header_ads

Pria Arab Ketagihan Peuyeum Puncak


Jaringan PSK mampu hasilkan Rp1,2 M tiap bulan. 

Menggiurkan tapi miris mendengarnya, dengan mudah uang mengalir dan membawa keuntungan tersendiri bagi para pekerja seks komersial (PSK) alias peuyeum puncak.


Buka hal baru bila praktek prostitusi terselubung untuk wisatawan Timur Tengah tumbuh subur di wilayah Puncak Bogor. Fasilitas yang murah dan mudah menjadi kenikmatan tersendiri bagi wisatawan yang sengaja datang ke Puncak. 

Turis Arab di kawasan wisata ini nampaknya gemar berleha - leha lantaran cuacanya yang sejuk, makanan dan fasilitas tinggal relatif murah, bagi yang menginginkan surga dunia bisa dengan mudah dan murah memesannya kepada jaringan mucikari.

Komunitas yang mengatasnamakan Suara Puncak mengungkap wisata asal Arab rata-rata menghabiskan uang Rp50 Juta. “Sekarang sudah tidak ada hari sepi wisatawan Arab, tiap bulan selalu ramai, apalagi nanti bulan Juni, bisa dua kali lipat kunjungan wisatawan Timur Tengah,” ungkap Alex (bukan nama sebenarnya).

Menurutnya, setiap malam minimal 20 mobil rental bergerak menuju villa/hotel yang di sewa para wisatawan Arab . Satu mobil rental berisi minimal 4 gadis. Kenapa 4 gadis, karena mobil sewa sekali jalan Rp400 hingga Rp500 ribu, mereka patungan untuk membayar ongkos sewa Mobil. 

Kemudian tarif yang diberikan ke tamu arab untuk sekali “main” Rp500 ribu. Jadi dijumlah hitungannya kira-kira seperti ini, 4 wanita x 20 (mobil ) x Rp500 ribu s= Rp40 juta per malam. Dalam sebulan berarti mencapai 1,2 milyar.

Angka itu hanya prostitusi di ranah wisatawan Timur tengah yang Banyak terpusat di Desa Cibeureum, Tugu Utara dan Tugu Selatan Kecamatan Cisarua. belum hitungan prostitusi yang dilakukan wisatawan Domestik. 


Angka Rp500 ribu yang didapat PSK puncak akan di potong lagi untuk, biaya sewa mobil, mucikari dan lain-lain. Bersih sang PSK hanya menerima Rp200 ribu hingga Rp250 ribu.

Meski Puncak dikenal sebagai masyarakat yang taat beragama dan ribuan tokoh agama ada di tengah-tengah masyarakat, namun perjalanan prostitusi terus berlangsung dengan aman dan lancar.
 

Beberapa tokoh masyarakat mengatakan perlu adanya penataan dan pengaturan etika pelaku Prostitusi, namun beberapa kelompok masyrakat menentang keras adanya prostitusi di Puncak. 

Pemerintah Kabupaten Bogor pernah mengambil kebijakan Nongol Babat (Nobat) yang mengakibatkan salah satu lokalisasi di Cibogo di bongkar. Tapi, Prostitusi terselubung belum berhenti.

Para pelaku mengontrak rumah di tengah-tengah masyarakat. Siang hari mereka tidak nampak, namun menjelang malam, satu persatu atau berkelompok mereka keluar dengan kendaraan ojek atau dijemput dengan mobil rental di kost.


Prostitusi di puncak seolah sudah menjadi mata rantai ekonomi bagi sebagian warga masyarakat Puncak. Dari mulai penyedia kost-kostan, Ojek, mobil rental, penyalur, Satpam Villa/hotel. (cj)


Editor: Syaifullah
Email: bogor2002@gmail.com



Diberdayakan oleh Blogger.