header_ads

Mi'ing Tuding M.Nuh Naif

Pelaksanaan ujian nasional carut marut membuat sejumlah praktisi pendidikan berang lantaran hak siswa terbengkalai.
 
Retno Listyati, guru SMAN 13 Jakarta mengaku kecewa terhadap ketidaksiapan Kementerian Pendidikan dalam melaksanakan ujian negara. 


Baginya, hak anak didik diabaikan oleh pejabat Kemendiknas yang bisa dikategorikan pelanggaran hak anak.

"Bukan persoalan kesalahan teknis saja, tetapi ada indikasi pelanggaran hak anak untuk memperoleh kesempatan mengikuti ujian negara," katanya kepada Berita Bogor melalui selular, Rabu (17/4/2013).

Sementara Anggota Komisi X DPR DRI Dedi Gumelar (Mi'ing mengaku sejak awal sudah menolak pelaksanaan ujian nasional yang hanya dijadikan pemetaan pendidikan di Indonesia. Seiring pelaksanaannya, ujian nasional ternyata semakin memburuk dan ada indikasi permainan proyek tender percetakan.

"Bila untuk pendidikan hanya dijadikan proyek maka ini yang terjadi, Pak Nuh itu Naif. Kualitas pendidikan tak lagi ditingkatkan, melainkan dijadikan komoditas untuk kegiatan - kegiatan yang menguntungkan oknum - oknum," kata mantan pelawak, Mi'ing

Ujian nasional harus memuat konsep peningkatan kualitas pendidikan secara merata dan adil di setiap kabupaten dan kota yang ada di Indonesia. "Tidak boleh ada diskriminasi pendidikan bagi masyarakat. Maka Presiden harus segera melakukan evaluasi kepada Menteri," pintanya.


Sementara, Mendiknas Muhammad Nuh terkesan buang badan dan menyalahkan pihak percetakan Ciawi Bogor. Namun, dirinya tidak bisa menampik adanya fakta hingga hari ini distribusi masih 75 persen ke 11 Propinsi.

Padahal, pelaksanaan Ujian Nasional akan dilakukan besok. "Kami terus lakukan investigasi ke 11 Propinsi terkait pelaksanaan Unjian Nasional yang mudur (Kamis 18/2013), besok. Mengenai distribusi akan kita evaluasi lagi," kata M. Nuh berkilah. (als)




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.