Budaya Lingkungan SMKN 1 Cibinong
CIBINONG - Memperingati Hari Bumi melalui lestari lingkungan, cegah pencemaran dan kerusakan.
Pelajar SMKN 1 Cibinong yang duduk di kelas 1 ternyata telah mengenyam ilmu pengenalan biotik pencemaran budaya lingkungan sejak dua dekade terkahir ini.
Hal ini terungkap saat Berita Bogor mewawancarai guru IPA-PLH SMKN 1 Cibinong Nenden Nurhayanti, S.Pd, jebolan kampus IPB Bogor.
"Ilmu pelajaran tentang biotik pencemaran budaya lingkungan sudah kami ajarkan kepada siswa kelas 1, lalu ketika siswa duduk di kelas 2 kami ajarkan takakura metode kompos skala rumah tangga dimana setiap hari mereka mengolah sampah yang dicacah dicampur dalam satu wadah atau lubang berdiameter 3 x 3 meter persegi.
Sedangkan untuk kelas 3 sudah sampai pada inisiatif siswa mengolah segala jenis sampah yang bisa diolah secara Reduce, Rcycle, Reuse yang memiliki dampak manfaat secara lingkungan maupun ekonomi.
"Semisal, seorang siswa yang ibunya berjualan gado - gado sudah bisa mengolah limbah dagangan ibunya ke dalam bentuk kompos yang di kemas dan dapat dijual sebagai pupuk ke pedagang tanaman hias yang ada di Jalan Tegar Beriman. Ada pula yang mengumpulkan kertas bekas dari sekolah lalu dibuat kerajinan tangan yang hasil produknya di jual kepada tetangga atau rekan sekelasnya," paparnya.
Hal ini menunjukkan bahwa bila anak kita tanamkan suatu keilmuan dan didampingi secara rutin oleh guru maupun orang tua melalui pendidikan ilmu terapan, maka para anak itu akan memotivasi dirinya sendiri untuk berkreasi atas dasar inisiatif sendiri.
Dirinya merasakan jam pelajaran ini tiap minggunya masih dirasa kurang, siswa belajar seminggu hanya dua jam. "Idealnya perlu ditambah dua jam tambahan atau praktik dirumah dan aplikasi yang diberikan guru. Mereka menjadi generasi yang mencintai lingkungan," pintanya. (aml)
Pelajar SMKN 1 Cibinong yang duduk di kelas 1 ternyata telah mengenyam ilmu pengenalan biotik pencemaran budaya lingkungan sejak dua dekade terkahir ini.
Hal ini terungkap saat Berita Bogor mewawancarai guru IPA-PLH SMKN 1 Cibinong Nenden Nurhayanti, S.Pd, jebolan kampus IPB Bogor.
"Ilmu pelajaran tentang biotik pencemaran budaya lingkungan sudah kami ajarkan kepada siswa kelas 1, lalu ketika siswa duduk di kelas 2 kami ajarkan takakura metode kompos skala rumah tangga dimana setiap hari mereka mengolah sampah yang dicacah dicampur dalam satu wadah atau lubang berdiameter 3 x 3 meter persegi.
Sedangkan untuk kelas 3 sudah sampai pada inisiatif siswa mengolah segala jenis sampah yang bisa diolah secara Reduce, Rcycle, Reuse yang memiliki dampak manfaat secara lingkungan maupun ekonomi.
"Semisal, seorang siswa yang ibunya berjualan gado - gado sudah bisa mengolah limbah dagangan ibunya ke dalam bentuk kompos yang di kemas dan dapat dijual sebagai pupuk ke pedagang tanaman hias yang ada di Jalan Tegar Beriman. Ada pula yang mengumpulkan kertas bekas dari sekolah lalu dibuat kerajinan tangan yang hasil produknya di jual kepada tetangga atau rekan sekelasnya," paparnya.
Hal ini menunjukkan bahwa bila anak kita tanamkan suatu keilmuan dan didampingi secara rutin oleh guru maupun orang tua melalui pendidikan ilmu terapan, maka para anak itu akan memotivasi dirinya sendiri untuk berkreasi atas dasar inisiatif sendiri.
Dirinya merasakan jam pelajaran ini tiap minggunya masih dirasa kurang, siswa belajar seminggu hanya dua jam. "Idealnya perlu ditambah dua jam tambahan atau praktik dirumah dan aplikasi yang diberikan guru. Mereka menjadi generasi yang mencintai lingkungan," pintanya. (aml)
Editor: Annisa Ramadhan
Email: beritabogor2002@gmail.com

Tidak ada komentar