Bupati Bogor Tak Kuasa Bendung Arus Rentenir
Janji Bupati Rahmat Yasin memberantas rentenir di wilayah Kabupaten Bogor ternyata hanya isapan jempol belaka, membuat para lintah darat semakin berjaya.
Tiga serangkai lintah darat, rentenir dan bank keliling tak pernah puas meraup keuntungan sebesar - besarnya dengan menjerat warga yang sedang kesulitan melalui pinjaman uang berbuntut bunga besar.
Penelusuran Berita Bogor diwilayah Bojonggede, sasaran para lintah darat adalah para pedagang kecil dan warga yang ekonominya pas-pasan. Seperti dituturkan Ny.Ela (42) yang terpaksa meminjam dana Rp1,5 Juta untuk membayar kontrakan rumah.
"Saya meminjam karena terpaksa, banyak tetangga saya yang bermobil dan rumahnya, tapi saat saya mohon pinjaman tak berhasil satu orang pun yang menolong. Padahal, saya kerap menolong mereka disaat membutuhkan. Yah terpaksa saya meminjam kepada tante rentenir," ungkapnya.
Dengan pinjaman sebesar itu, dirinya harus mencicil Rp400 Ribu selama 10 bulan. "Itu pun dari pinjaman dipotong sepuluh persen. Sempat sih dinasehati suami agar pindah kontrakan saja daripada pinjam rentenir, tapi kan kalo pindah kontrakan harus mengeluarkan biaya angkut yang besar juga. Sedangkan yang punya kontrakan tidak mau tahu kalau tidak bayar tepat waktu akan diusir," sesalnya.
Dilokasi berbeda desa Cinangka Ciampea tak kalah maraknya praktik rentenir yang menjerat petani. Eman (56) petani sayur mayur ini sudah berlangganan meminjam uang melalui bank keliling. "Pinjamannya sebesar Rp1 Juta tapi yang Abah terima hanya Rp900 Ribu. Uang itu untuk biaya hidup selama menunggu panen," katanya kepada Berita Bogor.
Menurut pengakuannya, masyarakat di desa itu mengandalkan rentenir disaat membutuhkan uang. Hal ini sudah belasan tahun berlangsung lantaran tidak ada sumber pinjaman yang dapat membantu mereka dari jerat kesulitan ekonomi.
Sedangkan di Cibinong, seorang pedagang ketoprak yang biasa mangkal di Jalan Bersih juga mengalami hal serupa.
"Untuk modal dagang saya pinjam sama Opung Bindeng, semula hanya Rp100 Ribu yang dipotong sepuluh persen dan pengembaliannya berbunga 30 persen. Sekarang malah bisa pinjam Rp500 Ribu karena musim hujan ini dagangan sepi, kang," ungkap Yayan (29) saat ditemui Berita Bogor, Rabu (23/1/2013) malam.
Ketua IWAPI Kabupaten Bogor, Ratu Naelamuna juga mengungkap fenomena yang terjadi di wilayah kabupaten Bogor yang memiliki Slogan TEGAR BERIMAN ini.
Dia menuturkan sebanyak 20 persen anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Bogor terjerat lintah darat. "Dari 1007 anggota IWAPI sebanyak 20 persen terjebak lintah darat atau rentenir," ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Bogor ini.
Menurut Ratu, terkait dengan kemudahan yang ditawarkan oleh para rentenir. Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tidak perlu repot-repot kalau mengajukan pinjaman. Rentenir, mudah menyalurkan kredit atau pinjaman walau tanpa agunan.
Kondisinya berbeda seratus delapan puluh derajat bila mengajukan kredit ke perbankan yang harus memenuhi syarat, antara lain ketersediaan agunan. Bank keliling berbunga mencekik itu bisa setiap hari menawarkan pinjaman dengan pengembalian bisa dicicil. (als)
Editor: Alsabili
Email: beritabogor2002@ gmail.com
Tiga serangkai lintah darat, rentenir dan bank keliling tak pernah puas meraup keuntungan sebesar - besarnya dengan menjerat warga yang sedang kesulitan melalui pinjaman uang berbuntut bunga besar.
Penelusuran Berita Bogor diwilayah Bojonggede, sasaran para lintah darat adalah para pedagang kecil dan warga yang ekonominya pas-pasan. Seperti dituturkan Ny.Ela (42) yang terpaksa meminjam dana Rp1,5 Juta untuk membayar kontrakan rumah.
"Saya meminjam karena terpaksa, banyak tetangga saya yang bermobil dan rumahnya, tapi saat saya mohon pinjaman tak berhasil satu orang pun yang menolong. Padahal, saya kerap menolong mereka disaat membutuhkan. Yah terpaksa saya meminjam kepada tante rentenir," ungkapnya.
Dengan pinjaman sebesar itu, dirinya harus mencicil Rp400 Ribu selama 10 bulan. "Itu pun dari pinjaman dipotong sepuluh persen. Sempat sih dinasehati suami agar pindah kontrakan saja daripada pinjam rentenir, tapi kan kalo pindah kontrakan harus mengeluarkan biaya angkut yang besar juga. Sedangkan yang punya kontrakan tidak mau tahu kalau tidak bayar tepat waktu akan diusir," sesalnya.
Dilokasi berbeda desa Cinangka Ciampea tak kalah maraknya praktik rentenir yang menjerat petani. Eman (56) petani sayur mayur ini sudah berlangganan meminjam uang melalui bank keliling. "Pinjamannya sebesar Rp1 Juta tapi yang Abah terima hanya Rp900 Ribu. Uang itu untuk biaya hidup selama menunggu panen," katanya kepada Berita Bogor.
Menurut pengakuannya, masyarakat di desa itu mengandalkan rentenir disaat membutuhkan uang. Hal ini sudah belasan tahun berlangsung lantaran tidak ada sumber pinjaman yang dapat membantu mereka dari jerat kesulitan ekonomi.
Sedangkan di Cibinong, seorang pedagang ketoprak yang biasa mangkal di Jalan Bersih juga mengalami hal serupa.
"Untuk modal dagang saya pinjam sama Opung Bindeng, semula hanya Rp100 Ribu yang dipotong sepuluh persen dan pengembaliannya berbunga 30 persen. Sekarang malah bisa pinjam Rp500 Ribu karena musim hujan ini dagangan sepi, kang," ungkap Yayan (29) saat ditemui Berita Bogor, Rabu (23/1/2013) malam.
Ketua IWAPI Kabupaten Bogor, Ratu Naelamuna juga mengungkap fenomena yang terjadi di wilayah kabupaten Bogor yang memiliki Slogan TEGAR BERIMAN ini.
Dia menuturkan sebanyak 20 persen anggota Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia (IWAPI) Kabupaten Bogor terjerat lintah darat. "Dari 1007 anggota IWAPI sebanyak 20 persen terjebak lintah darat atau rentenir," ujar mantan anggota DPRD Kabupaten Bogor ini.
Menurut Ratu, terkait dengan kemudahan yang ditawarkan oleh para rentenir. Pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) tidak perlu repot-repot kalau mengajukan pinjaman. Rentenir, mudah menyalurkan kredit atau pinjaman walau tanpa agunan.
Kondisinya berbeda seratus delapan puluh derajat bila mengajukan kredit ke perbankan yang harus memenuhi syarat, antara lain ketersediaan agunan. Bank keliling berbunga mencekik itu bisa setiap hari menawarkan pinjaman dengan pengembalian bisa dicicil. (als)
Editor: Alsabili
Email: beritabogor2002@ gmail.com

Tidak ada komentar