Pro Kontra Rencana Penutupan TPA Galuga
Aroma tak sedap, disamping pengais rejeki
Rencana penutupan Tempat Pembuangan Sampah (TPA) Galuga di Kecamatan Cibungbulang ditentang warga yang mengandalkan hidup sebagai pemulung. Sementara warga permukiman di sekitar Kampung Lalamping Desa Galuga mendesak Pemkab Bogor harus menempati janji menutup TPA pada Januari 2015.
Warga permukiman merasa terganggu dengan aktifitas yang menyebar aroma tak sedap dari lokasi maupun truk pengangkut sampah yang melintasi kawasan itu, disamping kawasan itu membuat property tidak mengalami pengembangan signifikan. “Selama 31 tahun kami selalu disuguhi bau sampah. Selam itu banyak warga yang hendak dengan menjual rumah dan tanah, tapi tak laku dijual,” ucap Yanto, warga Kampung Dukuh, Desa Galuga, Senin (6/1/2014).
Mereka berhatap kepada Pemkab Bogor untuk konsisten dengan perjanjian antara Pemkot dan Pemkab Bogor, TPA Galuga harus ditutup Januari 2015. Selama ini TPA Galuga menampung, sampah dari warga Kota dan Kabupaten Bogor. Keberadannnya selama ini selalu diprotes, bukan hanya dari Desa Galuga, tapi juga desa lainya seperti Desa Duku, Cijujung, dan Desa Leuwiliang.
Sebaliknya, ratusan pemulung menolak ditutup lantaran selama ini sekitar ratusan kepala keluarga menggantungkan hidup dari sampah yang dipilah di TPA ini mengais barang-barang bekas ini yang masih laku dijual untuk menghidupi keluarga. (red)
