Persoalan Banjir Mulai Hulu Dan Hilir Ciliwung
Banjir di Jakarta akibat persoalan hulu dan hilir yang tak tuntas
Sepanjang aliran sungai Ciliwung mengalami pendangkalan akibat erosi dan sampah. Disamping menyempitnya ruas sungai yang diserobot pemukiman maupun pengusaha serakah.
Parahnya lagi, kawasan hilir di Puncak Bogor masih dibiarkan merebaknya vila - vila yang semestinya dijadikan ruang terbuka hijau serapan air. Sementara, janji pembongkaran vila kerja sama Pemprov DKI Jakarta dan Kabupaten Bogor masih menjadi tanda tanya besar.
Curah hujan cukup tinggi menjelang hari raya yang mengguyur di kawasan Bogor dan Jakarta mengakibatkan meningkatnya debit air di sungai Ciliwung.
Perjalanan air dari hulu ke hilir hingga muara sungai Ciliwung diperkirakan memakan waktu 4-5 jam. Rabu (7/8/2013) malam, pun diumumkan bahwa ketinggian air di Bendung Katulampa sudah mencapai 80 meter, yang berstatus waspada.
Akibatnya, pada malam umat Islam asyik bertakbir menyambut hari kemenangan terdapat 5 kelurahan di Jakarta yang terendam banjir. Ironisnya, sebagian rumah sudah ditinggalkan penghuninya bermudik..
Diantaranya, di dua kawasan di Jakarta Timur yang masih tergenang banjir akibat luapan Sungai Ciliwung. Kampung Melayu, Jatinegara, ketinggian genangan air mulai 30 cm hingga 3 meter. Banjir menggenangi 8 RW atau 67 RT. Sementara itu, 6 RW atau 26 RT di Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, juga tergenang air setinggi 40 cm hingga 1,5 meter.
Di Jakarta Selatan, banjir menggenangi tiga wilayah akibat meluapnya Sungai Pesanggarahan. Di Ulujami, Pesanggrahan, air menggenang setinggi 30 cm hingga 2 meter di RT 17 dan 19 di RW 03. Banjir juga melanda Jalan Kampung Baru Blok C, Pondok Pindang, Kebayoran Lama, dengan ketinggian air 20 cm hingga 2,5 meter. Wilayah yang tergenang di tempat itu meliputi RT 03 dan 04 di RW 08. Banjir setinggi 30 cm hingga 1 meter juga muncul di RT 09/RW 03, Pondok Labu, Cilandak.
Genangan yang diakibatkan oleh guyuran hujan terdapat di Jalan Lembah Cirendeu, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, dengan ketinggian air 30-60 cm. Wilayah langganan banjir di perumahan IKPN Bintaro dilaporkan mengalami banjir 30-100 sentimeter. Adapun genangan di Pos Pengumben setinggi 30 cm.
Kepala BPBD DKI Jakarta Ery Basworo meminta seluruh pihak melakukan penanganan dan koordinasi kepada seluruh unsur yang ada. Ia berharap agar lurah, camat, PMI, SAR, Satuan Polisi Pamong Praja, pemadam kebakaran, dan warga saling bantu untuk mengatasi dampak banjir.
Persoalan ada di hulu dan hilir
Jum'at (9/8/2013) saat blusukan Idul Fitri, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan rencana normalisasi sungai yang ada di Jakarta tidak menjamin warga akan bebas dari dampak banjir. Sebab, kondisi keadaan tetap bergantung dari hulu sungai yang melintasi Jakarta.
"Memang normalisasi itu salah satu, tapi tidak menjamin (bebas banjir). Selama hujan seperti itu, dan ini (banjir) tidak setahun dua tahun, kan. Di Jakarta ini sudah puluhan tahun (banjir)," kata Jokowi, saat ditemui tengah meninjau warga korban banjir di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat siang.
Jokowi mengatakan, masalah banjir di Jakarta sendiri bergantung pada kondisi hulu sungai yang mengalir di Jakarta. Yang paling penting saat ini, lanjut Jokowi, yakni implementasi penanganan dampak banjir salah satunya dengan meninjau lapangan.
Dirinya menyampaikan mengenai masalah relokasi warga dari ancaman banjir. Namun, normalisasi tetap akan dilakukan bagi pemukiman warga yang kerap terkena banjir di tiga belas sungai yang melintasi Jakarta untuk mengurangi dampaknya. Namun beberapa lokasi diakuinya masih terkendala masalah pembebasan tanah yang belum rampung.
Jokowi menambahkan, normalisasi sungai menurutnya memang melalui kordinasi dengan pemerintah pusat dalam prosesnya. "Kuncinya yang men-drive ya memang harusnya pemerintah pusat," ujar Jokowi. (als//roykom)
Sepanjang aliran sungai Ciliwung mengalami pendangkalan akibat erosi dan sampah. Disamping menyempitnya ruas sungai yang diserobot pemukiman maupun pengusaha serakah.
Parahnya lagi, kawasan hilir di Puncak Bogor masih dibiarkan merebaknya vila - vila yang semestinya dijadikan ruang terbuka hijau serapan air. Sementara, janji pembongkaran vila kerja sama Pemprov DKI Jakarta dan Kabupaten Bogor masih menjadi tanda tanya besar.
Curah hujan cukup tinggi menjelang hari raya yang mengguyur di kawasan Bogor dan Jakarta mengakibatkan meningkatnya debit air di sungai Ciliwung.
Perjalanan air dari hulu ke hilir hingga muara sungai Ciliwung diperkirakan memakan waktu 4-5 jam. Rabu (7/8/2013) malam, pun diumumkan bahwa ketinggian air di Bendung Katulampa sudah mencapai 80 meter, yang berstatus waspada.
Akibatnya, pada malam umat Islam asyik bertakbir menyambut hari kemenangan terdapat 5 kelurahan di Jakarta yang terendam banjir. Ironisnya, sebagian rumah sudah ditinggalkan penghuninya bermudik..
Diantaranya, di dua kawasan di Jakarta Timur yang masih tergenang banjir akibat luapan Sungai Ciliwung. Kampung Melayu, Jatinegara, ketinggian genangan air mulai 30 cm hingga 3 meter. Banjir menggenangi 8 RW atau 67 RT. Sementara itu, 6 RW atau 26 RT di Kelurahan Bidaracina, Jatinegara, juga tergenang air setinggi 40 cm hingga 1,5 meter.
Di Jakarta Selatan, banjir menggenangi tiga wilayah akibat meluapnya Sungai Pesanggarahan. Di Ulujami, Pesanggrahan, air menggenang setinggi 30 cm hingga 2 meter di RT 17 dan 19 di RW 03. Banjir juga melanda Jalan Kampung Baru Blok C, Pondok Pindang, Kebayoran Lama, dengan ketinggian air 20 cm hingga 2,5 meter. Wilayah yang tergenang di tempat itu meliputi RT 03 dan 04 di RW 08. Banjir setinggi 30 cm hingga 1 meter juga muncul di RT 09/RW 03, Pondok Labu, Cilandak.
Genangan yang diakibatkan oleh guyuran hujan terdapat di Jalan Lembah Cirendeu, Lebak Bulus, Cilandak, Jakarta Selatan, dengan ketinggian air 30-60 cm. Wilayah langganan banjir di perumahan IKPN Bintaro dilaporkan mengalami banjir 30-100 sentimeter. Adapun genangan di Pos Pengumben setinggi 30 cm.
Kepala BPBD DKI Jakarta Ery Basworo meminta seluruh pihak melakukan penanganan dan koordinasi kepada seluruh unsur yang ada. Ia berharap agar lurah, camat, PMI, SAR, Satuan Polisi Pamong Praja, pemadam kebakaran, dan warga saling bantu untuk mengatasi dampak banjir.
Persoalan ada di hulu dan hilir
Jum'at (9/8/2013) saat blusukan Idul Fitri, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo mengatakan rencana normalisasi sungai yang ada di Jakarta tidak menjamin warga akan bebas dari dampak banjir. Sebab, kondisi keadaan tetap bergantung dari hulu sungai yang melintasi Jakarta.
"Memang normalisasi itu salah satu, tapi tidak menjamin (bebas banjir). Selama hujan seperti itu, dan ini (banjir) tidak setahun dua tahun, kan. Di Jakarta ini sudah puluhan tahun (banjir)," kata Jokowi, saat ditemui tengah meninjau warga korban banjir di Ulujami, Pesanggrahan, Jakarta Selatan, Jumat siang.
Jokowi mengatakan, masalah banjir di Jakarta sendiri bergantung pada kondisi hulu sungai yang mengalir di Jakarta. Yang paling penting saat ini, lanjut Jokowi, yakni implementasi penanganan dampak banjir salah satunya dengan meninjau lapangan.
Dirinya menyampaikan mengenai masalah relokasi warga dari ancaman banjir. Namun, normalisasi tetap akan dilakukan bagi pemukiman warga yang kerap terkena banjir di tiga belas sungai yang melintasi Jakarta untuk mengurangi dampaknya. Namun beberapa lokasi diakuinya masih terkendala masalah pembebasan tanah yang belum rampung.
Jokowi menambahkan, normalisasi sungai menurutnya memang melalui kordinasi dengan pemerintah pusat dalam prosesnya. "Kuncinya yang men-drive ya memang harusnya pemerintah pusat," ujar Jokowi. (als//roykom)

Tidak ada komentar