header_ads

Pura Parahyangan Agung Jagatkartta

BERITA BOGOR - Lokasi untuk menuju Pura Parahyangan Agung Jagatkartta diwilayah Kecamatan Tamansari Ciapus Kabupaten Bogor memang terbilang cukup jauh, akan tetapi kelelahan selama dalam perjalanan menuju lokasi akan terobati oleh keindahan Pura yang berlatar keindahan gunung salak endah.

Pembangunan Pura Parahyangan Agung Jagatkartha yang memiliki arti sebagai Alam Dewata yang sangat sempurna kesuciannya, ini bukan tanpa alasan di gunung salak ini karena ada yang percaya bahwa prabu siliwangi dan pengikut nya menghilang disini dan sebagai penghormatan terhadap kerajaan Padjadjaran (kerajaan Hindu Terakhir di Parahyangan) maka umat hindu memutuskan membangun terlebih dahulu Candi Patung Macan berwarna putih hitam sebelum pura ini di bangun.

Area Pura Jagatkarta juga terdapat Pura Melanting dan Pura Pasar Agung yang di gunakan umat hindu untuk berdoa memohon rejeki dan penglaris. Semisal, umat nya yang berdagang maka untuk kelancaran dagangan nya bisa berdoa di pura ini. Pura yang dibangun pada tahun 1995 ini merupakan lokasi tempat petilasan terakhir kalinya Prabu Siliwangi sebagai penguasa kerajaan sunda pajajaran. 

Untuk menghormati sang prabu maka dibangunlah Pura Induk yang berfungsi sebagai penghormatan atau menghormati leluhur. Didalam Pura Induk juga dilengkapi patung macan kumbang. Pura Induk tersebut dibagi menjadi dua bagian, yakni bagian luar dan dalam, dimana pada bagian luar berfungsi sebagai gerbang dan bagian dalam berfungsi sebagai tempat sembahyang orang-orang hindu. Hingga dalam perkembangannya, Pura yang diresmikan pada tahun 2005 oleh pemerintah ini masih menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar ataupun wisatawan lokal dan mancanegara. 

Penelusuran dilokasi, Jum'at (18/4/2014), Kawasan ini juga diberlakukan larangan keras dari penjaga atau kuncen, bahwa dilarang masuk kepada perempuan yang sedang mengalami menstruasi. Larangan ini dikarenakan lokasi bersejarah ini merupakan tempat suci untuk berdo'a dan bersembahyang. Selain itu, pengunjung akan diberikan ikat pinggang berwarna kuning sebagai penghargaan terhadap leluhur atau simbol. Tak hanya itu, saat ini para pengunjung tidak lagi diperbolehkan memasuki area dalam Pura Induk agar tempat suci tersebut tetap terjaga kesuciannya dari ulah pengunjung yang tidak menghargai keberadaan tempat bersejarah.  (eric) Editor: Annisa



Diberdayakan oleh Blogger.