header_ads

Waspada DBD Dan Chikungunya


Kota Bogor sepertinya harus mulai waspada dan mulai menjalani hidup sehat mulai saat ini, pasalnya nyamuk penyebab Demam Berdarah Dongue (DBD) dan Cikungunya nyatanya sudah bisa beradaptasi dengan kondisi Kota Bogor saat ini.

Hal itu seperti yang diungkap Kepala Bidang Pencegahan Pemberantasan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Kota Bogor, dr. Eddy Darma, Rabu (11/01/2012) kemarin.

“Saat ini di Indonesia ada 2 jenis nyamuk, Nyamuk Aedes Aegypti penyebab DBD dan Nyamuk  Aides Albobictus penyebab Cikungunya,” jelasnya.

Menurutnya, untuk tahun 2011, Kota Bogor dalam penanganan pasien DBD mengalami penurunan. ”Dalam 3 tahun terakhir cuma di tahun 2011 saja quota pasien DBD turun drastis hingga 50 persen, tapi tidak menutup kemungkinan hal ini mengalami flaktul, tergantung cara hidup masyarakat Kota Bogor,” tuturnya.

“Indonesia khususnya Kota Bogor memliki musim pancaroba, yakni musim panas dan musim dingin, dan kadang tidak statis,” jelas dr. Eddy.

Dari data yang berhasil dihimpun, jumlah kasus yang terjadi di Kota Bogor dari tahun 2002 sekitar 338 kasus, 2004 sekitar 637 kasus, 2005 sekitar 824 kasus, 2006 sekitar 865 kasus, 2007 sekitar 12.025 kasus, 2008 sekitar 1.807 kasus, 2009 sekitar 1.340 kasus, 2010 sekitar 1.769 kasus, 2011 sekitar 608 kasus yang tersebar di enam kecamatan di Kota Bogor, sementara itu kecamatan Bogor Timur yang mendominasi penyebaran penyakit tersebut hingga 94,8 persen.

Dalam himbauannya, dr. Eddy berharap kepada masyarakat, agar selalu menjalankan program 3 M plus plus. “Plus-plusnya itu seperti menanam pohon yang bisa mengusir nyamuk, kolam atau kubangan ditanami ikan, dan pakai lotion walaupun hanya sekedar duduk di halaman,” jelasnya.

Sementara, Rumiasari (28) Warga Gunung Batu Kecamatan Bogor Barat mengeluhkan belum adanya sosialisasi kepada masyarakat mengenai penyebaran penyakit DBD dan Cikungunya. “Yang saya tahu, saat ini belum ada sosialisasi mengenai cara pencegahan sampai cara penanganan masalah DBD apalagi Cikungunya, padahal di wilayah ini pernah ada yang meninggal gara-gara Cikungunya,” ujarnya. (str)



Sumber: Kabar Publik

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.