header_ads

Mutiara Terindah Tak Pernah Pudar (bagian 1)


Mutiara Terindah Tak Pernah Pudar (bagian-1)

 “Nu dikiwari ngancik nu bihari, seja ayeuna sampeureun jaga, ka hareup ngala sajeujuh ka tukang ngala salengkah”. Untaian kalimat bijak ini merupakan untaian “mutiara terindah” yang diwariskan oleh para leluhur urang Sunda. Sayang, hakikat kalimat bijak tersebut tidak diterapkan dalam kehidupan sehari-hari orang Sunda, termasuk warga Bogor, sehingga untaian kalimat itu hanya menjadi kalimat tanpa arti.

Oleh Budayawan Eman Soelaeman

Petuah leluhur yang berarti “Merenda Kemajuan Apapun Harus Sesuai Zaman, (dan) Kita Kerjakan Setapak Demi Setapak” ini seyogyanya dapat dijadikan kalimat untuk melengkapi moto Bogor, sehingga masyarakat dapat selalu ingat dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari, dan menjadi pegangan untuk meraih kesuksesan dan kemakmuran. Sayang, “wangsit” ini terlupakan oleh keturunannya, sehingga kehilangan makna dan arti.

Tulisan ini ingin memberikan inspirasi bagi pembaca Bogor Ekspres melalui sebuah Al Kisah penguasa yang adil, arif, dan bijaksana maupun hikmah yang dapat dipetik akibat bara yang tak lagi mampu dikendalikan. Terutama mengajak pembaca untuk dapat memaknai untaian petuah leluhur,  “Nu Dikiwari Ngancik Nu Bihari, Seja Ayeuna Sampeureun Jaga, Ka Hareup Ngala Sajeujuh Ka Tukang Ngala Salengkah (Merenda Kemajuan Apapun Harus Sesuai Jaman Kita Kerjakan Setapak Demi Setapak)”. 

Dimana perjalanan budaya sejarah masa kini tidak terlepas dari kisah sejarah masa yang telah lampau. Dan, hasil karya yang kita kerjakan saat ini, kebaikannya diperuntukan bagi anak cucu keturunan kita di masa yang akan datang. Sebagaimana dikisahkan, Prabu Siliwangi, demikian tatar Sunda menyebutnya serta memanggilnya. Dia sebagai Raja Diraja yang memiliki gelar Siliwangi yang tak dapat diturunkan bagi siapa pun, meskipun kepada anak cucunya. Sebab gelar tersebut secara khusus melekat pada jiwa Sri Baginda Maharaja Ratu Haji Di Pakwan Pajajaran Sri Sang Ratu Dewata. 

Masyarakat Sunda menyebutnya, Prabu Siliwangi, sebuah nama paling dihormati hingga kini, hal ini didasari atas keberhasilan Raja Diraja yang memimpin negara dan rakyatnya secara adil dan menganut sistem negara bercorak agraris maritim.

Kekuasaan Kerajaannya saat itu cukup luas yang mencakup wilayah pada sebelah timur yang dibatasi sungai Brebes atau Cipamali hingga Selat Sunda atau Banten. Bumi Sunda dan kehidupan rakyat yang sejahtera semakin terkenal luas di belahan dunia, seperti; Portugal, Inggris, dan Belanda. Bahkan kebesaran nama Pajajaran juga termasyur di Champa-India, Jazirah Arabia hingga Maladewa dan India Selatan. 

Kabar adanya sebuah negeri impian nan subur makmur itu semakin termasyur, sehingga tak ayal lagi menjadi daya tarik bagi para saudagar yang berlomba – lomba menyandarkan kapal dagang di sejumlah pelabuhan Sunda yang sangat strategis ketika itu, yakni; pelabuhan disepanjang laut sebelah selatan, barat, selat sunda dan di bagian utara. 

Pelabuhan tersebut merupakan pusat perdagangan dan transaksi barter untuk menukar dan membeli barang di hasil bumi Sunda, seperti; rempah-rempah, beras dan kain katun kasar serta bahan makanan lainnya.
Prabu Siliwangi bukan hanya berhasil menjadi panutan bagi Raja – Raja lainnya, bahkan telah menanamkan rasa toleransi yang tinggi dalam kehidupan berkeyakinan. Ketika Kerajaan Cirebon didirikan, agama Rasul atau Al Islam juga berkembang di negeri Pajajaran. Beliau mempersilahkan Islam berkembang di Pajajaran dan juga mengijinkan masyarakat Pajajaran menjadi penganutnya. Bersambung (red-als)
Eman Soelaeman Bersama Wakil Bupati Bogor, Karyawan Faturachman (/int)

1 komentar:

  1. Memang perlu dikenalkan kearifan lokal kepada generasi muda walaupun hidup di jaman modern seperti sekarang ini agar generasi muda memiliki pegangan dan jati diri bangsa tidak mudah mengikuti lifestyle orang-orang yang tidak berbudaya.

    BalasHapus

Diberdayakan oleh Blogger.