Diklat SAR Mahasiswa
KOTA BOGOR - Menyikapi seringnya terjadinya bencana alam di Bogor, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bogor menggelar Pendidikan dan Latihan Search And Rescue (Diklat SAR) selama dua hari Sabtu dan Minggu, 6 dan 7 Oktober 2012.
Kegiatan yang berlangsung di Cifor (Center for International Forestry Research) Kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor dibuka resmi oleh Asisten Administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bogor Edgar Suratman, di Plaza Balaikota Bogor, Sabtu (7/10/2012).
Asisten Administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan Edgar Suratman menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada para mahasiswa yang tergagabung dalam BEM se Bogor yang menggagas kegiatan diklat SAR.
“Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi penting para mahasiswa dalam menanggulangi bencana,” kata Edgar.
Edgar mengungkapkan, bahwa kondisi alam dan lingkungan di Kota Bogor memiliki potensi besar untuk menimbulkan berbagai bentuk bencana alam,baik dalam skala ringan maupun dalam skala besar. Hujan badan yang kerap terjadi, dan longsor, pohon tumbang maupun banjir akibat meluapnya sungai Ciliwung dan Cisadane adalah potensi alam yang perlu diwaspadai.
Begitu pula, lanjut Edgar, fisik Kota Bogor yang terus mengalami perkembangan dengan cepat, pada sisi lain menimbulkan rawan bencana kecelakaan. Kebakaran di gedung – gedung bertingkat dan kecelakaan akibat kelalaian akibat manusia serta bencana akibat pemakaian alat – alat berat merupakan bentuk potensi bencana lain yang menuntut kewaspadaan bersama.
Sepanjang tahun lalu, tercatat di Kota Bogor telah terjadi 9 kali bencana banjir, 82 kali tanah longsor, 94 kali angin puting beliung, 28 kali kebakaran, dan 4 kali kejadian pohon tumbang.
Penyerahkan peralatan SAR
“Meskipun terjadi dalam skala lokal, kejadian–kejadian ini menuntut kesiapan semua pihak untuk mengantisipasi dan menanganinya, karena masyarakat korban bencana memiliki harapan yang besar kepada pemerintah untuk meringankan beban meraka, “ ungkapnya.
Koordinator diklat Arynazakka mengatakan, diklat SAR yang digelar selama dua hari diikuti 60 peserta antara lain dari UNB (Universitas Nusa Bangsa), AKA, AKBID PHB, STIE Taskia, dan Unida serta peserta salah satu perguruan tinggi di Jakarta yakni Sahid.
Selama dua hari para peserta akan mendapatkan pendidikan SAR dengan melibatkan instruktur dari PMI dan Basarnas. (eka)
Kegiatan yang berlangsung di Cifor (Center for International Forestry Research) Kelurahan Situ Gede Kecamatan Bogor Barat Kota Bogor dibuka resmi oleh Asisten Administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Bogor Edgar Suratman, di Plaza Balaikota Bogor, Sabtu (7/10/2012).
Asisten Administrasi Kemasyarakatan dan Pembangunan Edgar Suratman menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada para mahasiswa yang tergagabung dalam BEM se Bogor yang menggagas kegiatan diklat SAR.
“Kegiatan ini merupakan salah satu kontribusi penting para mahasiswa dalam menanggulangi bencana,” kata Edgar.
Edgar mengungkapkan, bahwa kondisi alam dan lingkungan di Kota Bogor memiliki potensi besar untuk menimbulkan berbagai bentuk bencana alam,baik dalam skala ringan maupun dalam skala besar. Hujan badan yang kerap terjadi, dan longsor, pohon tumbang maupun banjir akibat meluapnya sungai Ciliwung dan Cisadane adalah potensi alam yang perlu diwaspadai.
Begitu pula, lanjut Edgar, fisik Kota Bogor yang terus mengalami perkembangan dengan cepat, pada sisi lain menimbulkan rawan bencana kecelakaan. Kebakaran di gedung – gedung bertingkat dan kecelakaan akibat kelalaian akibat manusia serta bencana akibat pemakaian alat – alat berat merupakan bentuk potensi bencana lain yang menuntut kewaspadaan bersama.
Sepanjang tahun lalu, tercatat di Kota Bogor telah terjadi 9 kali bencana banjir, 82 kali tanah longsor, 94 kali angin puting beliung, 28 kali kebakaran, dan 4 kali kejadian pohon tumbang.
Penyerahkan peralatan SAR
“Meskipun terjadi dalam skala lokal, kejadian–kejadian ini menuntut kesiapan semua pihak untuk mengantisipasi dan menanganinya, karena masyarakat korban bencana memiliki harapan yang besar kepada pemerintah untuk meringankan beban meraka, “ ungkapnya.
Koordinator diklat Arynazakka mengatakan, diklat SAR yang digelar selama dua hari diikuti 60 peserta antara lain dari UNB (Universitas Nusa Bangsa), AKA, AKBID PHB, STIE Taskia, dan Unida serta peserta salah satu perguruan tinggi di Jakarta yakni Sahid.
Selama dua hari para peserta akan mendapatkan pendidikan SAR dengan melibatkan instruktur dari PMI dan Basarnas. (eka)

Tidak ada komentar