header_ads

Warga Cibeduk Jeung Kampung Karet Terancam Miskin

BOGOR EKSPRES - Kecemasan kini tengah melanda warga Kampung Cibeduk Nayak Rt 04/06 Kelurahan Desa Nagrak, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Pasalnya, kenaikan harga BBM pada awal April mendatang dipastikan akan membuat hidup mereka semakin melarat.

Data yang diperoleh Bogor Ekspres, Minggu (18/3), menyebutkan, dari sekitar 60 kepala keluarga (KK) di kampung itu, sekitar 70 %  di antaranya masih hidup di bawah garis kemiskinan. Ketika Bogor ekspres mengunjungi pemukiman tersebut, kondisi pemukiman ini sangat menyedihkan karena ada beberapa rumah yang lebih cocok disebut gubuk dan tidak layak huni, seperti rumah-rumah yang berada di tepi Sungai Cikeas.

Selain itu, ada pula rumah warga yang atapnya sudah tidak bergenting, dan kayu rengnya sudah keropos di makan rayap. Bahkan ada rumah yang dinding-dindingnya retak, dan plafonnya rusak berat.
Rukman, penduduk setempat, menjelaskan, mayoritas warga di kampungnya bekerja sebagai buruh tani dan buruh serabutan dengan penghasilan sekitar Rp20.000 per hari.

“Karena itu, mendengar pemerintah akan menaikkan harga BBM, kami semua kalut karena sekarang saja, meski harga BBM belum naik, harga keburuhan sehari-hari sudah naik, sehingga penghasilan kami yang jauh dari mencukupi, semakin tidak mencukupi,” keluhnya.

Rukman, juga warga Kampung Cibeduk yang lain, yakin, bahwa ke depan hidup mereka pasti akan semakin melarat. Apalagi kalau selain harga kebutuhan naik, tarif angkutan juga naik, sehingga mereka tidak dapat bepergian keluar kampung.

Di Kabupaten Bogor, kampung dengan penduduk mayoritas hidup di bawah garis kemiskinan juga ada di Desa Tajurhalang, Kecamatan Tajurhalang. Tepatnya di Kawasan Kampung Karet Rt 01/10. Menurut ketua Rt setempat, Ali, dari 70 KK yang tinggal di perkampungan itu, 95% di antaranya hidup dengan kondisi seperti itu.

Kemiskinan yang dialami warga selain diakibatkan oleh rendahnya pendidikan, juga karena hanya 5% penduduk yang memiliki pekerjaan cukup baik, seperti menjadi PNS misalnya. Selebihnya bekerja sebagai buruh serabutan atau bertani rumput di lahan tidur di sekitar kampung,” katanya.

Sukarta, salah seorang warga, mengakui, rencana pemerintah menaikkan harga BBM membuat dirinya dan warga Kampung Karet yang lain menjadi gelisah. “Saya bahkan sampai tidak bisa tidur karena sadar hidup bakal makin sulit, sehingga untuk menyekolahkan anak hingga SMP pun saya tak yakin akan mampu,” katanya.

Baik warga warga miskin Cibeduk maupun Kampung Karet, semuanya mensyukuri rencana pemerintah membagikan Bantuan Langsung Sementara Masyarakat (BLSM) sebesar Rp150.000 per bulan semala sembilan bulan, namun demikian mereka menganggap, bantuan itu jauh dari memadai. “Sekarang saja uang Rp100-200 ribu seperti sama sekali tidak ada artinya karena semua serba mahal. Apalagi setelah BBM naik,” keluh Sukarta.

Para warga miskin ini berharap, pemerintah dapat menyediakan lapangan pekerjaan dengan penghasilan yang layak, karena hanya itu solusi yang tepat dari pemerintah untuk mereka, bukan BLSM. (rfs/nda/msp)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.