ADIAN NAPITUPULU Pejuang 16 Tahun Reformasi
Aku
masih ingat dan tak akan lupa, untuk Marsinah, Udin Bernas dan Para
Pejuang Demokrasi di Indonesia.
Dulu ketika kami demonstrasi, kalian ambil bedil dan kami kalian tembaki, kalian bicara di koran, radio dan telivisi mencaci maki kami, rotan kalian tak letih merajam tubuh kami, tongkat setrum kalian memanggang hangus kulit kami, gas air mata kalian merusak paru2 kami, satu persatu kawan kami kalian culik, bunuh dan tak kembali.
Ketika perjuangan kami berhasil menumbangkan Tirani yg kalian bela, tiba-tiba kalian yg bergembira, muncul mengisi halaman media, dan kalian menjadi pahlawan yang paling berjasa. Lalu kalian bicara tentang Demokrasi, tentang nilai-nilai keadilan, kebenaran. tentang semua yang dulu kalian haramkan.
Tuan dan Nyonya, mungkin kalian punya uang yang bisa membeli halaman muka semua media. Kalian punya uang untuk tampil sumringah di layar kaca seolah tak berdosa bahkan paling berjasa. Tapi jangan lupa Tuan dan Nyonya, anyir darah kawan-kawan kami tak akan pernah hilang dari hidung kami. Tak akan hilang walau kau muncul setiap hari dimedia apapun. Kejahatan kalian tak akan hilang walau kalian memborong iklan.
Tuan dan Nyonya, engkau mungkin bisa membohongi beberapa orang untuk beberapa waktu, tapi engkau tak akan pernah bisa membohongi semua orang untuk selamanya.
Tulisan ini didedikasikan untuk 4 mahasiswa yang gugur di Trisakti, 9 gugur di semanggi, 2 gugur di Lampung, 1 gugur di Palembang, 2 gugur di Sumatera Utara. Tulisan ini juga didedikasikan untuk Marsinah dan mahasiswa yang gugur dalam April Makasar berdarah, untuk Udin Bernas, Tulisan ini aku buat untuk mereka yang di culik dan tak kembali, untuk mereka yg berjuang dengan gagah berani.
Penulis: Adian Napitupulu, Sekjen PENA 98
.
Dulu ketika kami demonstrasi, kalian ambil bedil dan kami kalian tembaki, kalian bicara di koran, radio dan telivisi mencaci maki kami, rotan kalian tak letih merajam tubuh kami, tongkat setrum kalian memanggang hangus kulit kami, gas air mata kalian merusak paru2 kami, satu persatu kawan kami kalian culik, bunuh dan tak kembali.
Ketika perjuangan kami berhasil menumbangkan Tirani yg kalian bela, tiba-tiba kalian yg bergembira, muncul mengisi halaman media, dan kalian menjadi pahlawan yang paling berjasa. Lalu kalian bicara tentang Demokrasi, tentang nilai-nilai keadilan, kebenaran. tentang semua yang dulu kalian haramkan.
Tuan dan Nyonya, mungkin kalian punya uang yang bisa membeli halaman muka semua media. Kalian punya uang untuk tampil sumringah di layar kaca seolah tak berdosa bahkan paling berjasa. Tapi jangan lupa Tuan dan Nyonya, anyir darah kawan-kawan kami tak akan pernah hilang dari hidung kami. Tak akan hilang walau kau muncul setiap hari dimedia apapun. Kejahatan kalian tak akan hilang walau kalian memborong iklan.
Tuan dan Nyonya, engkau mungkin bisa membohongi beberapa orang untuk beberapa waktu, tapi engkau tak akan pernah bisa membohongi semua orang untuk selamanya.
Tulisan ini didedikasikan untuk 4 mahasiswa yang gugur di Trisakti, 9 gugur di semanggi, 2 gugur di Lampung, 1 gugur di Palembang, 2 gugur di Sumatera Utara. Tulisan ini juga didedikasikan untuk Marsinah dan mahasiswa yang gugur dalam April Makasar berdarah, untuk Udin Bernas, Tulisan ini aku buat untuk mereka yang di culik dan tak kembali, untuk mereka yg berjuang dengan gagah berani.
Penulis: Adian Napitupulu, Sekjen PENA 98
.
