Wayang Kulit Tahun Baru Saka Jawa
KOTA BOGOR – Budaya Indonesia harus dikembalikan sesuai jati diri bangsa. Semakin derasnya budaya global, semakin kuat pula pelajaran budaya, agar generasi muda tidak lupa akan jati dirinya.
Ketua Cahya Buwono Langgeng Cigede, KRT. AJM. Andi Hakim, SH menuturkan, wayang kulit sebagai salah satu budaya bangsa, merupakan sebuah mahakarya yang paling menonjol diantara banyak budaya lainnya di pulau Jawa.
Menurut Andi yang juga Dewan Pengurus Besar Persaudaraan Suhu-Suhu se-Nusantara, tokoh penting dalam pewayangan yakni, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia.
“Tidak ada negara lain memiliki budaya ini. Untuk melestarikannya, kita harus bersama menjaganya. Pertunjukan wayang kali ini dalam rangka Tahun Baru Saka Jawa atau 1 suro,” kata Andi saat melakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Plaza Amsterdam Sentul Bogor Kamis (6/12/2012) malam.
Ditambahkan, Paguyuban Cahya Buana berdiri sejak tahun 1993 terus berkembang. Bahkan hingga kini sudah memiliki 200 padepokan yang tersebar diberbagai kota di Indonesia. Bahkan sudah ada diluar negeri seperti, Singapur, Malaysia dan Belanda.
Andi mengaku sangat ironis, jika generasi muda sekarang, lebih suka budaya yang instan. Bahkan jangankan melestarikan dan mencintainya, untuk mengetahuinya saja seakan tidak ada ruang. (yop/chris)
Ketua Cahya Buwono Langgeng Cigede, KRT. AJM. Andi Hakim, SH menuturkan, wayang kulit sebagai salah satu budaya bangsa, merupakan sebuah mahakarya yang paling menonjol diantara banyak budaya lainnya di pulau Jawa.
Menurut Andi yang juga Dewan Pengurus Besar Persaudaraan Suhu-Suhu se-Nusantara, tokoh penting dalam pewayangan yakni, Semar, Gareng, Petruk dan Bagong, hanya ada dalam pewayangan Indonesia.
“Tidak ada negara lain memiliki budaya ini. Untuk melestarikannya, kita harus bersama menjaganya. Pertunjukan wayang kali ini dalam rangka Tahun Baru Saka Jawa atau 1 suro,” kata Andi saat melakukan pagelaran wayang kulit semalam suntuk di Plaza Amsterdam Sentul Bogor Kamis (6/12/2012) malam.
Ditambahkan, Paguyuban Cahya Buana berdiri sejak tahun 1993 terus berkembang. Bahkan hingga kini sudah memiliki 200 padepokan yang tersebar diberbagai kota di Indonesia. Bahkan sudah ada diluar negeri seperti, Singapur, Malaysia dan Belanda.
Andi mengaku sangat ironis, jika generasi muda sekarang, lebih suka budaya yang instan. Bahkan jangankan melestarikan dan mencintainya, untuk mengetahuinya saja seakan tidak ada ruang. (yop/chris)
Tidak ada komentar