik Rejatsiwi di Sekretariat KPAD Kota Bogor, Selasa (4/12/2012)
Menurut Wiwiek, bagi masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan tidak akan dipungut bayaran alias gratis. “ Silahkan, tinggal datang ke Puskesmas, “ ujarnya.
Ia mengatakan, jika melihat tren peningkatan penderita HIV/AIDS di Kota Bogor ternyata telah bergeser kepada kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga, remaja dan anak-anak “Penularan HIV/AIDS kepada ibu rumah tangga berasal dari suami yang suka "jajan" diluar. Suami yang menggunakan PSK yang terinfeksi HIV/AIDS akan menulari ke istrinya, dari ibu, HIV/AIDS menular ke anak yang dikandungnya, “ tuturnya.
Data KPAD Kota Bogor menyebutkan, jumlah penderita HIV tercatat sebanyak 1.542 orang dan AIDS sebanyak 949 orang (periode 2006-2012) dan meninggal dunia 65 orang. Dari jumlah tersebut, faktor resiko penularan HIV/AIDS pada pasangan suami istri di periode Januari-Juni 2012 sebanyak 31 orang, sedangkan ibu-ibu dan anak berjumlah 13 orang. "Upaya yang kita telah kita lakukan yaitu mengharuskan ibu rumah tangga khususnya ibu hamil untuk diperiksa di VCT, tapi dengan persetujuan. Jika tidak setuju, tes tidak kita lakukan," katanya.
Namun diakuinya, bahwa berdasrakan laporan dari sejumlah Puskesmas kebanyakan para ibu hamil atau ibu rumah tangga masih menolak untuk di tes VCT. "Padahal ini sangat baik dan penting untuk pencegahan dini, melindungi ibu dan anak dari HIV/AIDS," katanya.
Wiwiek mengatakan, dengan memeriksaaan diri akan diketahui apakah si ibu dan bayinya tertular HIV/AIDS atau tidak. Apabila si ibu diketahui positif makan akan diberi bimbingan dan konseling selama ia hidup.
Ia mengakui, bahwa kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke VCT masih rendah, karena minimnya pemahaman tentang HIV/AIDS dan masih adanya stigma yang menyebabkan orang dengan HIV/AIDS di kucilkan dari kelompok. (eka)
Stigma dan diskriminasi terhadap orang penderita HIV/AIDS (ODHA) dan orang hidup dengan penderita HIV/AIDS (OHIDHA) akan menghambat para penderitanya untuk bisa mendapatkan layanan kesehatan, karena mereka lebih memilih menyembunyikan kondisi sebenarnya.
“Kita harus bergerak bersama-sama menurunkan stigma dan diskiriminasi yang terjadi pada ODHA dan OHIDHA untuk membendung terjadinya epidemic HIV/AIDS, “ kata Aim ketika membuka Seminar pencegahan dan penangulangan HIV/AIDS pada peringatan Hari AIDS sedunia tingkat Kota Bogor, di Balaikota Senin (3/12/2012).
Pembukaan seminar dihadiri Ketua Tim Penggerak PKK Kota Kota Bogor Fauziah Diani Budiarto. Seminar diikuti organisasi Wanita, seperti GOW, Tim Penggerak PKK, dan Dharma Wanita. Sedangkan nara sumber seminar yaitu Asisten Deputi program KPAN Halik Sidik, dan Ayie Sri Kartika dari Instalasi Pemulihan Ketergantungan Napza RS Marzuki Mahdi Bogor.
Lebih lanjut Aim mengatakan, kampanye berkesinambungan harus terus dilakukan untuk menyadarkan dan mengajak lebih banyak pihak di Kota Bogor bagaimana melakukan aksi–aksi nyata pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS
Aim mengungkapkan, resiko penularan HIV/AIDS tidak hanya terbatas pada populasi berisiko tinggi juga menular pada pasangan atau bahkan istri dan anak. Hasil proyeksi 2008-2014 menunjukkan bahwa jumlah ODHA pada kelompok perempuan akan meningkat pada kisaran 28 persen.
Data KPAD Kota Bogor menyebutkan, jumlah kasus HIV/AIDS di Kota Bogor berdasarkan jenis kelamin dari tahun 2006 sampai Oktober 2012 tercacat laki-laki 1.096 orang, perempuan 403 orang.
Mencermati kondisi ini, sambung Aim, perlu dilakukan ikhtiar yang lebih besar dan lebih kuat mengurai berbagai masalah terkait penyebaran HIV/AIDS. Kondisi ini pula untuk terus mendorong KPAD Kota Bogor melakukan kerjasama dengan seluruh komponen masyarakat peduli AIDS seperti LSM, rumah sakit, puskesmas, klinik swasta petugas penjangkau dan petugas lapangan lainnya dalam upaya melakukan pencegahan dan penanggulangan HIV/AIDS.
“Tingkatkan terus kampanye kesadaran masyarakat tentang HIV/AIDS, karena dampak dari HIV/AIDS bukan hanya pada orang dengan HIV/AIDS atau ODHA), tetapi pada orang yang hidup dengan ODHA (OHIDHA) “ ungkapnya.
24 Puskesmas Layani VCT
Sebanyak 24 Puskesmas di Kota Bogor siap memberikan pelayanan VCT (Voluntary Couseling and Testing) kepada masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan HIV/AIDS.

“VCT telah kita disiapkan di puskesmas dan sejumlah rumah sakit untuk membantu masyarakat untuk mengenal apa itu HIV/AIDS, “ kata Pengelola Program HIV/AIDS pada Dinas Kesehatan Kota Bogor, Wiwik Rejatsiwi di Sekretariat KPAD Kota Bogor, Selasa (4/12/2012)
Menurut Wiwiek, bagi masyarakat yang akan melakukan pemeriksaan tidak akan dipungut bayaran alias gratis. “ Silahkan, tinggal datang ke Puskesmas, “ ujarnya.
Ia mengatakan, jika melihat tren peningkatan penderita HIV/AIDS di Kota Bogor ternyata telah bergeser kepada kaum perempuan khususnya ibu rumah tangga, remaja dan anak-anak “Penularan HIV/AIDS kepada ibu rumah tangga berasal dari suami yang suka "jajan" diluar. Suami yang menggunakan PSK yang terinfeksi HIV/AIDS akan menulari ke istrinya, dari ibu, HIV/AIDS menular ke anak yang dikandungnya, “ tuturnya.
Data KPAD Kota Bogor menyebutkan, jumlah penderita HIV tercatat sebanyak 1.542 orang dan AIDS sebanyak 949 orang (periode 2006-2012) dan meninggal dunia 65 orang. Dari jumlah tersebut, faktor resiko penularan HIV/AIDS pada pasangan suami istri di periode Januari-Juni 2012 sebanyak 31 orang, sedangkan ibu-ibu dan anak berjumlah 13 orang. "Upaya yang kita telah kita lakukan yaitu mengharuskan ibu rumah tangga khususnya ibu hamil untuk diperiksa di VCT, tapi dengan persetujuan. Jika tidak setuju, tes tidak kita lakukan," katanya.
Namun diakuinya, bahwa berdasrakan laporan dari sejumlah Puskesmas kebanyakan para ibu hamil atau ibu rumah tangga masih menolak untuk di tes VCT. "Padahal ini sangat baik dan penting untuk pencegahan dini, melindungi ibu dan anak dari HIV/AIDS," katanya.
Wiwiek mengatakan, dengan memeriksaaan diri akan diketahui apakah si ibu dan bayinya tertular HIV/AIDS atau tidak. Apabila si ibu diketahui positif makan akan diberi bimbingan dan konseling selama ia hidup.
Ia mengakui, bahwa kesadaran masyarakat untuk memeriksakan diri ke VCT masih rendah, karena minimnya pemahaman tentang HIV/AIDS dan masih adanya stigma yang menyebabkan orang dengan HIV/AIDS di kucilkan dari kelompok. (eka)

Tidak ada komentar