header_ads

Even Dongdang Harus Di Inovasi

Helaran yang mubazir dan mudhorat ibarat peninggalan jaman Fir'aun. 

Helaran Dongdang selama tiga tahun terakhir ini terkesan mubazir dan mudhorat lantaran pihak ketiga terbukti hanya bekerja sekedar melaksanakan even untuk menyerap anggaran semata. Sementara pesan nilai luhur budaya Sunda terabaikan tak sampai ke tengah masyarakat.

Pegiat budaya Bambang Sumantri mengkritisi penyelenggaraan fesitval Dongdang yang selama ini terkesan mubazir dan mudhorat. Dirinya berharap tahun ini ada inovasi acara yang lebih menarik mengedepankan pesan nilai budaya.

Terutama pihak ketiga, lanjut Bambang, yang digandeng Disbudpar jangan berasal dari even organizer yang kerjanya asal jadi saja. Karena Bupati Bogor selama ini berharap kegiatan ini dapat meningkatkan daya tarik wisatawan domestik maupun mancanegara untuk berkunjung ke Kabupaten Bogor. "Even harus lebih menarik dengan melibatkan unsur masyarakat dan pemikiran para budayawan agar tidak sekedar dijadikan grand desain saja oleh Disbudpar. Untuk pihak ketiga harus selektif lebih ketat agar tak sembarang melaksanakannya," desak Bambang, Minggu (26/1/2014).

Sementara Budayawan Bogor Ace Sumanta menuturkan kegiatan tahunan dongdang dinilai cukup bagus digelar menjelang atau bertepatan dengan momentum Maulid Nabi sebagai bahian dari syiar melalui seni budaya. "Saya berpendapat agar even tidak menjenuhkan dan tidak terkesan menghamburkan anggaran, maka harus ada inovasi yang nyata, bukan copy paste even tahun sebelumnya. Sebab, selama ini kami amati ada kesan mubazir dan modhorat jika makanan dan hasil bumi yang diiringi peserta dongdang tumpah kejalan terinjak-injak," tegasnya.

Menurutnya, perlu desain baru dalam tampilan dongdang yang akan digelar bulan Februari 2014 ini dengan mengedepankan kearifan lokal dan nilai dakwahnya sampai kemasyarakat luas. Termasuk, SKPD terkait juga garus mengajak para budayawan lokal untuk duduk bersama dalam menyusun desain pagelaran dongdang mendatang menjadi lebih inovatif sebagai konsep maslahat, substansional dan bernilai seni budaya untuk Bogor Berbudaya.  

Kritik tajam juga datang dari Budayawan Bogor, Abah Jipak menyampaikan bahwa ngarak dongdang bukan budaya leluhur orang Sunda, dongdang itu budaya dijaman fir'aun yang sarat dengan perbuatan mubazir dan mudhorat. "Kenapa tidak diganti saja dongdang dengan dzikir massal dilapangan Tegar Beriman, misalnya. Atau sebaiknya anggaran buat pesta dongdang dialihkan  kepada santunan anak yatim piatu, fakir miskin dan orang jompo yang masih banyak di Bogor. Sebab, festival dongdang itu bukan budaya tapi pesta hamburkan anggaran saja," kata dia. (als)
Makanan terbuang mubajir, warga berebut dan saling dorong diibaratkan sebagai budaya Fir'aun


Foto Ilustrasi
Editor: Alsabili


 
Diberdayakan oleh Blogger.