Wijaya Plus Gelar Lomba Hidangan Khas Sunda
BOGOR EKSPRES - Guna memperkenalkan makanan tradisional Khas Sunda di
kalangan para pelajar yang saat ini sudah mulai pudar, Sekolah Menengah
Kejuruan (SMK) Wijaya Plus yang berlokasi di Desa Bitungsari, menggelar lomba
membuat makanan tradisional sekaligus cara mempromosikannya.
Kegiatan itu dikemas dalam bentuk kewirausahaan, sesuai
tema: "Berbagi Jajanan gratis
bersama 50 Anak Yatim”. Sehingga
bukan hanya untuk bisa menciptakan sebuah makanan atau minuman, namun para
peserta dituntut mampu mempromosikan hasil karyanya di hadapan juri penilai.
“Pesertanya sendiri berasal dari semua jurusan, khususnya
kelas 12 yang ada di SMK Wijaya Plus, berbagai hidangan tradisional pun
berhasil dibuat oleh tangan para siswa,” kata Ketua Yayasan Wijaya Plus, Slamet
Wijaya, Sabtu (17/03).
Berbagai hidangan khas, seperti sambal Tongtolang Nangka, Pencok
Palanding (Pete Cina), sambal Honje dan bermacam minuman tradisional juga dapat
ditemui dalam ajang kreatifitas ini. Makanan itu sudah kurang diminati oleh
kalangan muda, karena mereka lebih memilih jenis makanan dan minuman yang
berbau kebarat-baratan. “Padahal makanan tradisional khas Sunda lebih
bermanfaat bagi kesehatan tubuh, serta rasanya pun tidak kalah bersaing dengan
makanan dari luar,” tambahnya.
Dengan kegiatan seperti ini, selain mengasah kemampuan peserta didik dalam berkreatifitas, juga bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap makanan tradisional. “Penyebab kurang diminatinya makanan tradisional oleh kawula muda, lebih dikarenakan kemasanan yang kurang menarik disamping promosi yang jarang dilakukan," singkatnya.
Selain memperlombakan makanan dan minuman tradisional, juga digelar bakti sosial berupa santunan bagi 152 orang kaum dhuafa dan 50 orang anak yatim sekaligus dapat menikmati jajanan gratis berupa makanan dan minuman yang dibuat para peserta. (Rfs)
Dengan kegiatan seperti ini, selain mengasah kemampuan peserta didik dalam berkreatifitas, juga bertujuan menumbuhkan rasa cinta terhadap makanan tradisional. “Penyebab kurang diminatinya makanan tradisional oleh kawula muda, lebih dikarenakan kemasanan yang kurang menarik disamping promosi yang jarang dilakukan," singkatnya.
Selain memperlombakan makanan dan minuman tradisional, juga digelar bakti sosial berupa santunan bagi 152 orang kaum dhuafa dan 50 orang anak yatim sekaligus dapat menikmati jajanan gratis berupa makanan dan minuman yang dibuat para peserta. (Rfs)
Tidak ada komentar