header_ads

G-PPP Tuding Keputusan Pemerintah Dzolim

Menko Perekonomian Hatta Radjasa didampingi 21 menteri umumkan kenaikan harga BBM. 

Sepekan terakhir ini, aksi mahasiswa maupun buruh digencarkan di sejumlah kota besar. Namun, semua itu tak membuat pemerintah gentar.

Pasalnya, akhir pekan ini, Jum'at (21/2013) malam, pemerintah akhirnya mengumumkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. 

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik secara resmi mengumumkan bahwa harga BBM premium ditetapkan menjadi Rp6.500 per liter, dan solar menjadi Rp5.500 per liter. Harga sebelumnya, premiun dan solar masing - masing Rp4.500,- per liter.

 “Harga tersebut diberlakukan secara serentak di seluruh daerah mulai terhitung tanggal 22 Juni 2013, pukul 00.00 WIB,” kata Jero Wacik.

Sementara, Menko Perekonomian Hatta Rajasa menyatakan kenaikan harga BBM merupakan alternatif terakhir untuk menyelamatkan anggaran negara. "Masyarakat miskin yang paling terkena dampaknya, mendapat perlindungan sosial dari pemerintah lewat BLSM, pembagian raskin, dan program lainnya," kata Hatta Radjasa.

Sebelumnya, Pengamat Komunikasi Politik Effendi Gozali mengatakan pemerintah tidak dapat berbuat banyak, kecuali menaikan harga BBM. "Sejumlah 338 anggota DPR yang dipimpin Marzuki Alie telah menerima usulan kenaikan harga BBM melalui vooting pada rapat paripurna kemarin, artinya saat ini adalah kemenangan Presiden SBY dimana sebelumnya pernah diraih oleh Golkar," katanya. 

Pengumuman kenaikan harga BBM ini diduga dilakukan secara diam - diam tanpa pemberitahuan sebelumnya, terkesan guna menghindari aksi penolakan besar - besaran mengingat keesokan harinya adalah hari libur. 

"Saya baru tahu setelah dihubungi Berita Bogor bahwa harga BBM resmi naik," kata Ketua Gerakan Persaudaraan Putra Pribumi (G-PPP) Bogor Raya, Rahmat Gunawan. 

Pernyataan Effendi Gozali, lanjutnya, ternyata benar ini adalah kemenangan penguasa yang menzolimi rakyat. Dirinya menduga hal erat kaitannya dengan hutang janji Indonesia dengan negara asing.

"Lihatlah kebawah banyak rakyat yang semakin terhimpit kehidupannya akibat dampak kenaikan ini, sebab sejumlah bahan pokok sudah melambung tinggi tanpa adanya tindakan antisipasi dari pemerintah yang terkesan pembiaran," ketusnya. (als)




Editor: Risdiana
Email: redaksiberitabogor@gmail.com



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.