header_ads

Wakil Bupati Kunjungi Radio Teman

CIBINONG - Saat mengunjungi Radio Teman 93 FM, Wakil Bupati Karyawan Faturahman berpesan, di bidang SDM, harus direkrut tenaga dinamis dan freelance yang benar - benar berpengalaman di bidang broadcast. 

"Kita butuh sepertiga pegawai tetap secara administratif di bidang peliputan dan broadcasting sebagai tenaga dinamis atau freelance yang berasal dari tenaga ahli pengalaman di stasiun televisi dan radio pemerintah maupun swasta," pinta Wakil Bupati, Rabu (1/1/2013).

Dirinya berharap media lokal ini menjadi alat bantu komunikasi dan sosialisasi Pemerintah Daerah kepada masyarakat yang perlu ditingkatkan kualitas penyiaran. "Lakukan studi banding ke media elektronik komersil dan profesional, terutama belajar mengutamakan etika jurnalistik”, jelasmya didampingi Sekretaris Daerah, Nurhayanti.

Keduanya melihat dari dekat Ruang Master Control Room (MCR), Ruang Editing, Ruang Redaksi, Ruang Studio Radio dan sempat berbincang-bincang dengan tim kreatif, reporter, penyiar, dan editor didampingi penyiar Martimbang dan Uus.



Radio hidup segan mati tak mau

Terpisah, Pemerhati Siaran Radio Sabilillah mengungkapkan radio yang sudah berusia 18 tahun ini masih membutuhkan biaya operasional yang memadai. Pasalmya, anggaran yang tersedia belum digunakan secara optimal dan tepat sasaran membuat dipertengahan tahun media ini "hidup segan mati pun tak mau".

Dirinya secara blak - blakan mengatakan saat ini radio teman siaran hanya mengandalkan exiter fm pemancar yang mutunya  setara 86-110MHz, 48 Volts dengan Input/Output 50 ohms, Pout 300W with a 2.5 to 3 watt input.  

Maka jangan heran bila jangkauan siaran radio milik Pemkab Bogor ini hanya kisaran radius 2 kilometer.

"Radio ini tak jauh berbeda dengan radio komunitas milik warga. Mengapa, sebab osilator penguat out put siaran (tabung pemancar fm) yang sudah tidak berfungsi sejak akhir Oktober 2012 lalu, ternyata tidak segera diganti lantaran tidak tersedia dana cadangan," paparnya.  
 
Dirinya meragukan kesungguhan Diskominfo untuk meng- upgrade radio ini. Terbukti dari tahun ke tahun masih menggunakan pemancar FM jenis tabung. 

Padahal, di era globalisasi rata - rata pada radio standart sudah menggunakan teknologi Mosfet, RF Power Amplifier di atas 1 KW bahkan teknologi satelite.  "Berdasar peraturan, memang radio ini masuk kategori Radio Komunitas. Tapi, bila di-menej secara benar maka kualitas penyiaran bisa jauh lebih baik dari radio lokal yang ada di bogor," imbuhnya.


Dirinya juga mengajak Diskominfo untuk transparan dalam penggunaan anggaran yang sama sekali bukan untuk mendukung kualitas penyiaran radio, semisal pemotongan dengan jumlah besar terhadap biaya operasional, honorarium pegawai maupun freelance. Termasuk belanja peralatan dan perangkat hardware dan software yang seharusnya berkualitas baik dan efektif penggunaannya.

"TV anggarannya jauh lebih besar dari anggaran Radio, padahal tv masih uji coba. Sedangkan radio yang sudah belasan tahun hanya dipandang sebelah mata. Disamping itu sumber daya manusianya masih tergolong 'gaptek'. Secara operasional UPTD masih kental intervensi dari lantai dua, jadinya kaku belum kreatif," terangnya.

Bahkan, lanjutnya, sering terdengar siaran tertawa 'ngakak' tanpa format yang jelas, siaran tanpa treatment dan skenario script yang kesannya asal asalan. Ditambah lagi bila hujan deras disertai petir memaksa radio ini harus turn off, alias tutup siaran karena takut tersambar petir," tukas mantan produser Agustina FM dan CBB FM Jakarta ini. (ice)










Editor: Michelle
Email: beritabogor2002@ gmail.com




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.