Warga Cibeduk Jeung Kampung Karet Terancam Miskin
Data yang
diperoleh Bogor Ekspres, Minggu (18/3), menyebutkan, dari sekitar 60 kepala keluarga
(KK) di kampung itu, sekitar 70 % di
antaranya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ketika Bogor ekspres
mengunjungi pemukiman tersebut, kondisi pemukiman ini sangat menyedihkan karena
ada beberapa rumah yang lebih cocok disebut gubuk dan tidak layak huni, seperti
rumah-rumah yang berada di tepi Sungai Cikeas.
Selain itu, ada
pula rumah warga yang atapnya sudah tidak bergenting, dan kayu rengnya sudah
keropos di makan rayap. Bahkan ada rumah yang dinding-dindingnya retak, dan plafonnya
rusak berat.
Rukman,
penduduk setempat, menjelaskan, mayoritas warga di kampungnya bekerja sebagai
buruh tani dan buruh serabutan dengan penghasilan sekitar Rp20.000 per hari.
“Karena itu,
mendengar pemerintah akan menaikkan harga BBM, kami semua kalut karena sekarang
saja, meski harga BBM belum naik, harga keburuhan sehari-hari sudah naik,
sehingga penghasilan kami yang jauh dari mencukupi, semakin tidak mencukupi,”
keluhnya.
Rukman, juga
warga Kampung Cibeduk yang lain, yakin, bahwa ke depan hidup mereka pasti akan
semakin melarat. Apalagi kalau selain harga kebutuhan naik, tarif angkutan juga
naik, sehingga mereka tidak dapat bepergian keluar kampung.
Di Kabupaten
Bogor, kampung dengan penduduk mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan juga
ada di
Desa Tajurhalang, Kecamatan Tajurhalang. Tepatnya di Kawasan Kampung Karet Rt
01/10. Menurut ketua Rt setempat, Ali, dari 70 KK yang tinggal di perkampungan
itu, 95% di antaranya hidup dengan kondisi seperti itu.
“Kemiskinan yang dialami warga selain diakibatkan oleh
rendahnya pendidikan, juga karena
hanya 5% penduduk yang memiliki pekerjaan cukup baik, seperti menjadi PNS misalnya.
Selebihnya bekerja sebagai buruh serabutan atau bertani rumput di lahan tidur
di sekitar kampung,” katanya.
Sukarta,
salah seorang warga, mengakui, rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat
dirinya dan warga Kampung Karet yang lain menjadi gelisah. “Saya bahkan
sampai tidak bisa tidur karena sadar hidup bakal makin sulit, sehingga untuk
menyekolahkan anak hingga SMP pun saya tak yakin akan mampu,” katanya.
Baik warga
warga miskin Cibeduk maupun Kampung Karet, semuanya mensyukuri rencana
pemerintah membagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar
Rp150.000 per bulan semala sembilan bulan, namun demikian mereka menganggap,
bantuan itu jauh dari memadai. “Sekarang
saja uang Rp100-200 ribu seperti sama sekali tidak ada artinya karena semua
serba mahal. Apalagi setelah BBM naik,” keluh Sukarta.
Para warga
miskin ini berharap, pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan
penghasilan yang layak, karena hanya itu solusi yang tepat dari pemerintah
untuk mereka, bukan BLSM. (rfs/nda/msp)

Tidak ada komentar