Film Drama Keluarga Seputar Kanker Payudara
FTV DERITA DINDA -Film Televisi
bergenre drama keluarga yang berisi penyuluhan mengenai Kanker
Payudara, namun dikemas secara apik sehingga alur cerita mengalir dan
penonton akan terbawa emosinya dalam rangkaian scene demi scene.
Hal ini disampaikan ketua lembaga
swadaya masyarakat Forum Studi Layanan Publik (LSM FORPUBLIK) sesaat
sebelum Press Realease di Hotel Four Season Jakarta, Kamis (29/03/2012).
Rico menjelaskan dalam cerita film itu,
Dinda, 35 tahun (diperankan Inez Tagor) adalah seorang ibu rumah tangga
yang mengidap penyakit Kanker Payudara. Awalnya diperiksa hanya benjolan
kecil, namun suaminya, Erlangga (Panca Prakoso) malah menyuruh berobat
ke alternative. Dalam perjalanan selama 1,5 tahun penyakit Kanker
Payudara Dinda malah makin mengganas. Erlangga bukannya memberikan
dorongan dan semangat hidup, malah berselingkuh dengan Shinta (Tachia
Naomi) sampai meninggalkan rumah demi mendekati Shinta.
Penderitaan Dinda yang disia-siakan oleh
Erlangga ditambah sikap Sheni (Ulfa), janda tetangga Dinda yang terus
mencibir Dinda, juga sikap David (Savero) anak Sheni yang juga
mengolok-olok Dimas (Saddam) dan Desy (Bunga), anak-anaknya
Dinda-Erlangga, semakin menambah rumit rumah tangga Dinda-Erlangga.
Secara tidak sengaja, Dinda bertemu
dengan Fitri (Mayang), seorang aktivis Kanker. Fitri dulu penderita
Kanker Payudara, namun dengan berobat teratur kepada dokter Onkologi
akhirnya dapat disembuhkan dan bertekad untuk terus memberikan
penyuluhan kepada masyarakat mengenai Kanker Payudara. Dengan bantuan
Fitri, akhirnya Dinda mau ke Rumah Sakit namun sayang, dokter memvonis
Dinda mengidap Kanker Payudara stadium lanjut. Suatu saat Dinda ingin
bertemu dengan Fitri di sebuah hotel tempat penyuluhan, disitulah Dinda
bertemu dengan Sheni sampai Dinda jatuh pingsan dan segera dilarikan ke
Rumah Sakit.
Namun sayang, Tuhan berkehendak lain.
Dinda akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya di tengah anak-anaknya
dan orang yang mencintainya. Termasuk penyesalan Erlangga dan Sheni yang
terlambat.
FTV ini terinspirasi dari pengalaman
para penderita Kanker Payudara di Indonesia dan didedikasikan bagi para
penderita Kanker Payudara dimanapun berada. Tujuannya agar masyarakat
dapat memahami bahayanya Kanker Payudara, namun tetap dapat disembuhkan
apabila dapat mendeteksi secara dini dengan SADARI dan memeriksakan
secara rutin kepada dokter Onkologi.
FTV ini diinisiasi oleh Dr Farida Briani
seorang dokter ahli kanker yang seringkali menerima pasien yang datang
kepadanya dalam kondisi stadium lanjut yang harapan sembuhnya tipis.
“Penderita kanker ini banyak yang
mengambil jalan pengobatan alternatif diluar medis, setelah tidak
berhasil dan kondisi semakin parah, baru datang kembali ke dokter,” ujar
dr Farida, yang juga anggota Perhimpunan Ahli Bedah Onkologi Indonesia
(PERABOI) itu.
Dia menambahkan, atas dasar itulah
pengurus PERABOI merasa perlu memberikan pemahaman kepada masyarakat.
Dan melalui media film dianggap dapat lebih mudah diterima dan dipahami
masyarakat. PERABOI menggandeng LSM FORPUBLIK untuk melaksanakan
produksi film yang juga didukung oleh Prof Dr Nila Moeloek ketua umum
Yayasan Kanker Indonesia (YKI) itu .
Dalam Produksi film berdurasi 72 menit
ini dibiayai oleh MEDCO Energy. Pengambilan lokasi syuting di RSCM dan
sebagian besar lagi di Kabupaten Bogor. Pemerintah Kabupaten Bogor
sendiri turut mengambil bagian dan mendukung dalam pembuatan FTV
tersebut. Bahkan, Bupati Bogor Drs Rahmat Yasin MM, ikut berperan dalam
scene penyuluhan di FTV itu. Bupati yang cakap memerankan figurnya
sendiri secara gamblang menjela0skan kepada masyarakat tentang
pendeteksian sejak dini gejala awal penyakit itu. (ric/als)

Tidak ada komentar