header_ads

Petani Puncak Bogor Resah Alih Fungsi Lahan

BERITA BOGOR - Para petani di kawasan Megamendung Puncak Bogor semakin resah lantaran lahan pertanian kian tersingkir.  

Maraknya pembangunan perumahan dan property di kawasan Megamendung, Puncak, Kabupaten Bogor menjadi momok bagi para petani. Pasalnya, lahan pertanian yang menjadi sumber kehidupannya semakin berkurang. 

Hal tersebut diungkap oleh petani Kedelai Jepang (Edamame) di Kampung Pasir Kaliki, Desa Sukamaju, Kecamatan Megamendung, Sam (42). “Disekitar Kampung Maleber, dulu beberapa petani saya masih bisa menanam, tapi karena sudah di beli oleh pengembang, akhirnya mereka sudah tidak bisa menanam lagi, saya terpaksa mencari petani-petani di pedalaman lagi” ujarnya, Kamis (3/7/2014).

Selama lima tahun terakhir ini, Sam mengandalkan hidup dari plasma petani dengan menanam Kedelai Jepang. “Kalau pembangunan perumahan terus berkembang, apalagi model-model Property seperti Vimalla Hill masuk, saya yakin, 10 – 20 tahun kedepan habis lah lahan pertanian. Karena petani akan lebih tergiur untuk menjual tanahnya dengan harga tinggi,” keluh Sam yang memiliki petani binaan sejumlah 25 orang dengan total luas lahan yang ditanami sekitar 2 hektar ini. 

Dirinya berharap kepada Pemerintah Kabupaten Bogor agar lebih arif mempertahankan keberadaan lahan pertanian, terutama di kawasan Puncak Bogor. Sehingga komoditi yang ditanamnya dengan sistem Plasma dapat berkembang. "Selama ini saya menyediakan bibit kepada petani binaan, setelah itu membeli hasil panen dari petani yang tersebar di Desa Sukamaju, Sukamahi, Sukamaju, Cibedug dan Bojong Murni," tambahnya.

Menurutnya, harga bibit Edamame saat ini mencapai 45 ribu/kg, sementara harga hasil panen dibeli seharga Rp.6.500 /kg. Satu kilo bibit bisa menghasilkan minimal 50 kg Edamame yang siap jual. Sehingga, dengan 1 kg bibit dengan harga Rp 45 ribu bisa menghasilkan Rp.325.000. 

Sementara, Kasie Ekonomi Kecamatan Megamendung, Tetty mengatakan bahwa pihaknya belum bisa mengkalkulasikan berapa banyak lahan yang berkurang. “ Ini karena banyak terjadi alih Fungsi lahan, namun jumlahnya berapa saya belum mengkalkulasikanya, karena belum semua laporan masuk” ujar Tetty. (cj) Editor: Sunyoto

Diberdayakan oleh Blogger.