header_ads

Istana Bogor Bukan Tempat Saklar

Meniti sebuah rilis buku sejarah perpaduan unsur fiksi, dan realita. 

Komunitas Seni Budaya dan Sejarah dari LEAD Yayasan Pembangunan Indonesia (YPI) sekaligus pengarang Novel Negeri 5 Menara Ahmad Fuadi dan Danya “Yayi” Dewanti melakukan kunjungan ke Istana Bogor, Sabtu (1/2) kemarin. 

Kunjungan yang berlangsung mulai pukul 09.00 hingga 12.00 Wib ini dalam rangka rencana penyusunan buku tentang kiprah dan sejarah Istana Bogor yang memadukan unsur sejarah, fiksi, dan realita agar lebih menarik dan memiliki nilai edukasi. 

Rombongan di terima langsung oleh Endang Sumitra selaku Kasubag Rumah Tangga dan Protokol pada Istana Kepresidenan  Bogor yang turut mendampingi rombongan ke ruang paviliun guna melakukan diskusi tentang seputar sejarah Istana Bogor, para petinggi di Indonesia dan dunia yang telah singgah di Istana Bogor. Bahkan, kisah tentang wangsit Prabu Siliwangi dan pantun Pa Cilong. 

Sementara, Ketua Sanggar Mutiara, Dini Wardianti mengatakan Istana Bogor memiliki magnet dan kekuatan tersendiri bagi perkembangan sastra di Bogor. Hal itu berawal dari sastra lisan yang seringkali di dangdingkan atau di bacakan oleh Ki Cilong yang makamnya berada di TPU Blender Kota Bogor. "Jarang sekali orang menggali nilai sejarah dan filsafat terkandung didalam pantun tersebut karena kurang tersosialisasikan secara menyeluruh khususnya di kalangan pelajar dan mahasiswa," kata Dini.

Oleh karena itu, lanjut Dini, Sanggar Mutiara akan menggali lebih dalam tidak hanya dibahas dalam seminar, saresehan, lomba, bahkan akan di Visualisasikan dalam bentuk gambar agar mudah dicerna oleh masyarakat Bogor. 

Sementara, Budayawan sekaligus Ketua Umum Yayasan Mulyatama Nusantara dan Yayasan Satyacitra Indonesia, Ace Sumanta mengomentari moment perjalanan ini sangat tepat dikala orang melupakan tentang sejarah dan seakan-akan istana adalah tempat yang sakral tidak boleh di kunjungi oleh masyarakat umum. 

"Ternyata Istana Bogor sangat terbuka bahkan telah menyiapkan pemandu professional agar masyarakat lebih memahami dan merasa di negerinya sendiri yang kaya seni budaya, sejarah, maupun keindahan alam karena di istana bisa mewakili itu semua," tutur Ace kepada Berita Bogor, Senin (3/2/2014). 

Dalam kunjungan itu sekaligus pengalaman bagi sastrawan beken novelis Ahmad Fuadi yang terkesan dan antusias mengambil gambar dan moment yang tepat. Ahmad Fuadi menyerahkan Novel Negeri 5 Menara pada Endang Sumitra, Sanggar Mutiara dan kepada budayawan Ace Sumanta.  (acs)



Editor: MICHELLE

Diberdayakan oleh Blogger.