Tedi Mulyadi: Pendekatan Pembelajaran Metode Sentra
Pendekatan Pembelajaran Menggunakan Metode Sentra Untuk Anak Usia Dini.
Pendapat Jean Piaget (1972); Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri.
Guru tentu saja bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dalam memahami sesuatu ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukannya sendiri.
Kita tidak mengetahui pengetahuan apa yang paling diperlukan anak dimasa depan, oleh karena itu tidak ada gunanya untuk mengajarkan sekarang, sebaiknya kita membantu anak sekarang untuk makin mencintai dan makin pandai belajar sehingga dapat belajar segala sesuatu pada saat membutuhkan.
Konsep Sentra
Sentra berasal dari kata Centre, artinya Pusat. Sentra dikenal dengan sebutan Sentra dan waktu lingkaran (Beyond Centres and Circle Time atau BCCT). Dr. Pamela Plelps, seorang penemu dan sekaligus pengembang konsep Pendekatan Pembelajaran Menggunakan Metode Sentra Untuk Anak Usia Dini.
Sejak tahun 2004 konsep tersebut diadopsi oleh Departemen Pemdidikan Nasional sekaligus beliau diangkat sebagai konsultan berkenaan dengan penerapannya di Indonesia, (sejak tahun 1996 sampai sekarang beliau masih menjadi konsultan di Sekolah Al-Falah Ciracas Jakarta Timur).
Sentra memadukan seluruh materi yang akan guru sampaikan kepada anak melalui kegiatan yang sudah direncanakan, terorganisir secara teratur, sistematis, dan terarah sehingga anak dapat membangun kemampuan menganalisa dan mempunyai kemampuan dalam mengambil kesimpulan.
Prinsip dasar pendidikan anak usia dini
Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini bertumpu pada sejumlah prinsip;
Pertama, pendidikan berorientasi pada kebutuhan anak. Dengan demikian, setiap kegiatan pembelajaran harus selalu mengacu pada tujuan pemenuhan kebutuhan perkembangan anak secara individu.
Kedua, dunia anak adalah dunia bermain, maka selayaknya konsep pendidikan untuk anak usia dini dirancang dalam bentuk bermain. Intinya, bermain adalah belajar, dan belajar adalah bermain. Anak belajar melalui main, main yang menyenangkan.
Melalui Sentra, proses pembelajaran dilakukan dengan menempatkan siswa pada posisi yang proporsional. Anak dirangsang untuk secara aktif melakukan kegiatan bermain sambil belajar. Perlu ditekankan bahwa bermain yang menyenangkan dapat merangsang anak untuk melakukan eksplorasi dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya (happy learning). Sehingga, anak dapat menemukan pengetahuan dari benda-benda yang dimainkannya.
Ketiga, kegiatan pembelajaran dirancang secara cermat untuk membangun sistimatika kerja. Bagaimana anak membuat pilihan-pilihan dari serangkaian kegiatan, fokus pada apa yang dikerjakan dan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang dia telah mulai dengan tuntas.
Keempat, kegiatan pembelajaran berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup anak, yaitu membantu anak menjadi mandiri, disiplin, mampu bersosialisasi dan memiliki keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak.
Kelima, pendidikan dilaksanakan secara bertahap dan berulang - ulang dengan mengacu pada prinsip perkembangan anak. Stimulus pendidikan bersifat menyeluruh, mencakup semua aspek perkembangan. Karena itu, setiap kegiatan harus dapat mengembangkan atau membangun berbagai perkembangan atau kecerdasan anak. Dalam hal ini guru memfasilitasi agar semua aspek perkembangan anak berkembang secara optimal.
Keenam, dalam kegiatan main anak akan belajar lebih banyak bila mendapat pijakan dari guru. Kegiatan main di Sentra untuk anak usia dini dikelompokan dalam tiga jenis main, yaitu main sensorimotor, main peran dan main pembangunan. (bersambung)
Penulis Tedi Mulyadi .S.Pd.
Guru Sekolah Al-Falah Jakarta
Warga Babakan Raya, Desa Babakan Kecamatan Dramaga, Bogor.
Pendapat Jean Piaget (1972); Anak seharusnya mampu melakukan percobaan dan penelitian sendiri.
Guru tentu saja bisa menuntun anak-anak dengan menyediakan bahan-bahan yang tepat, tetapi yang terpenting agar anak dalam memahami sesuatu ia harus membangun pengertian itu sendiri, ia harus menemukannya sendiri.
Kita tidak mengetahui pengetahuan apa yang paling diperlukan anak dimasa depan, oleh karena itu tidak ada gunanya untuk mengajarkan sekarang, sebaiknya kita membantu anak sekarang untuk makin mencintai dan makin pandai belajar sehingga dapat belajar segala sesuatu pada saat membutuhkan.
Konsep Sentra
Sentra berasal dari kata Centre, artinya Pusat. Sentra dikenal dengan sebutan Sentra dan waktu lingkaran (Beyond Centres and Circle Time atau BCCT). Dr. Pamela Plelps, seorang penemu dan sekaligus pengembang konsep Pendekatan Pembelajaran Menggunakan Metode Sentra Untuk Anak Usia Dini.
Sejak tahun 2004 konsep tersebut diadopsi oleh Departemen Pemdidikan Nasional sekaligus beliau diangkat sebagai konsultan berkenaan dengan penerapannya di Indonesia, (sejak tahun 1996 sampai sekarang beliau masih menjadi konsultan di Sekolah Al-Falah Ciracas Jakarta Timur).
Sentra memadukan seluruh materi yang akan guru sampaikan kepada anak melalui kegiatan yang sudah direncanakan, terorganisir secara teratur, sistematis, dan terarah sehingga anak dapat membangun kemampuan menganalisa dan mempunyai kemampuan dalam mengambil kesimpulan.
Prinsip dasar pendidikan anak usia dini
Penyelenggaraan pendidikan anak usia dini bertumpu pada sejumlah prinsip;
Pertama, pendidikan berorientasi pada kebutuhan anak. Dengan demikian, setiap kegiatan pembelajaran harus selalu mengacu pada tujuan pemenuhan kebutuhan perkembangan anak secara individu.
Kedua, dunia anak adalah dunia bermain, maka selayaknya konsep pendidikan untuk anak usia dini dirancang dalam bentuk bermain. Intinya, bermain adalah belajar, dan belajar adalah bermain. Anak belajar melalui main, main yang menyenangkan.
Melalui Sentra, proses pembelajaran dilakukan dengan menempatkan siswa pada posisi yang proporsional. Anak dirangsang untuk secara aktif melakukan kegiatan bermain sambil belajar. Perlu ditekankan bahwa bermain yang menyenangkan dapat merangsang anak untuk melakukan eksplorasi dengan menggunakan benda-benda yang ada di sekitarnya (happy learning). Sehingga, anak dapat menemukan pengetahuan dari benda-benda yang dimainkannya.
Ketiga, kegiatan pembelajaran dirancang secara cermat untuk membangun sistimatika kerja. Bagaimana anak membuat pilihan-pilihan dari serangkaian kegiatan, fokus pada apa yang dikerjakan dan berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan yang dia telah mulai dengan tuntas.
Keempat, kegiatan pembelajaran berorientasi pada pengembangan kecakapan hidup anak, yaitu membantu anak menjadi mandiri, disiplin, mampu bersosialisasi dan memiliki keterampilan dasar yang berguna bagi kehidupannya kelak.
Kelima, pendidikan dilaksanakan secara bertahap dan berulang - ulang dengan mengacu pada prinsip perkembangan anak. Stimulus pendidikan bersifat menyeluruh, mencakup semua aspek perkembangan. Karena itu, setiap kegiatan harus dapat mengembangkan atau membangun berbagai perkembangan atau kecerdasan anak. Dalam hal ini guru memfasilitasi agar semua aspek perkembangan anak berkembang secara optimal.
Keenam, dalam kegiatan main anak akan belajar lebih banyak bila mendapat pijakan dari guru. Kegiatan main di Sentra untuk anak usia dini dikelompokan dalam tiga jenis main, yaitu main sensorimotor, main peran dan main pembangunan. (bersambung)
Penulis Tedi Mulyadi .S.Pd.
Guru Sekolah Al-Falah Jakarta
Warga Babakan Raya, Desa Babakan Kecamatan Dramaga, Bogor.
Tidak ada komentar