header_ads

Kalangan Kecam Sikap Putri Indonesia

Bogor Kecolongan, Putri Indonesia melenggang di BSB.

Kedatangan Ratu Kecantikan Dunia dan Putri Indonesia ke Botani Square Bogor (BSB) dalam helaran The Prosperous Year, Sabtu (1/2) lalu, membuat sejumlah kalangan geram lantaran bumi Bogor dinodai oleh kegiatan yang terkesan modhorat sama sekali tak bermakna bagi kehidupan masyarakat Bogor. 

Ketua Forum Umat Islam (FUI) Bogor Raya Ustadz Iyus Khaerunnas yang kemudian mendengar terselenggaranya acara itu, menilai kehadiran Putri Indonesia di Bogor hanya berdalih memperkenalkan budaya Indonesia. "Itu semua hanya kedok organizer yang mengejar keuntungan pribadi. Seni tradisi Jawa Barat jangan sekedar dijadikan pelengkap seremonial hanya untuk menyedot pengunjung," katanya saat dihubungi Berita Bogor, Senin (3/2/2014).

Ketua Gerakan Persaudaraan Putra Pribumi (GPPP) Bogor Raya, H.Rachmat Gunawan menilai warga Bogor telah kecolongan oleh terselenggaranya even di BSB. "Apa itu ratu kecantikan, adakah leluhur kita mewarisi itu?, jelas ini bertentangan dengan upaya Pemerintahan Bogor bersama warganya dalam melestarikan budaya dan kearifan lokal," kecam pria yang berjanji akan mendesak pihak kepolisian dan Pemkot Bogor untuk melakukan black list kepada organizer yang menyelenggarakan  even adopsi budaya barat. 

Tak hanya itu, Budayawan Kota Bogor, Ace Sumanta juga mengkritisi even yang menjadikan seni tradisi Sunda hanya sebagai pelengkap acara apalagi penyelenggaraannya berada di bumi Jawa Barat, termasuk Bogor. "Kita sangat demokratis menghargai siapapun berkunjung ke kota hujan ini. Kita tidak boleh menelan bulat-bulat budaya barat, tapi kita harus menggiring siapapun yang datang untuk memahami tradisi dan budaya Sunda sekaligus ikut melestarikannya," tegas Ace.

Sementara. Warga Bogor, Suharjana (38) yang pengunjung Botani dan sempat menyaksikan even tiu mengatakan pelecehan budaya lokal telah terjadi, bahkan Putri Indonesia yang salah satu tugasnya sebagai duta budaya ternyata tak mampu bicara dan terkesan tak peduli dengan penyambutan yang dilaksanakan dengan gelaran kesenian Jawa Barat.

Hal senada disampaikan Haris Firmansyah (41), bahwa Botani yang seharusnya  memperkenalkan seni dan budaya lokal tapi justeru tak bergeming, sama halnya dengan Putri Indonesia. “Keliatannya, Botani hanya memanfaatkan kesenian daerah hanya sekedar melengkapi kegiatan seremonialnya saja. Dan kedatangan kedua wanita yang dianggap paling cantik itu hanya salah satu cara untuk tambah  meramaikan mal,” tandasnya. (herman)

 


Editor: Alsabili

Diberdayakan oleh Blogger.