Mutiara Terindah Tak Pernah Pudar (habis)
Kepemimpinan Kerajaan
Pajajaran diteruskan oleh putra dan anak cucu Prabu Siliwangi. Sayang,
perubahan sistem kerajaan dari agraria-maritim menjadi agraris feodal, pada akhirnya
membuat Pajajaran runtuh dan tersingkir dari percaturan sejarah Tanah Air.
Oleh Budayawan Eman
Soelaeman
Al kisah, Prabu Siliwangi, raja diraja yang disegani
raja – raja pada zamannya, tak hanya dikenal karena kesaktiannya yang digjaya, namun
juga karena kemuliaan dan sifat arifnnya dalam mengayomi rakyat Sunda dan
mengolah bumi yang subur, sehingga tercipta keadilan dan kesejahtaraan yang
merata.
Dalam catatan sejarah, Raja Diraja yang
memimpin Kerajaan Sunda Pakwan (Padjajaran –red) selama 39 tahun itu telah mewarisi
etika, tatanan hidup masyarakat yang beradab, bertoleransi, berbudaya dan kesejahteraan.
Tak hanya itu, konsep pembinaan karakter bagi masyarakatnya pun menjadi
kekayaan khasanah ilmu di bumi Padjajaran.
Konsep kepemimpinan yang dianut adalah
kepemimpinan yang benar dan adil, manajemen kenegaraan yang dijalankan dengan
stabil dan dijalankan dengan seksama oleh rakyatnya. Dengan mengutamakan Sumber Daya Manusia yang
benar – benar berfungsi sesuai jamannya ketika itu yang tidak terlepas dari
ajaran utama, yaitu keindahan dan moral yang ditanamkan kepada setiap
masyarakat maupun para pejabat kerajaan.
Terangkum dalam ajaran Ageman Siksa yang patut dijalankan secara konsekuen, tergores indah
dalam buku berjudul “Sanghiyang Siksa
Kanda-ng Karesian” dimana sang Prabu selama memimpin kerajaan tak terlepas
dari dukungan para pendamping hidupnya. Yakni, tiga istri utama yang juga
menghiasi kerjaan, dan sang Istri yang Islami, yang memberikan sumbangan
berarti bagi sejarah Sunda Padjajaran, yaitu Subanglarang dan Kentring Manik
Mayangsunda.
Pada masa itu hubungan bilateral dengan luar
negeri berhasil dibina. Sejak tahun 1445 Masehi, atas Amanah Siliwangi yang
dititahkan kepada anak lelaki yang paling besar, yaitu Prabu Ratu Sanghiyang,
tercipta hubungan yang manis dengan kerajaan-kerajaan di sekitar Padjajaran.
Orang - orang Portugis ketika itu menyebutnya “Dalam Lidah Samiam”.
Namun, tak ada yang abadi di bunia ini.
Begitupula dengan hubungan bilateral yhang telah dibina. Maka, negara yang
semula dalam damai sejahtera mulai bergejol akibat munculnmya ketidakpuasan kerajaan
lainnya terhadap kebijakan hubungan luar negeri Padjajaran, dan bara pun mulai
terasa panas, bahkan secara berangsur-angsur membakar suasana.
Hubungan dengan Demak, Cirebon dan sebagian
Banten yang telah terjalin dengan sempurna, terancam. Terlebih lagi ketika Prabu Siliwangi
meninggal pada 1447 Masehi dan
dikebumikan, yang upacara pemakamannya kemudian dikenal dengan nama upacara Sradakan, dan dilaksanakan di kawasan
Rancamaya yang kini terletak sekitar 7 km di sebelah tenggara Kota Bogor.
Terjadinya pemberontakan demi pemberontakan
membuata Padjajaran mengerahkan kekuatan secara maksimal untuk meredamnya,
meski Demak dan Banten yang dibekingi Portugis. Saynagnya, negoisasi mengalami
jalan buntu, sehingga perang terotorial untuk memperebutkan kekuasaan tak
terelakan. Suasana semakin memanas setelah pihak Demak dan Cirebon mulai
mengadakan expansi penyerangan.
Inilah kisah suram semasa kerajaan dipercayakan
kepada Ratu Samiam. Selama kurun waktu delapan tahun, kerajaan Pajajaran mengalami
15 kali pemberontakan dan peperangan. Satu
demi satu prajurit dari kedua pihak yang bertikai, berjatuhan di atas bumi yang
semula damai . Tanah menjadi merah ditoreh tetesan darah,sementara hawa nafsu
mereka semerah darah.
Masa demi masa, kepemimpinan Padjajaran yang
diwarisi kepada putra dan anak cucu Prabu Siliwangi telah mengalami banyak
perubahan, dari semula kerajaan ini menganut sistem negara agraris berangsur –
angsur menjelma sebagai negara yang menganut sistem Agraris Feodal yang
dipengaruhi keangkuhan dan keserakahan bangsa asing.
Walhasil, Padjajaran sebagai tonggak kerjaan
terhebat di dunia, menghilang dari percaturan sejarah, budaya, politik, ekonomi,
pertahanan dan ketahanan. Inilah yang sebenarnya terjadi, kerajaan Pajajaran itu
Ngahiyang, meskipun ajaran – ajaran yang diwarisi Prabu Siliwangi tak akan
pernah pudar.
Hikmah yang
dapat dipetik bagi kehidupan saat ini dan seterusnya adalah sebagaimana
salahsatu petuah, “Nu Dikiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga,
Ka Hareup Ngala Sajeujuh Ka Tukang Ngala Salengkah”, bila diterjemahkan
kedalam bahasa Indonesia, yakni “Merenda Kemajuan Apapun Harus Sesuai Jaman
Kita Kerjakan Setapak Demi Setapak”. Habis (red-als)


Tidak ada komentar