header_ads

Sabilillah: Raih Kemerdekaan Tanpa Bersimbah Darah


Merdeka berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Maharddhika "kaya, makmur dan kuat".(wikipedia) 

Kata Merdeka dalam bahasa makna kemerdekaan atau kemerdekaan Indonesia.  Di kepulauan Melayu, istilah ini telah memperoleh makna dari seorang budak dibebaskan.

Sejarah panjang masa penjajahan di Indonesia mengisahkan betapa gigihnya bangsa kita untuk mewujudkan kemerdekaan, tidak hanya dengan memekikan kata merdeka dan menghunus bambu runcing  dengan bersimbah darah, melainkan pula dengan memerdekakan hati dan fikiran seperti yang dilakukan R.A. Kartini yang mampu membebaskan bangsa kita dari kezoliman fisik maupun psikis.

Habis Gelap Terbitlah Terang menyiratkan pesan untuk senantiasa instropeksi dan evaluasi diri. Sudahkah diri benar-benar merdeka, mandiri, sejahtera serta berdaulat sebagai suatu bangsa. Ataukah selama ini telah mengkhianati cita-cita amanah para pendiri bangsa.

Terkait kemerdekaan, selama kurun waktu empat tahun penulis mengamati kehidupan masyarakat kabupaten Bogor masih sering ditemui kemerdekaan masyarakat yang semu. Mereka hidup di tanah air nenek moyang yang sudah merdeka, namun hak – hak mereka masih terbelenggu oleh tirani – tirani konspirasi politik dan penguasa (raja kecil).

Seperti halnya hak anak – anak untuk mengenyam pendidikan formal, hak warga untuk memperoleh pelayanan kesehatan, hak hidup layak dengan lapangan pekerjaan yang memadai, hak hidup aman dan nyaman, hingga hak masyarakat Bogor untuk turut pula menikmati hasil bumi dan penghasilan asli daerah (PAD).

Menyinggung apa yang telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Bogor selama lima tahun terakhir ini melalui program – program pembangunannya, masih dirasakan jauh dari aspirasi masyarakat Kabupaten Bogor  yang tersebar di 40 kecamatan. sehingga, tak heran bila masyarakat di wilayah Bogor bagian Barat sangat menginginkan terwujudnya daerah otonom baru, yakni Kabupaten Bogor Barat.

Untuk kita ingat, janji program Nongol Babat (Nobat), lalu kita lihat fakta dengan mata telanjang ternyata masih banyak praktik maksiat secara terbuka maupun tertutup (hotel, motel, vila). Pemberantasan rentenir pun setengah hati sehingga banyak petani dan masyarakat desa terlilit hutang, bantuan modal usaha bagi masyarakat pedesaan dan bantuan bagi petani masih belum dirasakan bukti konkritnya.

Sementara, pendidikan bagi anak – anak demikian memprihatinkan, sekolah gratis masih “akan” diwujudkan, faktanya tetap menguras kocek orangtua akibat ulah oknum guru maupun kepala sekolah. Demikian pula dengan potret pelayanan kesehatan, minimnya lapangan pekerjaan, pemberdayaan masyarakat dan belum transparannya penyaluran dana coorporate social responsibility (CSR) dari perusahaan – perusahaan yang ada di wilayah Kabupaten Bogor.

Lima tahun bukan waktu yang sebentar, namun untuk mewujudkan aspirasi masyarakatnya ternyata si raja kecil masih belum serius. Sebab, selama si raja kecil ini masih menikmati bisikan dan elusan bawahan yang gemar cium tangan, selama para kolega dan orang – orang dekat si raja kecil masih mengangkangi anggaran proyek – proyek pembangunan, maka aspirasi masyarakat Kabupaten Bogor hanya menjadi catatan semata, alias bersiaplah menerima janji – janji manis dari si raja kecil lagi. Entah disadari atau tidak oleh si raja kecil, sebenarnya si raja kecil pun dimanfaatkan oleh sebagian kelompoknya untuk memperkaya diri.

Kebohongan, kezoliman dan intimidasi yang dilakukan oknum - oknum itu telah membuat masyarakat tak mampu berbuat banyak. Bukan bermaksud untuk mengungkap aib seseorang maupun kelompok mana pun, melainkan sebuah fakta yang memang bukan rahasia umum lagi. Apabila pers, ormas, lsm lebih berpihak kepada kepentingan si raja kecil yang sama artinya kemerdekaan masyarakat menjadi bertambah semu.

Tidak jarang kalimat ancaman yang saya dengar bahwa "pokoknya siapa yang berseberangan dengan kekuatan 'kita' maka akan kita habisi, bila perlu kita culik" (inilah kalimat yang diucapkan seorang sejawat di Cibinong).  Kata 'kita' dimaksud dia adalah kelompok koleganya yang merasa hebat telah membentengi kepentingan si raja kecil agar tetap berkuasa. 

Tidaklah berlebihan apabila penulis mengajak masyarakat Bogor untuk meraih kemerdekaan hak dengan fikiran dan hati yang bersih tanpa harus melalui kekerasan apalagi bersimpah darah. Masyarakat Bogor harus lebih jeli menentukan nasibnya sendiri dengan memilih calon pemimpin yang baru dan benar – benar amanah untuk lima tahun kedepan dan seterusnya demi masa depan anak cucu yang lebih cerah dan lebih sejahtera serta demi kemerdekaan hak - hak segenap masyarakat Kabupaten Bogor.

Adalah kewajiban generasi bangsa dalam mengisi kemerdekaan Republik Indonesia. Dengan senantiasa mendekatkan diri kepada Tuhan dan usaha yang benar mari perangi kemiskinan, kebodohan, kemelaratan, dan ketidak-adilan di lingkungan dengan tugas fungsi dan peran masing secara baik dan benar. 

Ingat, lima tahun kedepan dan seterusnya ditentukan oleh Anda sendiri di bilik suara pada 8 September 2013 mendatang, jadi hendaknya MEMILIH CALON PEMIMPIN YANG AMANAH dan jangan pilih calon pemimpin yang mengumbar janji. Pertahankan Hak Anda! (red)





Penulis: Sabilillah, Jurnalis Media Radio & Online



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.