Urang Bogor Abaikan Aksara Ngalagena
BOGOR EKSPRES - Aksara
Nusantara, aksara asli rakyat Indonesia, makin hilang dari peradaban akibat tak
lagi dipergunakan dalam tatanan hidup sehari-hari, selain yang tertera pada
lembaran-lembaran dan prasasti bersejarah, atau sebagai materi pelajaran di
sekolah dan universitas.
Padahal, bahasa Latin yang selama ini digunakan untuk
menuliskan bahasa Indonesia, banyak yang rancu akibat maraknya kata serapan
dari bahasa asing yang juga dituliskan dengan aksara itu.
Aksara Nusantara
merupakan beragam aksara atau tulisan yang digunakan pada masa lampau oleh
suku-suku di seluruh Indonesia. Bukti tertua mengenai keberadaan Aksara
Nusantara berupa tujuh buah yupa
(tiang batu untuk menambatkan tali pengikat sapi) yang bertuliskan prasasti
mengenai upacara waprakeswara yang
diselenggarakan Mulawarman, Raja Kutai di Kalimantan Timur, yang menggunakan
Aksara Pallawa dan Bahasa Sanskrta. Berdasarkan bentuk huruf Aksara Pallawa
pada yupa, para ahli menyimpulkan
bahwa yupa-yupa tersebut dibuat sekitar abad ke-4.
Aksara Nusantara merupakan
aksara masa depan bahasa Indonesia. Menurut catatan sejarah, pada abad ke-14 hingga ke-18, orang
Sunda menggunakan aksara yang disebut Ngalagena, dan
aksara ini kini tak lagi digunakan. Bahkan jika Anda bertanya kepada
orang-orang Sunda tentang aksara asli sukunya, mereka takkan tahu. Karena itu, orang Sunda memiliki kewajiban moral untuk tetap melestarikan budayanya agar
tidak punah ditelan zaman.
Selain memiliki
aksara sendiri, orang Sunda masa lalu juga menggunakan
aksara dari luar, di
antaranya aksara Arab Gundul, yang
membuktikan bahwa orang Sunda terbuka dalam berbudaya
Selain aksara Pallawa, Sansekrta dan Ngalagena,
Indonesia juga memiliki aksara yang disebut Hancaraka
yang digunakan oleh orang Jawa, Madura dan Bali.
Dengan kekayaan aksara yang
melimpah, bahasa Indonesia seharusnya ditulis dengan aksara-aksaranya
sendiri agar tidak mudah dipengaruhi oleh bahasa asing yang menggunakan aksara
Latin, aksara yang juga digunakan Indonesia dalam 100 tahun terakhir. Kurangnya kesadaran dan perhatian pemerintah maupun masyarakat Sunda dalam
melestarikan aksaranya, membuat aksara Ngalagena tak mudah dilihat di seantero Kota dan Kabupaten Bogor,
bahkan tak pernah lagi terdengar digunakan dalam percakapan. Meski
ada sekolah-sekolah yang mengajarkan aksara
Nusantara, namun itu pun bukan sebagai pelajaran wajib, melainkan hanya
sebagai pelajaran tambahan.
Rohmat, penggagas
penerapan aksara Ngalagena dan Hanacaraka,
mengusulkan agar penggunaan bahasa Nusantara digalakkan kembali sebagai pemersatu bangsa. Dalam gagasannya, ia mengusulkan agar aksara Ngalagena
dituliskan pula pada nama jalan yang saat ini
ditulis dengan aksara Latin, sehingga pada setiap papan nama jalan, terdapat
dua aksara. Begitupula untuk penulisan pada papan nama
gedung, kota, dan lainnya.
“Sadarkah jika bahasa kita selama satu abad ditulis menggunakan aksara
asing? Ejaan Van Ophuijsen, ejaan Soewandi dan ejaan yang disempurnakan (EYD)
adalah sisa pengaruh kolonial yang harus dikaji ulang penggunaannya,”
jelas dia.
Rohmat
menambahkan, mempelajari aksara Ngalagena jauh lebih mudah dibanding mempelajari bahasa Inggris karena Ngalagena Kaganga atau cara penulisan aksara Ngalagena, lebih mudah dipelajari. Namun entah mengapa mayoritas
rakyat Indonesia tak berminat mengkaji
dan mempelajarinya. Padahal, aksara Ngalagena dikaji oleh banyak orang asing
dan bahkan orang-orang asing itu telah mendaftarkan aksara Ngalagena ke UNESCO
sebagai
salah satu aset budaya dunia.
Selain
mengusulkan penggunaan aksara Nusantara, Rohmat
mencoba menyatukan aksara Ngalagena dan Hanacaraka dengan
menciptakan hurup kapital, hurup kecil dan tanda baca dari aksara tersebut.
Aksara Hanacaraka dijadikan hurup
kapital dan Ngalagena sebagai hurup kecil. Dijadikannya Hanacaraka
sebagai hurup kapital,
karena Hanacaraka terlalu rumit
untuk dijadikan hurup kecil mengingat aksara ini memiliki terlalu banyak garis lengkung dan memakan banyak ruang saat dituliskan. Sedangkan Ngalagena lebih pantas berperan sebagai hurup kecil karena tidak terlalu
memerlukan garis yang panjang dalam penulisan, serta tidak banyak lengkungan. Karenanya, Ngalagena yang diajarkan di sekolah n tidak memperhatikan hurup besar dan hurup
kecil.
Ia berharap,
penggunaan aksara Nusantara dapat memberi kesan bahwa Kota Bogor bukan hanya kota kuliner atau kota seribu angkot, tetapi juga
kota yang di masa lalu merupakan pusat peradaban,
atau mungkin ketataprajaan pertama di tanah Jawa setelah Tarumanagara bubar.
Selain itu, dengan
digunakannya kembali aksara Nusantara, salah satu
kekayaan seni budaya Bogor khususnya, dan Jawa Barat pada umumnya, dapat dilestarikan demi kemajuan kesusastraan bahasa Indonesia di masa depan. (mra)
Tidak ada komentar