Enam Pelajar SMK Diamankan
KOTA - Enam Pelajar YZA 1 Diamankan Polres Bogor Kota.
Jajaran Polres Bogor Kota mengamankan enam siswa Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Zaelani Al Mansyur 1 (SMK YZA).
Mereka diduga sebagai pelaku pencabut nyawa Andriansyah (17) siswa SMK Bhakti Taruna. Namun, identitas para pelajar anarkis tersebut masih disembunyikan.
“Sementara ini, hingga pukul 19:30 WIB (tadi malam) sudah ada enam pelajar SMK YZA 1 yang diamankan. Mereka masih menjalani pemeriksaan secara intensif dengan status sebagai saksi,” ucap AKBP Bahtiar Ujang Purnama, Kapolres Bogor Kota, Kamis (5/12/2013), malam.
Dirinya menjelaskan, penangkapan keenam pelajar berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan pengembangan. “Keterangan sementara dari keenam saksi, ada beberapa pelajar lain yang terlibat. Identitas dan alamatnya sudah diketahui, saat ini sejumlah anggota sudah dikerahkan untuk menangkap mereka,” tandas Bahtiar.
Bahtiar menambahkan, untuk sementara ini, pihaknya belum bisa menyimpulkan kronologis dan kejadian yang sebenarnya menimpa korban. Karena itu, pemeriksaan saksi secara intensif terus dilakukan, guna mengungkap kejadian yang sebenarnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya aksi susulan pasca tawuran antara siswa SMK YZA 1 dengan pelajar SMK Bhakti Taruna yang menewaskan satu pelajar bernama Andriansyah, jajaran Polres Bogor Kota, melakukan razia terhadap pelajar SMK Bhakti Taruna, kemarin. Sasaran razia memeriksa seluruh telepon genggam yang dibawa oleh para pelajar. “Kita lakukan razia Hp pelajar ini sebagai bentuk antisipasi agar tidak terjadi aksi tawuran susulan, atau ada serangan balik dari pihak sekolah korban,” kata Kapolsekta Bogor Sekatan, Kompol Arif Gunawan di sela-sela di SMK
Bhakti Taruna di Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kamis (5/12).
Kompol Arif mengungkapkan, dalam pemeriksaan didapatkan sejumlah informasi yang bersifat ajakan-ajakan dari pihak tertentu untuk berkumpul di suatu tempat, dan melakukan tindakan balas dendam atau menyerang sekolah lawan. “Kita temukan banyak pesan singkat (sms) berisi ajakan-ajakan dari pihak tertentu. Bahkan, ada ajakan yang mengandung isi tulisan provokasi dan melibatkan para alumninya yang berujung kepada aksi tawuran susulan atau serangan balik, sehingga kita lakukan pemeriksaan terhadap pelajar itu,” jelasnya.
Bagi pelajar yang di dalam Hp-nya kedapatan isi sms tersebut, kemudian diperiksa intensif oleh petugas. Kapolsek kemudian melakukan pembinaan agar para pelajar tidak terprovokasi maupun ikut-ikutan melakukan tindakan balas dendam, karena kasus yang terjadi sudah ditangani aparat kepolisian. “Kita lakukan pembinaan dan arahan kepada mereka, bahwa tindakan itu tidak baik. Selanjutnya, setelah razia ini, seluruh pelajar akan dipulangkan dengan didampingi para petugas ke rumahnya masing-masing,” urainya.
Sementara itu, Kepala SMK Bhakti Taruna, Budi Supriadi mengaku terpukul dengan diketahuinya salah satu anak didiknya tersebut tewas, karena aksi tawuran itu. Kepsek juga meminta agar seluruh pelajar lainnya tidak mengulangi peristiwa yang sama, serta tidak melakukan aksi balas dendam ataupun bentuk aksi solidaritas lainnya karena bisa merugikan diri sendiri maupun pihak sekolah. (red/pakar)
foto: Pakar
Jajaran Polres Bogor Kota mengamankan enam siswa Sekolah Menengah Kejuruan Yayasan Zaelani Al Mansyur 1 (SMK YZA).
Mereka diduga sebagai pelaku pencabut nyawa Andriansyah (17) siswa SMK Bhakti Taruna. Namun, identitas para pelajar anarkis tersebut masih disembunyikan.
“Sementara ini, hingga pukul 19:30 WIB (tadi malam) sudah ada enam pelajar SMK YZA 1 yang diamankan. Mereka masih menjalani pemeriksaan secara intensif dengan status sebagai saksi,” ucap AKBP Bahtiar Ujang Purnama, Kapolres Bogor Kota, Kamis (5/12/2013), malam.
Dirinya menjelaskan, penangkapan keenam pelajar berdasarkan keterangan dari sejumlah saksi yang kemudian ditindaklanjuti dengan penyelidikan dan pengembangan. “Keterangan sementara dari keenam saksi, ada beberapa pelajar lain yang terlibat. Identitas dan alamatnya sudah diketahui, saat ini sejumlah anggota sudah dikerahkan untuk menangkap mereka,” tandas Bahtiar.
Bahtiar menambahkan, untuk sementara ini, pihaknya belum bisa menyimpulkan kronologis dan kejadian yang sebenarnya menimpa korban. Karena itu, pemeriksaan saksi secara intensif terus dilakukan, guna mengungkap kejadian yang sebenarnya.
Untuk mengantisipasi terjadinya aksi susulan pasca tawuran antara siswa SMK YZA 1 dengan pelajar SMK Bhakti Taruna yang menewaskan satu pelajar bernama Andriansyah, jajaran Polres Bogor Kota, melakukan razia terhadap pelajar SMK Bhakti Taruna, kemarin. Sasaran razia memeriksa seluruh telepon genggam yang dibawa oleh para pelajar. “Kita lakukan razia Hp pelajar ini sebagai bentuk antisipasi agar tidak terjadi aksi tawuran susulan, atau ada serangan balik dari pihak sekolah korban,” kata Kapolsekta Bogor Sekatan, Kompol Arif Gunawan di sela-sela di SMK
Bhakti Taruna di Kelurahan Muarasari, Kecamatan Bogor Selatan, Kamis (5/12).
Kompol Arif mengungkapkan, dalam pemeriksaan didapatkan sejumlah informasi yang bersifat ajakan-ajakan dari pihak tertentu untuk berkumpul di suatu tempat, dan melakukan tindakan balas dendam atau menyerang sekolah lawan. “Kita temukan banyak pesan singkat (sms) berisi ajakan-ajakan dari pihak tertentu. Bahkan, ada ajakan yang mengandung isi tulisan provokasi dan melibatkan para alumninya yang berujung kepada aksi tawuran susulan atau serangan balik, sehingga kita lakukan pemeriksaan terhadap pelajar itu,” jelasnya.
Bagi pelajar yang di dalam Hp-nya kedapatan isi sms tersebut, kemudian diperiksa intensif oleh petugas. Kapolsek kemudian melakukan pembinaan agar para pelajar tidak terprovokasi maupun ikut-ikutan melakukan tindakan balas dendam, karena kasus yang terjadi sudah ditangani aparat kepolisian. “Kita lakukan pembinaan dan arahan kepada mereka, bahwa tindakan itu tidak baik. Selanjutnya, setelah razia ini, seluruh pelajar akan dipulangkan dengan didampingi para petugas ke rumahnya masing-masing,” urainya.
Sementara itu, Kepala SMK Bhakti Taruna, Budi Supriadi mengaku terpukul dengan diketahuinya salah satu anak didiknya tersebut tewas, karena aksi tawuran itu. Kepsek juga meminta agar seluruh pelajar lainnya tidak mengulangi peristiwa yang sama, serta tidak melakukan aksi balas dendam ataupun bentuk aksi solidaritas lainnya karena bisa merugikan diri sendiri maupun pihak sekolah. (red/pakar)
foto: Pakar
