Warga Ciawi 14 Tahun Derita Pembesaran Kaki
CIAWI - Fredy pasrah kaki kian membesar setiap hari.
Selama 14 tahun, Fredy Bayu Prakoso (24), warga Kampung Jero Rante, RT 04/RW 04, Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi mengalami penderitaan cukup panjang.
Pemuda dari pasangan Pipih Martini dan Edi Sutrisno ini mulai mengalami keanehan. Kakinya terus membesar hingga mencapai bobot 25 kilogram. Bukan itu saja, kaki Fredy juga mengeluarkan nanah yang berbau busuk.
Pipih (44) ibunda tercinta Fredy menuturkan, kejadian yang menimpa anaknya itu terjadi ketika Fredy berusia 10 tahun, saat tinggal bersama neneknya yang bernama Sukiyem di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Suatu ketika setelah Fredy pulang sekolah tepatnya 10 Februari 1999 sekitar pukul 13:15 wib, Ia bersama beberapa temannya yang lain bersepeda disekitar rumah dan terjatuh setelah menabrak sebuah pohon karet berdiameter 30 cm dan mengalami luka lecet dikedua kakinya lantas luka dikedua kakinya itu pun diobati sang Nenek.
Seiring berkembangnya waktu, kaki Fredy terus membengkak dan sulit untuk digerakan.
Berbagai upaya pun telah ditempuh pihak keluarga, dimulai dengan perawatan medis di rumah sakit hingga menempuh jalur pengobatan alternatif hasilnya pun tetap nihil dan kakinya semakin membesar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis di beberapa rumah sakit dan Puskesmas maupun beberapa para normal, penyakit Fredy tersebut tidak bisa diketahui penyebab utamanya dan tensi darah maupun trombositnya pun normal.
Hasil medis dan labolatorium menyatakan bahwa kondisi Fredy tergolong normal, dan pembengkakan kakinya bukan karena gigitan nyamuk Culex fatiqans yang bisa menjadi perantara penyakit kaki Gajah atau filariasis.
Kondisi kesulitan ekonomi yang melilit keluarga pasca perceraian kedua orang tuanya itu, membuat dirinya harus tetap tabah. "Saya pasrah mas, ini mungkin sudah nasib walaupun sebenarnya pengen sembuh dan hidup normal," ucapnya, seraya menitikan air mata. (red/pakar)
foto: ilustrasi
Selama 14 tahun, Fredy Bayu Prakoso (24), warga Kampung Jero Rante, RT 04/RW 04, Desa Bendungan, Kecamatan Ciawi mengalami penderitaan cukup panjang.
Pemuda dari pasangan Pipih Martini dan Edi Sutrisno ini mulai mengalami keanehan. Kakinya terus membesar hingga mencapai bobot 25 kilogram. Bukan itu saja, kaki Fredy juga mengeluarkan nanah yang berbau busuk.
Pipih (44) ibunda tercinta Fredy menuturkan, kejadian yang menimpa anaknya itu terjadi ketika Fredy berusia 10 tahun, saat tinggal bersama neneknya yang bernama Sukiyem di Desa Randu Merak, Kecamatan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Suatu ketika setelah Fredy pulang sekolah tepatnya 10 Februari 1999 sekitar pukul 13:15 wib, Ia bersama beberapa temannya yang lain bersepeda disekitar rumah dan terjatuh setelah menabrak sebuah pohon karet berdiameter 30 cm dan mengalami luka lecet dikedua kakinya lantas luka dikedua kakinya itu pun diobati sang Nenek.
Seiring berkembangnya waktu, kaki Fredy terus membengkak dan sulit untuk digerakan.
Berbagai upaya pun telah ditempuh pihak keluarga, dimulai dengan perawatan medis di rumah sakit hingga menempuh jalur pengobatan alternatif hasilnya pun tetap nihil dan kakinya semakin membesar.
Berdasarkan hasil pemeriksaan medis di beberapa rumah sakit dan Puskesmas maupun beberapa para normal, penyakit Fredy tersebut tidak bisa diketahui penyebab utamanya dan tensi darah maupun trombositnya pun normal.
Hasil medis dan labolatorium menyatakan bahwa kondisi Fredy tergolong normal, dan pembengkakan kakinya bukan karena gigitan nyamuk Culex fatiqans yang bisa menjadi perantara penyakit kaki Gajah atau filariasis.
Kondisi kesulitan ekonomi yang melilit keluarga pasca perceraian kedua orang tuanya itu, membuat dirinya harus tetap tabah. "Saya pasrah mas, ini mungkin sudah nasib walaupun sebenarnya pengen sembuh dan hidup normal," ucapnya, seraya menitikan air mata. (red/pakar)
foto: ilustrasi


Tidak ada komentar