header_ads

Sunyoto Cj, Hari Menanam Pohon

Puncak. Monday, 28 Nov 2011. 08.45 pm,
Bicara penghijauan dan konservasi di puncak sangat dilematis dan semu. Satu sisi kita bicara penghijauan dengan segala ceremonynya, satu sisi pula kita tebang pohon tanpa permisi.

Berbagai program dan kegiatan penghijauan dilakukan, tapi hingga detik ini puncak masih tidak ada perubahan. Penghijauan di puncak selalu di identikan dengan permasalahan longsor dan banjir ibukota.

Kegiatan sudah melenceng dari substansi permasalahan. Banjirnya kemana, permasalahan dimana. Begitu pula lahan yang di hijaukan. Jelas kepemilikan tapi tidak jelas pengawasan dan pemeliharaan.

Permasalahan banjir Jakarta dan longsor di puncak tentu tidak akan serta merta hilang dengan penanaman semilyar pohon sekalipun.

Katakanlah puncak di daulat sebagai penyumbang banjir Ibukota, dengan parameter Ciliwung/Katulampa, hal tersebut tentu bukan hanya permasalahan penanaman pohon, namun lebih pada penanaman tiang-tiang beton yang semakin rapat dan tak terkendali.

Penghijauan/penanaman pohon lebih banyak dilakukan di lahan PTPN, karena memang masyarakat secara umum sudah hampir tidak mempunyai halaman kecuali lahan Villa.

Sementara pihak PTPN selaku pemegang ijin hak guna, terkesan tidak berdaya menghadapi okupasi para pemegang kuasa. “Pembiaran” lebih banyak terjadi dibandingkan dengan pengambilalihan kembali. Menjadi tanda tanya kita semua.

Sementara pembangunan rumah hunian masyarakat yang semakin rapat juga tidak ada control, budaya masyarakat yang merasa aman dan nyaman tinggal di puncak , masyarakat yang tidak mempunyai keinginan untuk merantau akibat hubungan intimnya dengan ibukota menjadi penyumbang terbesar dari lenyapnya lahan resapan.

Rumah berdempet rapat, hanya menyisakan gang kecil, dengan konstruksi semen menghiasi lekuk kampung di sepanjang puncak.

Akumulasi air hujan yang jatuh dari atap menyatu dan mengalir deras bak jalan tol ke sungai Ciliwung, tanpa basa-basi pula mengalir ke ibukota.

Tidak banyak yang dilakukan masyarakat selain melancarkan aliran air yang menyumbat selokan dengan menghanyutkan sampah pada saat terjadi hujan. Maka tidak heran ciliwung menjadi bak sampah terpanjang di Indonesia atau bahkan di dunia.

Dalam hal kebersihan, terbentuk pula budaya buang sampah dan limbah ke sungai. Dari mulai sampah rumah tangga ( sampah dapur, WC dll ) semua mengalir ke cucu dan anak sungai Ciliwung. Tidak banyak pula yang kita semua bisa lakukan untuk sekedar mengurangi. Kepadatan hunian, kemiskinan, sumber daya masyarakat, minimnya sensifitas aparat membuat itu semua terjadi

Dalam mengatasi permasalah khususnya Banjir Jakarta , hamper semua hanya terfokus pada program penanaman. Itupun juga masih semu, karena pada saat pohon – pohon yang ditanam sudah besar, yang mestinya juga baru berfungsi untuk produksi Co2, akarnya menahan erosi, mengurangi panas mentari dan lain – lain, seketika itu pula semua sepakat bahwa menebang pohon adalah syah dan legal. Tinggal khirnya tonggak-tonggak akar diam membisu menangis sendirian.

Itulah potret puncak hari ini.

Puncak menjadi arena basa – basi obral kepedulian. Banyak lembaga baik lembaga pemerintah, swasta dan individu masyarakat yang melakukan sesuatu yang hubungannya dengan alam. Tapi tidak banyak masyarakat yang terketuk hatinya untuk turut berpartisipasi. Semua lebih berpikir pragmatis. Apa yang terjadi pada kita semua.

Hari ini kita diajak upacara menanam pohon dengan penuh tawa. Tapi esok kita sudah lupa atau tidak tahu dengan apa yang mesti kita lakukan terhadap tanaman yang kita tanam. Lalu masihkan kita semua punya harapan, selain upacara lagi, lalu kita ketawa lagi.

Ya kita perlu duduk bersama, kita perlu saling mengerti diantara kita, kita perlu saling mengerti apa yang terjadi disekitar kita dan kita perlu mengerti apa yang seharusnya kita lakukan bersama.

Tapi, bisakah kita duduk bersama untuk saling mengerti itu semua???


Artikel: Sunyoto Cj, Budayawan Puncak Bogor


www beritabogor com



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.