Pesisir Jakarta Tenggelam Bukan Isapan Jempol
Akhir Februari 2013 pesisir Jakarta terancam banjir besar kembali, warga diminta waspada terjadinya kemungkinan yang menimbulkan kerugian.
Banjir kiriman, ROB melanda dan curah hujan tinggi sementara pemompaan air tak mampu menyedot air serta tidak adanya lokasi pembuangan air akan mengalami banjir besar.
Hal ini diprakirakan Firdaus Ali, Dosen Teknik UI, Jum'at (25/1/2013).
Kondisi cuaca, kondisi fisik daerah banjir, kondisi pembuangan air laut terus dipantau guna mengantisipasi potensi banjir besar terjadi. Sementara BMKG memprakirakan awal Februari merupakan puncak musim hujan dengan intensitas tinggi, meskipun tidak ekstrim.
"Bila kondisi lahan terus menerus diubah fungsi menjadi permukiman dan masyarakatnya belum menyadari dampak bencana yang akan mengancam, maka bencana banjir besar bukan hanya isapan jempol. Air akan menggerus pesisir Jakarta," terangnya.
Kondisi riil Jakarta Utara
Kondisi fisik daerah resapan air diperparah dengan adanya ruang terbuka hijau dan waduk yang ada di Jakarta juga mengalami perubahan fungsi akibat bertambahnya permukiman penduduk. Seluas 20 hektar dari total 80 hektar lahan di sekitar Waduk Pluit kini telah beralih fungsi menjadi pemukiman liar. Akibatnya, saat hujan banjir kiriman dan air laut pasang, tidak mampu ditampung lagi di waduk yang makin menyemit dengan bangunan tersebut.
Hal ini dibenarkan Koordinator Pengerukan Waduk Pluit Penjaringan Jakarta Utara, Hariyanto, Jumat (25/1/2013). Permukiman semakin padat di area semenjak tahun 1990, dan ramai-ramai membuat bangunan semi permanen dengan menjadikan tanggul waduk sebagai tempat penyangga bangunan.
Terpisah Surono warga Papanggo mengungkapkan waduk di kawasan Sunter Ancol Jakarta Utara juga mengalami penyempitan dan semakin dangkal. Menurutnya perlu dilakukan sterililisasi waduk sangat penting untuk menampung volume air yang masuk. "Sebab, warga yang tinggal di sekitar waduk, memiliki kebiasaan buruk dalam hal pengelolaan sampah. Sebab, mereka kerap membuang sampah seenaknya ke lokasi waduk sehingga menambah dangkal waduk," sesalnya.
Saat dihubungi Berita Bogor, Jum'at (25/1/2013), M.Najib Rasyid tokoh Jakarta Utara mengatakan kawasan pesisir marunda yang semula sebagai ruang terbuka hijau, kini sudah berubah fungsi menjadi kawasan berikat nusantara marunda, pom bensin, rumah susun dan maraknya bangunan - bangunan liar.
"Selain menyebabkan berkurangnya kawasan resapan air juga membuat Jakarta tidak lagi memiliki kawasan pembuangan dari sungai Cakung Drain," ungkap dia.
Dirinya juga menyesalkan maraknya perkantoran dan apartemen di daerah Kelapa Gading, Kemayoran dan Sunter Agung yang menjulang tinggi tanpa memikirkan ruang penyerapan air yang ideal. Akibatnya, wilayah pesisir mengalami bencana saat ROB dan banjir kiriman melanda Jakarta Utara. (als)
Editor: Alsabili
Email: beritabogor2002@ gmail.com

Tidak ada komentar