Ahmad Diani, Air Sebagai Sumber Kehidupan
Feature Kunjungan Walikota pada Asia-Pasific Local Authorities Water Forum on Istanbul Water ConsensusAir dalam konteks sekarang, selalu bertutur dalam dua sisi. Sisi pertama, air sebagai sumber daya alam vital bagi kehidupan manusia yang jumlahnya relatif melimpah. Sisi ke dua, dunia pun tengah gusar karena dilanda kekhawatiran krisis air. Dan sisi ke dua ini, lebih banyak mewarnai diskusi atau berita-berita media massa dari sudut New York, Istanbul, Paris, Abu Dhabi, Kairo, sampai Jakarta.
Hal itu sangatlah beralasan manakala ketika menengok beberapa data empirik tentang akses dan ketersediaan air bersih. Data Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD) misalnya. Menurut OECD, ada sebanyak 2,5 miliar penduduk dunia yang tidak mempunyai akses ke air bersih dan sebagian besarnya atau sekitar 340 juta berada di Afrika. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat menjadi 3,9 miliar jiwa pada 2030, yang sebagian besar akan terjadi di Cina dan Asia Selatan.
Akibat dari kondisi ini adalah semakin memburuknya kondisi kesehatan di banyak negara berkembang karena 80 persen penyakit di negara sedang berkembang terkait dengan air, yang salah satunya diare. Tercatat hampir tiga juta kematian dini per tahun atau 5.000 anak-anak meninggal setiap hari atau seorang anak meninggal setiap 17 detik karena buruknya akses terhadap air bersih.
Kekhawatiran global ini pada akhirnya melahirkan sejumlah aksi nyata dari berbagai pihak. Salah satunya kelahiran World Water Forum. Boleh dibilang, WWF adalah forum internasional terbesar yang mengangkat isu tentang air. Pada pertemuan ke lima WWF di Istanbul-Turki yang berlangsung tanggal 16-22 Maret 2009, tercatat sekitar 30.000 peserta dari kurang lebih 190 negara. Dan delegasi Kota Bogor yang dipimpin langsung Walikota Bogor, Diani Budiarto, tercatat menjadi bagian dari forum tersebut.
Saat itu, kata Diani, ada beberapa isu penting yang dibahas dalam pertemuan WWF ke lima tersebut. “Terutama lahirnya Istanbul Water Consensus yang ditandatangani oleh kurang lebih 600 walikota dari berbagai negara,” terang Diani, beberapa waktu lalu.
Menurut Diani, salah satu komitmen tersebut adalah komitmen dan pemahamanan setiap walikota bahwa akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik adalah hak dasar setiap manusia. “Maka, berangkat dari komitmen tersebut kita diharapkan mampu melahirkan kebijakan dan langkah untuk terus menciptakan akses yang baik terhadap air bersih dan sanitasi yang baik,” jelas Diani.
Dari Istanbul, hasil WWF ke lima berupa Istanbul Water Consensus, tetap menjadi tema sentral pada forum serupa di tingkat Asia Pasific. Adalah Asia-Pasific Local Authorities Water Forum on Istanbul Water Consensus yang berlangsung di Daegu, Korea Selatan; forum yang dimaksud. Forum yang berlangsung selama lima hari dari tanggal 12-16 April 2011 ini juga dihadiri Walikota Bogor bersama Dirut PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Memet Gunawan.
Komitmen Kota Bogor
Sejauh ini, Pemerintah Kota Bogor, kata Diani, telah melakukan sejumlah upaya untuk mewujudkan komitmen dari ke dua forum tersebut. Mulai dari terus menerus melakukan perluasan layanan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sampai upaya pemeliharaan kawasan bantaran sungai.
Menurut Diani, sampai saat ini, Kota Bogor memang masih diberi kemudahan untuk memperoleh air bersih. “Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan, hampir 87 % penduduk Kota Bogor yang telah mendapatkan akses air bersih dari layanan PDAM dan sumber air bersih lain seperti sumur,” bebernya.
Namun, kata Diani, hal itu bukan jaminan kita akan selamanya memperoleh air bersih dengan mudah. Karena ada beberapa fakta yang mengkhawatirkan terkait ketersediaan air bersih di Kota Bogor. “Kondisi Daerah Aliran Sungai contohnya. Lahan di sekitar DAS Ciliwung dan Cisadane yang tadinya ruang terbuka hijau telah berkembang menjadi kawasan terbangun,” paparnya.
Belum lagi, sambung Diani, berdasarkan hasil penelitian, kualitas air sungai di Kota Bogor kurang memenuhi persyaratan bahkan untuk peruntukkan air kelas dua atau untuk budidaya air tawar, sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pada umumnya, parameter yang melebihi kriteria di dua aliran sungai besar di kota Bogor adalah kadar BOD, MBAS, Sulfat, Fosfat, Nitrat dan jumlah total Koliform.
Maka, harus ada upaya terus menerus yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak itu agar tidak berkembang lebih lanjut. “Upaya-upaya pemerintah harus didukung pula dengan kesediaan semua pihak untuk menjaga aliran sungai dari tindakan pembuangan limbah secara berlebihan, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga,” harap Diani menutup pembicaraan beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Korea. ARW
Akibat dari kondisi ini adalah semakin memburuknya kondisi kesehatan di banyak negara berkembang karena 80 persen penyakit di negara sedang berkembang terkait dengan air, yang salah satunya diare. Tercatat hampir tiga juta kematian dini per tahun atau 5.000 anak-anak meninggal setiap hari atau seorang anak meninggal setiap 17 detik karena buruknya akses terhadap air bersih.
Kekhawatiran global ini pada akhirnya melahirkan sejumlah aksi nyata dari berbagai pihak. Salah satunya kelahiran World Water Forum. Boleh dibilang, WWF adalah forum internasional terbesar yang mengangkat isu tentang air. Pada pertemuan ke lima WWF di Istanbul-Turki yang berlangsung tanggal 16-22 Maret 2009, tercatat sekitar 30.000 peserta dari kurang lebih 190 negara. Dan delegasi Kota Bogor yang dipimpin langsung Walikota Bogor, Diani Budiarto, tercatat menjadi bagian dari forum tersebut.
Saat itu, kata Diani, ada beberapa isu penting yang dibahas dalam pertemuan WWF ke lima tersebut. “Terutama lahirnya Istanbul Water Consensus yang ditandatangani oleh kurang lebih 600 walikota dari berbagai negara,” terang Diani, beberapa waktu lalu.
Menurut Diani, salah satu komitmen tersebut adalah komitmen dan pemahamanan setiap walikota bahwa akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik adalah hak dasar setiap manusia. “Maka, berangkat dari komitmen tersebut kita diharapkan mampu melahirkan kebijakan dan langkah untuk terus menciptakan akses yang baik terhadap air bersih dan sanitasi yang baik,” jelas Diani.
Dari Istanbul, hasil WWF ke lima berupa Istanbul Water Consensus, tetap menjadi tema sentral pada forum serupa di tingkat Asia Pasific. Adalah Asia-Pasific Local Authorities Water Forum on Istanbul Water Consensus yang berlangsung di Daegu, Korea Selatan; forum yang dimaksud. Forum yang berlangsung selama lima hari dari tanggal 12-16 April 2011 ini juga dihadiri Walikota Bogor bersama Dirut PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor, Memet Gunawan.
Komitmen Kota Bogor
Sejauh ini, Pemerintah Kota Bogor, kata Diani, telah melakukan sejumlah upaya untuk mewujudkan komitmen dari ke dua forum tersebut. Mulai dari terus menerus melakukan perluasan layanan PDAM Tirta Pakuan Kota Bogor sampai upaya pemeliharaan kawasan bantaran sungai.
Menurut Diani, sampai saat ini, Kota Bogor memang masih diberi kemudahan untuk memperoleh air bersih. “Dari data yang dimiliki Dinas Kesehatan, hampir 87 % penduduk Kota Bogor yang telah mendapatkan akses air bersih dari layanan PDAM dan sumber air bersih lain seperti sumur,” bebernya.
Namun, kata Diani, hal itu bukan jaminan kita akan selamanya memperoleh air bersih dengan mudah. Karena ada beberapa fakta yang mengkhawatirkan terkait ketersediaan air bersih di Kota Bogor. “Kondisi Daerah Aliran Sungai contohnya. Lahan di sekitar DAS Ciliwung dan Cisadane yang tadinya ruang terbuka hijau telah berkembang menjadi kawasan terbangun,” paparnya.
Belum lagi, sambung Diani, berdasarkan hasil penelitian, kualitas air sungai di Kota Bogor kurang memenuhi persyaratan bahkan untuk peruntukkan air kelas dua atau untuk budidaya air tawar, sesuai ketentuan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Pada umumnya, parameter yang melebihi kriteria di dua aliran sungai besar di kota Bogor adalah kadar BOD, MBAS, Sulfat, Fosfat, Nitrat dan jumlah total Koliform.
Maka, harus ada upaya terus menerus yang dilakukan untuk mengantisipasi dampak itu agar tidak berkembang lebih lanjut. “Upaya-upaya pemerintah harus didukung pula dengan kesediaan semua pihak untuk menjaga aliran sungai dari tindakan pembuangan limbah secara berlebihan, baik limbah industri maupun limbah rumah tangga,” harap Diani menutup pembicaraan beberapa waktu lalu sebelum berangkat ke Korea. ARW
Tidak ada komentar