Warisan Budaya Leluhur
KOTA BOGOR - kecintaannya terhadap seni bela diri warisan asli leluhur Bogor ini, didasari kepeduliannya terhadap seni tradisi yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda.
Pentas Seni Budaya Sunda yang digagas oleh Komunitas Taman Kencana (Ko TK) semakin menarik dengan kehadiran seorang nenek yang ikut meramaikan pentas yang digelar rutin dua minggu sekali tersebut.
Dalam pentas yang digelar Minggu (6/1/2013), seorang nenek berusia 83 menarik perhatian masyarakat yang berada diarea Taman Kencana
Bogor. Ma Unas, meski usianya sudah senja namun masih trengginas memainkan jurus-jurus silat Cimande. Nenek beranak 4 dan bercucu 15 serta bercicit 12 ini selain memainkan tangan kosong, juga piawai memainkan senjata tajam golok.
“Ema menggeluti seni pencak silat Cimande sejak umur 7 tahun, dan seminggu ini sudah manggung di tiga tempat,” tuturnya. Ma Unas mengaku, bahwa dirinya berguru saat masih tergabung di Padepokan Silat Cakra Pusaka yang berlokasi di Desa Cinangneng Kecamatan Ciampea Kab. Bogor.
Menurut dia, kecintaannya terhadap seni bela diri warisan asli leluhur Bogor ini, didasari kepeduliannya terhadap seni tradisi yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda Bogor serta upaya mempertahankan kebugaran tubuhnya agar tetap sehat. “Masa Ema yang sudah tua seperti ini masih mau memperagakan jurus-jurus silat, tapi anak-anak muda sekarang tidak mau mempelajarinya,” ujarnya.
Meski Kota Bogor sepanjang hari diguyur hujan namun pentas seni budaya sunda yang mengusung “Pakuan Midang” ini terasa meriah.
Pentas yang digelar tanpa panggung itu dimulai dari pukul 12.00 wib hingga pukul 16.00 wib Berbagai atraksi seni tidak hanya dilakukan oleh para seniman lokal Kota Bogor, tapi juga dimeriahkan para seniman dari Kabupaten Bogor, Cianjur, Ciputat Tangerang dan Bandung.
Arman Jaka Sunda salah satu panitia pelaksana Pakuan Midang mengatakan, berbagai padepokan dari kota dan kabupaten di Jawa Barat turut memeriahkan agenda budaya yang digelar sebulan dua kali tersebut, antara lain Pajajaran Satatar Sunda, Putra Pajajaran, Pusaka Wargi, Daya Sunda dan yang lainnya.
Berbagai pintonan seni tradisi dipertunjukkan seperti Pantun Rajah, Pedaran Sejarah oleh Budayawan Bogor, Eman Soelaeman, Karinding, Calung, Pencak Silat, Tari Tradisi, Kacapi Suling dan yang lainnya.
Pementasan tersebut mendapat sambutan postif dari sejumlah masyarakat di Kota Bogor. “ Saya berharap kegiatan seperti bisa terus berlanjut, dengan tujuan memperkenalkan dan melestarikan seni budaya tradisi kepada generasi muda, “kata Decky Mulyadi (37) yang sengaja datang bersama anak-istrinya menyaksikan pentas yang seni yang sangat langka ini.
Decky menilai, bahwa kegitan ini sangat postif, namun harus ada dukungan dari stakeholder baik pemerintah maupun swasta. “ Ini sangat menarik dan bisa menjaring wisatawan datang ke Bogor. Makanya, saya berharap Pemerintaj Kota Bogor dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwista (Disbudpar) harus memberikan perhatian, “ tukasnya.
Menurutnya, dukungan dari Disbudpar dan kalangan swasta termasuk organisasi kepariwisataan sangat diperlukan sehingga para seniman yang telah menggagas kegiatan yang cukup bagus ini tidak kehabisan “nafas” di tengah jalan.
Hal senada diungkapkan salah satu tokoh Bogor Arifin Himawan yang sengaja datang menyaksikan pentas ini. “ Saya menyamaikan apresiasi kepada para seniman sunda yang telah menggagas pementasan secara rutin sebulan dua kali ini, “ ucapnya.
Selain dihadiri sejumlah tokoh, pentas seni budaya sunda kali juga dihadiri Tubagus Saptani salah satu utusan utusan dari Kasultanan Banten. Saptani datang bersama rombongannya, mengenakan baju batik khas Banten lengkap dengan totopongnya. (eka)
Editor: Michelle
Email: beritabogor2002@ gmai.com
Pentas Seni Budaya Sunda yang digagas oleh Komunitas Taman Kencana (Ko TK) semakin menarik dengan kehadiran seorang nenek yang ikut meramaikan pentas yang digelar rutin dua minggu sekali tersebut.
Dalam pentas yang digelar Minggu (6/1/2013), seorang nenek berusia 83 menarik perhatian masyarakat yang berada diarea Taman Kencana
Bogor. Ma Unas, meski usianya sudah senja namun masih trengginas memainkan jurus-jurus silat Cimande. Nenek beranak 4 dan bercucu 15 serta bercicit 12 ini selain memainkan tangan kosong, juga piawai memainkan senjata tajam golok.
“Ema menggeluti seni pencak silat Cimande sejak umur 7 tahun, dan seminggu ini sudah manggung di tiga tempat,” tuturnya. Ma Unas mengaku, bahwa dirinya berguru saat masih tergabung di Padepokan Silat Cakra Pusaka yang berlokasi di Desa Cinangneng Kecamatan Ciampea Kab. Bogor.
Menurut dia, kecintaannya terhadap seni bela diri warisan asli leluhur Bogor ini, didasari kepeduliannya terhadap seni tradisi yang saat ini mulai ditinggalkan oleh generasi muda Bogor serta upaya mempertahankan kebugaran tubuhnya agar tetap sehat. “Masa Ema yang sudah tua seperti ini masih mau memperagakan jurus-jurus silat, tapi anak-anak muda sekarang tidak mau mempelajarinya,” ujarnya.
Meski Kota Bogor sepanjang hari diguyur hujan namun pentas seni budaya sunda yang mengusung “Pakuan Midang” ini terasa meriah.
Pentas yang digelar tanpa panggung itu dimulai dari pukul 12.00 wib hingga pukul 16.00 wib Berbagai atraksi seni tidak hanya dilakukan oleh para seniman lokal Kota Bogor, tapi juga dimeriahkan para seniman dari Kabupaten Bogor, Cianjur, Ciputat Tangerang dan Bandung.
Arman Jaka Sunda salah satu panitia pelaksana Pakuan Midang mengatakan, berbagai padepokan dari kota dan kabupaten di Jawa Barat turut memeriahkan agenda budaya yang digelar sebulan dua kali tersebut, antara lain Pajajaran Satatar Sunda, Putra Pajajaran, Pusaka Wargi, Daya Sunda dan yang lainnya.
Berbagai pintonan seni tradisi dipertunjukkan seperti Pantun Rajah, Pedaran Sejarah oleh Budayawan Bogor, Eman Soelaeman, Karinding, Calung, Pencak Silat, Tari Tradisi, Kacapi Suling dan yang lainnya.
Pementasan tersebut mendapat sambutan postif dari sejumlah masyarakat di Kota Bogor. “ Saya berharap kegiatan seperti bisa terus berlanjut, dengan tujuan memperkenalkan dan melestarikan seni budaya tradisi kepada generasi muda, “kata Decky Mulyadi (37) yang sengaja datang bersama anak-istrinya menyaksikan pentas yang seni yang sangat langka ini.
Decky menilai, bahwa kegitan ini sangat postif, namun harus ada dukungan dari stakeholder baik pemerintah maupun swasta. “ Ini sangat menarik dan bisa menjaring wisatawan datang ke Bogor. Makanya, saya berharap Pemerintaj Kota Bogor dalam hal ini Dinas Kebudayaan dan Pariwista (Disbudpar) harus memberikan perhatian, “ tukasnya.
Menurutnya, dukungan dari Disbudpar dan kalangan swasta termasuk organisasi kepariwisataan sangat diperlukan sehingga para seniman yang telah menggagas kegiatan yang cukup bagus ini tidak kehabisan “nafas” di tengah jalan.
Hal senada diungkapkan salah satu tokoh Bogor Arifin Himawan yang sengaja datang menyaksikan pentas ini. “ Saya menyamaikan apresiasi kepada para seniman sunda yang telah menggagas pementasan secara rutin sebulan dua kali ini, “ ucapnya.
Selain dihadiri sejumlah tokoh, pentas seni budaya sunda kali juga dihadiri Tubagus Saptani salah satu utusan utusan dari Kasultanan Banten. Saptani datang bersama rombongannya, mengenakan baju batik khas Banten lengkap dengan totopongnya. (eka)
Editor: Michelle
Email: beritabogor2002@ gmai.com

Tidak ada komentar