Rudi Gunawan: Festival Dongdang Untuk Kelestarian Nilai Tradisi Luhur
CIBINONG- Helaran Dongdang 2012 yang digelar Dinas Kebudayaan
dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bogor di kawasan Tegar Beriman, Cibinong,
diperkirakan akan menyita perhatian masyarakat. Seperti yang pernah digelar
sebelumnya, helaran ini dipadati ribuan masyarakat bahkan wasatawan domestik
maupun mananegara.
Namun, helaran kali ini tidak akan ada pemandangan pengunjung
memperebutkan isi dongdang, seperti yang pernah terjadi pada helaran Dongdang
tahun 2010 silam. Hal ini dikatakan Kepala Disbudpar, Rudi Gunawan, saat
dihubungi melalui selular, Jum’at (2/3/2012) sore.
“Maulid Akbar dan Festival Dongdang besok, (Sabtu, 3 Maret 2012 - Red) suasana riuh pengunjung yang memperebutkan isi dongdang seperti tahun 2010 silam telah ditiadakan, karena terlalu beresiko. Kami juga sudah meyiapkan sekitar 700 personil anggota keamanan demi kenyamanan bersama,” Katanya.
Seni Dongdang merupakan warisan budaya tradisional
masyarakat Sunda Jawa Barat. Dulu Bagi masyarakat yang tinggal di daerah
pegunungan maupun dataran yang mayoritas bercocok tanam, tradisi ini dijadikan
suatu pengungkapan rasa hormat dan syukur atas karunia Sang Pencipta.
Menurut Rudi, helaran yang mengambil momentum Maulid
Akbar ini sebagai syiar Islam sekaligus meningkatkan ukhuwah Islamiyah yang
menjunjung tinggi kebersamaan antar sesama
“Sebenarnya, Dongdang itu alat pikul persegi empat
yang diberi tali atau tangkai berlubang untuk memasukkan pikulan. Sehingga saat
digotong oleh empat orang, alat persegi empat itu berayun-ayun, maka disebut
Dongdang,” ungkapnya.
Menurutnya, dongdang tersebut berisikan berbagai
jenis makanan dan hasil pertanian. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan
bahwa kata Dongdang diambil dari sebuah kalimat “Digendong dan Diiringi gendang”.
Sedangkan dalam perspektif perkembangan pariwisata daerah, seni dongdang telah mengalami proses transformasi
tafsir yang merujuk pada kebutuhan pasar, yakni bentuk kemasan seninya.
“Hal itu agar konsep pertunjukan lebih menarik,
atraktif, tanpa meninggalkan tradisi aslinya. Semua itu kan bisa menunjang
pengembangan pariwisata Kabupaten Bogor,” jelasnya.
Menurut catatan sejarah dan tradisi lokal yang dihimpun Redaksi, perayaan ini
merupakan warisan tradisi sudah turun - temurun yang dilakukan sejak zaman Kerajaan
Sunda purba seperti kerajaan Pajajaran. Upacara ini berawal dari
pemuliaan terhadap Nyi Pohaci
Sanghyang Asri, dewi padi dalam kepercayaan Sunda kuno. Sistem
kepercayaan masyarakat Sunda kuno dipengaruhi warisan kebudayaan masyarakat
asli Nusantara, yaitu animisme-dinamisme pemujaan arwah karuhun (nenek
moyang) dan kekuatan alam, serta dipengaruhi ajaran Hindu.Seiring pengaruh Islam, tradisi itu lebih mengedepankan momentum Maulid Nabi Besar SAW dalam bentuk Maulud Akbar. Masyarakat muslim mengekspresikannya dengan meningkatkan ukhuwah Islamiyah serta mendekatkan diri dan bertasyakur atas karunia Allah SWT.
Hingga kini, tradisi turun temurun ini secara terus menerus dilestarikan oleh Disbudpar Kabupaten Bogor dalam bentuk program Maulid Akbar dan Festval Dongdang tanpa meninggalkan nilai - nilai tradisi luhur. (als)
Tidak ada komentar