Siswi SMP Cisarua Korban Penyekapan
Puncak Bogor digemari pelancong kerap dijadikan tempat maksiat dengan menyewa vila maupun hotel melati. Program Nobat (nongol Babat) Pemkab Bogor nampaknya tak mempan di kawasan wisata primadona ini, sehingga generasi muda terkena dampaknya.
Informasi yang dihimpun Berita Bogor, tak jarang remaja dan pemuda Puncak Bogor kepergok warga sedang mabuk minuman keras di sudut gelap hingga pertokoan kosong, pasangan muda mudi juga kerap nekat melakukan seks bebas hingga terjadinya pemerkosaan.
Salahsatunya, kejadian yang menimpa TY (14) siswi salah satu SMP di Cisarua yang dihipnotis dan di sekap selama satu malam. Berdasarkan keterangan orang tua korban, Y (50) bahwa usai pulang sekolah anaknya TY di ajak oleh wanita yang tidak dikenal untuk jalan - jalan dengan mengendarai sepeda motor ke arah Pom Bensin Cisarua," katanya, Rabu (7/1/2013) sore.
Tak lama berselang, lanjut dia, keduanya beranjak menuju sebuah pertokoan kosong yang letaknya tak jauh dari Pasar Cisarua. Di lokasi ini TY diminta wanita tak dikenal untuk bermalam hingga dirinya tak sadarkan diri. Keesokan harinya sekitar hingga pukul 11.00 siang, TY yang mulai sadar dengan tertatih-tatih dan sedikit sempoyongan menyelinap untuk kabur dari pertokoan itu.
Y yang resah lantaran anak gadisnya tak kunjung pulang segera melaporkan kejadian yang menimpa anaknya kepada pihak Polsek Cisarua. "Polisi juga menerima laporan dari warga bahwa ditemukan seorang siswi yang terlihat linglung sedang berjalan tertatih di perkampungan. Kini Polisi masih mengejar para pelakunya," tutur orangtua korban, Rabu (7/1/2014).
Atas kejadian ini membuat pengurus Ormas Gibas, Indra mengatakan Pemkab Bogor dan aparat keamanan dinilai lemah. “Terbukti, tiap malam tempat ini dijadikan ajang mabuk dan prostitusi anak-anak sekolah tapi tak ada razia sama sekali. Mestinya pemerintah turut memperhatikan kondisi ini, jangan sampai kejadian ini terus berulang,” kritik Indra.
Sementara warga Cisarua, Ani (47) yang mendengar kejadian ini merasa resah dan khawatir hal serupa akan menimpa anggota keluarganya. “Abdi mah khawatir sebab abdi punya anak yang sudah gadis. Kenapa atuh sejak baheula pemerintah cicing wae Puncak loba mesum na?,” ujar ibu rumah tangga ini resah.
Saat dihubungi, Kasubid Perlindungan Anak BPPKB Kabupaten Bogor, Maya Widayanti segera menanggapi bahwa pihaknya akan memberikan pendampingan hukum dan psikolog kepada korban atas ijin keluarga. "Pihak kami akan bekerjasama dengan P2TP2A Kabupaten Bogor untuk memberikan pendampingan, tentunya kami harus kordinasi dengan Polsek Cisarua terkait laporan kasus ini," jelasnya.
Tak hanya itu, Maya juga menghimbau kepada masyarakat sekitar rumah korban untuk turut membantu melindungi hak anak dengan tidak menambah penderitaan si korban. "Himbauan ini juga berlaku bagi masyarakat luas untuk dapat membantu korban dengan cara tidak mengucilkannya atau melecehkannya, dan bertahap menghilangkan trauma yang dialami korban," himbaunya. (cj)
foto: ilustrasi ruko kosong, Cisarua Puncak Bogor
Editor: Sunyoto
