header_ads

Saung Puspa Raya Sukses Olah Sampah Warga


BOJONGGEDE – Mengolah sampah membutuhkan kesadaran dan ketekunan. Seperti halnya, keberadaan Saung Puspa Raya yang mampu meningkatkan pengelolahan sampah dan lindi (air hasil fermentasi sampah) secara terpadu.

Warga Perumahan Puspa Raya, Bojonggede, Bogor mempunyai kebiasaan membuang sampah pada tempat sampah yang disediakan pihak pengurus Rt/Rw setempat. 

Bukan hanya itu, warga sudah terbiasa memilah sampah rumah tangga jenis organik dan an organik yang di pisahkan oleh kantung – kantung plastik. Hal ini memudahkan para relawan dalam mengolah sampah.

Secara rutin, sebanyak dua kali dalam seminggu, relawan – relawan itu berkeliling area perumahan, mereka sambil mengusung gerobak sampahnya guna menjemput kantung sampah yang telah disiapkan pemilik rumah. Sampah-sampah yang terkumpul, kemudian dipilah sesuai jenis sampah.

Secara rutin, sebanyak dua kali dalam seminggu ada beberapa relawan yang berkeliling area perumahan guna menjemput kantung sampah yang telah disiapkan pemilik rumah. Sampah-sampah yang terkumpul, kemudian dipilah sesuai jenis sampah.

Menurut Yono (44), salahseorang relawan, warga blok EG yang akrab dipanggil Pakde Yono menjelaskan, ide ini bermula sejak masa Ketua Rt03/12 Slamet yang memanfaatkan lahan kosong untuk kegiatan – kegiatan pengendalian lingkungan hidup dan penerapan kesadaran bagi warga perumahan terhadap pola hidup sehat (PHBS). Spontan ide itu disambut baik pengurus Rw dan warga di perumahan yang lokasinya tak jauh dari perkantoran Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor itu.

“Semula lahan yang berada ditepi sungai Ciliwung ini hanya sebagai pembuangan sampah, bila sampah sudah menumpuk lalu dibakar. Tapi, kelamaan malah kelihatan lahan itu jadi kumuh. Nah, muncullah ide untuk mengolah sampah – sampah itu tanpa mengakibatkan polusi dan pencemaran sungai,” terangnya kepada Bogor Ekspres, Senin (26/03) pagi.

Pakde Yono mengatakan, pada prinsipnya pengolahan sampah itu tak jauh berbeda dengan cara-cara pengelolaan sampah organic dan an organik. Misal, sampah basah, dedaunan, ranting pohon, kulit buah, sisa makanan atau sayuran yang dipilah-pilah untuk dijadikan bahan baku proses pengomposan dengan cara yang cukup sederhana.

“Sampah basah itu dicacah ukurannya sampai kecil, lalu dimasukan kedalam wadah yang tersedia dan diaduk sampai rata menggunakan cangkul, itu diaduk tiap hari. Nah tinggal menunggu masa inkubasi biasanya lebih dari dua minggu. Sampah yang sudah menjadi kompos dapat digunakan sebagai pupuk oleh warga disini,” katanya.

Dia menambahkan, sisa sampah yang tidak bisa diolah dimasukan pada tungku pembakaran yang dibuat tertutup dari drum kaleng tak lebih dari setinggi 3 meter. Hal ini guna meminimalisir polusi udara akibat asap sampah yang dibakar tersebut. Sedangkan  sampah-sampah yang tidak dapat diurai, seperti botol plastik, tas plastik, kaleng, kardus, dan lainnya dikumpulkan untuk dijual ke pengepul barang bekas terdekat.

Saung Puspa Raya yang didirikan pada 6 Maret 2009 ini akhirnya digunakan oleh para relawan tersebut untuk menjadi tempat pengolahan sampah untuk akhirnya dapat dijadikan pupuk kompos dan lindi yang nantinya dapat berguna sebagai pupuk untuk tanaman. Tidak hanya sebagai pupuk tanaman, sampah-samapah sisa makanan yang terbuang itu pun dapat disulap menjadi pakan ternak berupa pelet ditempat tersebut hanya dengan menggunakan alat-alat manual seperti penggiling cabai.

Bahkan Istri Walikota dan Istri Wakil Walikota Ambon, Debby Louhenapessy, dan Faradilla Latuconsina, pernah berkunjung ke lokasi pengolahan sampah warga di Saung Puspa Raya, pada 26 Nopember 2011 lalu. Tidak hanya itu, pengelola saung ini juga diundang secara resmi oleh Pemerinta Kota Banjarmasin guna memberikan pelatihan kepada kelompok masyarakat disana dalam mendaur-ulang sampah secara benar dan bermanfaat.

Dia sangat berharap agar lebih terciptanya kesadaran masyarakat untuk bersama – sama menjaga kebersihan lingkungan perumahan warga maupun sekitar. “Komplek menjadi bersih dan warga ikut berpartisipasi dalam menjaga kebersihan lingkungan, serta pemerintah juga dapat memberikan perhatian lebih kepada kegiatan positif seperti ini agar Bogor terlihat asri kembali,” harap Pakde Yono, pensiunan PNS pada tahun 1987-1997 ini.

Selain itu, Tim Penilai dari tingkat Provinsi Jawa Barat, didampingi pihak Kecamatan Bojonggede dan Pihak Kelurahan Bojonggbaru akan kembali mengunjungi Saung ini, Rabu (28/03) sore. Rombongan itu bermaksud melihat dari dekat pengelolaan lingkungan berbasis masyarakat dan pengolahan sampah warga. (ice)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.