header_ads

Dialog Kampung Kelinci di Radio 93 Teman FM

“Berternak kelinci memang sangat cocok dikembangkan di kampung kami. Apalagi lahan pertaniannya masih cukup luas sehingga untuk mencari sumber bahan pakan hijau tidak terlalu sulit," kata Aris Rizal.

Hal itu dikatakan peternak kelinci asli Desa Gunung Mulya Kecamatan Tenjolaya, Aris Rizal, dan Suminta Riyahya dalam dialog interaktif "Kampung Kelinci" pada acara Berbagi Informasi Talenta Bogor (Berita Bogor) pada radio 93 TEMAN FM Live, Jum'at 30 September 2011, pukul 15.00-16.00 wib.

Acara ini juga menghadirkan narasumber Ketua Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI), Wahyu Darsono, dan Pengelola Big Rabbit Farm, Jeffry Pakpahan dalam rangka mempromosikan Kampung Kelinci dan potensi yang ada, yang dipandu penyiar At-Anggara dan Vilda Silvia.

Menurut Wahyu Darsono ada banyak cara untuk memberdayakan masyarakat untuk mengembangkan perekonomian. Salah satunya adalah apa yang telah dilakukan warga Desa Gunung Mulya Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor sebagai Kampung Kelinci.

Alasan pengembangan usaha peternakan kelinci adalah untuk pemberdayaan masyarakat yang kurang mampu. Terlebih lagi untuk bahan makanan kelinci yang tidak terlalu sulit dan mahal yaitu berupa rumput.

Untuk Pakan kelinci adalah rumput, biasanya mencari sendiri karena di lingkungan sekitar banyak, dan sebelum diberikan ke kelinci harus dibiarkan dahulu sampai layu karena rumput dalam kondisi segar dan basah mengandung banyak air sehingga bisa mengakibatkan kelinci kembung yang cukup riskan untuk kesehatan kelinci.

Penyakit Kelinci, hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah kebersihan kandang karena akan menjauhkan unsur penyakit, terutama gudik/korengan. Kelinci sangat riskan dengan penyakit gudik, bila sudah terlanjut terjangkiti maka tinggal disuntik dengan wermaisin sehingga koreng bisa langsung kering.

Yang kedua, harus teliti dalam mengamati kesehatan kelinci. Apabila kondisi kotoran kelinci dalam kondisi cair, harus segera ditangani. Kesulitan yang dihadapi dalam beternak kelinci, mayoritas peternak mengalami kesulitan dalam proses melahirkan anakan-anakan kelinci, terutama pada kondisi cuaca yang tidak menentu atau pergantian suhu yang signifikan.

Bila kondisi stabil dalam kondisi suhu panas atau dingin dalam waktu yang cukup lama, kondisi ini bagus dan mempermudah bagi indukan yang mau melahirkan. Tetapi bila kondisi suhu yang berubah-ubah cukup drastis, hal ini akan menyulitkan indukan ketika mau melahirkan.

Usai siaran mereka berpose bersama Sekretaris Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) Kabupaten Bogor, Sony Abdul Syukur di studio Radio Siaran Pemerintah Daerah (RSPD) Kabupaten Bogor, atau lebih dikenal Radio 93 Teman FM, yang terletak di jalan Bersih Komplek Perkantoran Pemda Kabupaten Bogor, Cibinong.

Turun Temurun

Sejak puluhan tahun silam, Kampung Budi Asih yang terletak di Desa Gunung Mulya (Desa Pemekaran Gunung Malang, RED) bertebaran kelinci-kelinci disetiap pekarangan rumah warga, bahkan hingga kedalam rumah pemiliknya.

Desa Gunung Mulya yang memiliki luas kurang lebih 388,535 hektar, memiliki jumlah penduduk 6.764 jiwa dan 1827 kepala keluarga ini merupakan wilayah pemekaran Desa Gunung Malang memiliki komunitas peternak kelinci yang sudah turun temurun.

Komunitas itu tersebar di lingkungan Rw01, 02, 03, 04, 10 terletak di kaki gunung Salak Bogor dan berbatasan dengan Desa Setu Daun (sebelah utara), Desa Tapos II (sebelah barat), Desa Gunung Malang (sebelah selatan), dan Desa Suka Jadi Kecamatan Taman Sari ( sebelah timur ).

Dikisahkan, pada masa itu rumah warga berbentuk rumah panggung tiang pendek, sehingga kelinci-kelinci itu dengan sendirinya menerobos kolong rumah sebagai sarang mereka dan akhirnya beranak pinak.

Pada tahun 2000-an, setiap minggu mulai berdatangan orang-orang dari perkotaan, termasuk para tengkulak untuk membeli kelinci di desa tersebut. Dialah, Aris Rizal, yang saat itu sebagai supplier kelinci yang berasal dari peternak-peternak di desanya.

Oleh masing-masing pemilik rumah, kelinci itu pun dipelihara dan diberi makan berupa daun umbi dan hijauan lainnya pada malam hari saat kelinci-kelinci tersebut keluar untuk mencari makan. Ketika itu keberadaan kelinci-kelinci ini bukan komoditi yang diperjual belikan, kecuali kebutuhan konsumsi protein hewani bagi keluarga.

Hal ini berlangsung bertahun-tahun dan turun temurun. Hingga sekitar tahun 1990-an mulai adanya inisiatif warga untuk membuat kandang-kandang kelinci dengan cara-cara tradisional yang bukan hanya untuk keperluan konsumsi protein hewani bagi keluarga semata, melainkan untuk diperjual-belikan, bahkan menjadi mata pencaharian warga.

“Saat itu per ekor kelinci hanya dihargai Rp.2000,- per ekor, uang yang terkumpul dibelanjakan bahan pokok sembako oleh masing-masing peternak,” katanya saat dialog interaktif di radio 93 Teman FM, Jum’at (30/9/2011) petang.

Aris Rizal lebih lanjut menceritakan, pada pertengahan tahun 2009 pernah datang petugas dari Kesehatan Hewan, Dinas Peternakan dan Perikanan (Keswan Disnakkan) Kabupaten Bogor ke lokasi peternakannya. Petugas itu memberikan masukan-masukan cara bertenak secara benar.

“Saya lupa nama petugas itu, tapi dia sudah banyak membuka wawasan saya soal berternak dengan benar termasuk membuat kelompok tani ternak agar kesejahteraan meningkat pula,” tambahnya.

Sejak itulah, mulai dibimbing untuk mewujudkan Kelompok Tani Ternak Kelinci di desa tersebut, yang hingga kini seluruh peternak yang ada adalah menjadi anggota aktif, yang hingga kini memperoleh binaan dari Koperasi Peternak Kelinci (KOPNAKCI).

Tak jelas siapa orang pertama yang menjuluki kampong itu sebagai “Kampung Kelinci”. “Sebab, kebanyakan orang dari perkotaan yang datang menyebutnya kampung kelinci, bukan menyebut kampung Budi Asih,” kenangnya.

Hadapi Kendala

Sembilan puluh persen warga di Kampung Budi Asih Desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor telah sepakat untuk merubah paradigma jual beli anak kelinci menjadi budi daya ternak daging kelinci.

Hal ini terungkap dari seorang peternak, yang juga Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Budi Asih, Aris Rizal. Setelah puluhan tahun lamanya sebagian besar peternak setempat hanya mengandalkan cara-cara tradisional yang sudah turun temurun.

Lokasi geografis yang mendukung dan warisan turun temurun itulah yang menjadikan Kampung ini sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci, disamping sumber bahan pakan tersedia melimpah. Maka tak heran bila kampung itu dijuluki "Kampung Kelinci".

“Berternak kelinci memang sangat cocok dikembangkan di kampung kami. Apalagi lahan pertaniannya masih cukup luas sehingga untuk mencari sumber bahan pakan hijau tidak terlalu sulit," kata Aris Rizal.

Menurutnya, beternak kelinci tidak terlalu sulit asalkan bisa secara rutin dapat menyediakan pakan serta membuatkan kandang yang nyaman bagi hewan ternak itu. "Kalau belum biasa memelihara, memang akan ada anak kelinci yang mati. Namun kalau sudah menggeluti secara benar maka peningkatan jumlah kelinci akan pesat," ujarnya.

Dia mengatakan, di desanya banyak warga yang memiliki usaha keluarga berupa ternak kelinci dan rata-rata setiap rumah tangga memiliki puluhan ekor kelinci. "Meski belum memenuhi target 100 ekor per bulan, namun kami akan berupaya mencapainya untuk memenuhi permintaan-permintaan,” pungkasnya.

Hal senada dikatakan Suminta Riyahya, Ketua Kelompok Tani Ternak Kelinci Wahana Taruna Karya (Watak) di desa yang sama.Dia pun mengungkapkan kendala yang dihadapi para peternak kelinci ialah modal dan bibit kelinci yang unggul, serta sumber pakan ternak disaat musim hujan tiba.

“Kelinci banyak yang mati dimusim hujan lantaran sumber pakannya tidak cocok yang dapat mengakibatkan penyakit kembung atau buang air cair pada kelinci, sehingga kebanyakan warga menjual ternaknya, lalu membeli bibit lagi setelah musim hujan usai, dan begitu seterusnya,” ungkapnya.

Para peternak di desanya memelihara kelinci hanya berskala kecil meskipun dapat dikatakan sebagai matapencaharian keluarga, apalagi kelinci dapat berkembang biak hingga enam bulan, sedangkan permintaannya membutuhkan waktu enam bulan sekali.

Binaan Koperasi

Ketua KOPNAKCI, Wahyu Darsono mengatakan pencanangan Kampung Kelinci di desa Gunung Mulya, Kecamatan Tenjolaya, Kabupaten Bogor ini didasari oleh potensi wilayah tersebut yang sebagian besar bermatapencaharian sebagai peternak kelinci.

“Tentunya pencanangan itu bertujuan mempromosikan potensi dan peluang usaha ternak kelinci sebagai penyedia daging guna pemenuhan protein hewani bagi keluarga,” kata Wahyu Darsono.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh adanya program swasebada daging nasional yang pada dasarnya adalah kegiatan peningkatan populasi ternak dan pemenuhan kebutuhan protein hewani secara mandiri dengan mengurangi ketergantungan impor.

“Sehingga di perlukan diversifikasi penyediaan sumber protein hewani selain dari ternak besar maupun unggas. Kelinci merupakan ternak alternatif yang mempunyai peluang sebagai penyedia sumber protein hewani yang sehat dan berkualitas,” imbuh pria berkacamata ini.

Tentang KOPNAKCI yang berdiri secara resmi tanggal 17 Mei 2011 dan dibentuk dengan dasar pertimbangan adanya komoditas ternak kelinci saat ini sudah diandalkan sebagai substitusi penghasil protein hewani (daging) dalam peningkatan kualitas SDM masyarakat Indonesia, dan sudah menjadi perhatian dan dicanangkan pemerintah dalam program pengembangan dan realisasinya.

“Oleh karenanya, ntuk mencapai skala usaha ekonomis dan kapasitas produksi yang besar, maka dipertlukan wadah sebagai payung bersama dalam menjalankan kegiatan usaha ternak kelinci, pusat informasi, akses pemasaran dan pembinaan/pemberdayaan kelembagaan usaha tani ternak kelinci,” jelas ketua KOPNAKCI ini.

Lebih lanjut diterangkan, koperasi merupakan wadah yang tepat, selain sedang digalakan gerakan sadar koperasi berbasis komoditas (one village, one product) oleh pemerintah, kelembagaan koperasi juga sesuai dengan prinsip dan orientasi pemberdayaan ekonomi kerakyatan.

Selain itu, perintis pembentukan KOPNAKCI adalah para SMD Tahun 2010 komoditas kelinci diwilayah Bogor dan beberapa petani peternak kelinci lainnya.

Koperasi yang dibentuk diharapkan akan menjadi wadh integrasi usaha ternak kelinci secara komprehensif, sehingga mampu mendukung daya saing dalam skala ekonomis yang sesuai dengan kondisi dan situasi pasar serta relevan dengan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat.

Disebutkan, jumlah anggota KOPNAKCI per tanggal 24 September 2011 sudah mencapai 60 Orang dari 21 Kelompok Peternak,” tambahnya.


Rabbit Village

The original Rabbit Breeders Mountain Village District Tenjolaya Mulya, Aris Rizal, and Suminta Riyahya as a resource of interactive dialogue Rabbit Village (Kampung Kelinci) at the Information Sharing Talents Bogor (Bogor News) on radio 93 FM Live Chat, Friday 30 September 2011, at 15.00- 16:00 pm.

The event is also Chairman of the keynote speakers Rabbit Breeders Cooperative (KOPNAKCI), Revelation Darsono, and Big Rabbit Farm Manager, Jeffry Pakpahan in order to promote "Kampung Kelinci" and the potential that exists, which is guided At-Anggara broadcaster and Vilda Silvia.

According to Revelation Darsono there are many ways to empower communities to develop the economy. One of them is what has made citizens of the Village of Mount Mulya Tenjolaya District, Bogor Regency as Kampung Kelinci.


Reason rabbit breeding enterprise development is to empower underprivileged communities. More over for rabbit food that is not too difficult and expensive that is in the form of grass.

To feed the rabbit is grass, usually find themselves because of the environment around a lot, and before it is given to the rabbits should be allowed to advance until softened, because the grass in wet conditions and contain lots of fresh water that can cause bloating rabbits are quite risky for the health of rabbits.

Rabbits disease, the most important thing to note is the cleanliness of the cage as it will keep the element of diseases, especially scabies / korengan. Rabbits are very risky with the disease scabies, if already infected terlanjut then injected with live wermaisin that can be directly dried scabs.

Secondly, it should be scrupulous in observing the health of rabbits. If the condition of rabbit droppings in the liquid state, should be addressed. Difficulties encountered in raising rabbits, the majority of farmers have difficulty in childbirth puppy-puppy rabbits, especially in the uncertain weather conditions or a significant change of temperature.

If the condition is stable in hot or cold temperature conditions in a long time, the condition is good and make it easier for breeders who want to give birth. But when the temperature conditions are changing quite dramatically, this will complicate the sires when labor.

After the broadcast they pose with the Secretary Office of Communications and Information (Diskominfo) Bogor Regency, Sony Abdul Gratitude in the studio of Radio Broadcasting Local Government (RSPD) Bogor regency, or better known as Radio's 93 FM, which is located in the street Clean Bogor District Government Offices Complex, Cibinong.

Hereditary

Since tens of years ago, Kampung Budi Asih located in the village of Mount Mulya (Gunung Malang Village Expansion, RED) rabbits were scattered in every citizen's yard, even up into the house owners.

Mount Mulya village which has an area of
​​approximately 388.535 acres, has a population of 6764 people and 1827 head of this family is the expansion of Gunung Malang village has a community of rabbit breeders that have been hereditary.

Communities that are spread in the environment Rw01, 02, 03, 04, 10 located at the foot of Salak mountain in Bogor and is bordered by Setu Leaf Village (north), Desa Tapos II (west), Village of Mount Malang (south), and the village of Suka So Taman Sari Sub-district (east).

Narrated, in the shape of a house that houses the stage a short pole, so that the rabbits themselves through pit houses as their nest and eventually breed.

In the 2000s, every week people started coming from urban areas, including the middlemen to buy a rabbit in the village. He is, Aris Rizal, who at that time as suppliers from rabbit breeder-farmers in his village.

By individual homeowners, the rabbit was maintained and fed in the form of leaves and tubers of other forage at night when the rabbits are out to find food. When the existence of the rabbits are not commodities to be traded, unless the need for family consumption of animal protein.

This went on for years and generations. Until sometime in the 1990s began a citizen initiative to make rabbit cages with traditional ways that are not only for the consumption of animal protein for the family alone, but to be traded, even the livelihood of citizens.

"It was a tail rabbit Rp.2000 only appreciated, - per head, the money collected is spent staple groceries by each farmer," he said during an interactive dialogue in the 93's FM radio on Friday (09/30/2011) evening.

Aris Rizal further told, in the middle of 2009 never came officers of Animal Health, Animal Husbandry and Fisheries (Keswan Disnakkan) to the location of his ranch in Bogor District. The officer gave way bertenak inputs correctly.

"I forgot the name of the officer, but he has a lot to open my horizons about the breed properly including livestock farmer groups in order to create increased prosperity," he added.

Since then, began to be led to realize Rabbits Livestock Farmers in the village, which until now all breeders that there is an active member, who until now have built from the Rabbit Breeders Cooperative (KOPNAKCI).

It was unclear who the first person to dub it as a village "Kampung Rabbit". "Because, most people who come from urban village called rabbit, not a village called Budi Asih," he recalls.

Obstacles

Ninety percent of residents in Kampung Budi Mulya Asih Mountain Village, District Tenjolaya, Bogor Regency has agreed to change the paradigm of buying and selling of children into rabbit meat rabbit farming livestock.

This was revealed from a breeder, who is also Chairman of the Farmers Livestock Rabbits Budi Asih, Aris Rizal. After tens of years most of the local ranchers rely on traditional ways that have been hereditary.

Geographical locations that support and heritage from generation to generation is what makes the village is largely livelihood as a rabbit breeder, as well as sources of feed ingredients available in abundance. So no wonder if the village was nicknamed "Kampung Kelinci".

"Breed rabbits are very suitable to be developed in our village. Moreover, the farm is still large enough to find the source of green feed ingredients is not too difficult, "said Aris Rizal.

According to him, raising rabbits is not too difficult as long as it can routinely be able to provide food and make a comfortable home for the livestock. "If you do not maintain regular, indeed there will be young rabbits die. But if you've been in correctly then the rabbit will rapidly increase in number," he said.

He said many residents in his village who has a family business in the form of cattle and rabbits on average every household has dozens of rabbits. "Although not yet meet the target of 100 individuals per month, but we will work to achieve them to meet demands," he concluded.

The same thing is said Suminta Riyahya, Chairman of the Cattle Farmers Group Forum for Youth Work Rabbit (Character) in the village who sama.Dia also reveals the constraints faced by farmers and seed capital bunny rabbit is excellent, and the sources of animal feed when the rainy season arrives.

"Rabbits are dying because of the rainy season is not suitable pakannya sources that can cause bloating disease or liquid bowel movements in rabbits, so most residents sell their livestock, then buy the seeds again after the rainy season is over, and so on," he said.

The farmers in his village only maintain a small-scale rabbit although it can be said as the family livelihood, let alone a rabbit can breed up to six months, while demand takes six months.

Cooperative Target

KOPNAKCI chairman, said the launching of Revelation Darsono Rabbits in the village of Kampung Gunung Mulya, Tenjolaya Subdistrict, Bogor District is based on the potential of the region's most livelihood as a rabbit breeder.

"Of course, the declaration was aimed at promoting the potential and business opportunities as a provider of livestock rabbit meat to the fulfillment of animal protein for the family," said Rev. Darsono.

This activity was stimulated by the present national meat swasebada program which is basically the activity increase in livestock population and meeting the needs of the animal protein independently by reducing dependence on imports.

"So in need of diversification of supply sources of animal protein other than from large livestock and poultry. Rabbits are animals that have alternative opportunities as a provider of a healthy animal protein source and quality, "added the bespectacled man was.

About KOPNAKCI that stands officially dated May 17, 2011 and formed the basis of considerations of livestock commodities rabbits are now relied upon as a substitute for producing animal protein (meat) in improving the quality of human resources of Indonesian society, and has become a concern and proclaimed government in program development and realization .

"Therefore, ntuk achieve economies of scale and large production capacity, then the container as an umbrella dipertlukan together in running the business activities of cattle rabbit, information centers, market access and development / institutional empowerment rabbit farming cattle," explained the chairman of this KOPNAKCI.

Further explained, the cooperative is an appropriate container, in addition to being digalakan voluntary movement of commodity-based cooperatives (one village, one product) by the government, a cooperative institution in accordance with the principles and orientation of community economic empowerment.

In addition, pioneering the establishment of KOPNAKCI is the SMD in 2010 commodity rabbit Bogor region and some other rabbit breeders farmers.

Cooperatives are formed is expected to be a rabbit wadh livestock integration in a comprehensive effort, so as to support the competitiveness of the economies of scale in accordance with the conditions and market situation as well as relevant government policy in improving the economic welfare of society.


Mentioned, the number of members KOPNAKCI as of 24 September 2011 has reached 60 people from 21 farmer groups, "he added.


(At-anggara/vildasilvia)


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.