SAMPAH BISA JADI DUIT ? Selengkapnya KLIK Disini
Hasil kerajinan tangan berbahan baku sampah.
.
.
Kegiatan di Bank Sampah Binasih (Bersih, Indah Aman, Asri, Menghasilkan)
yang berada di wilayah RW 10 Perumahan LIPI, Desa Rawa Panjang,
Kecamatan Bojong Gede patut ditiru masyarakat di Kabupaten Bogor.
Pasalnya, kegiatan Binasih itu berkecimpung dibidang pengolahan sampah yang sarat dengan kotor dan aroma tak sedap. Namun demikian, tidak demikian bagi 33 anggota kelompok yang merupakan relawan lingkungan di RW 10 ini yang rela meluangkan waktunya untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memilah sampah organik dan non organik, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan penghijauan.
Ketua Kelompok Sri Muryaning yang juga seorang guru PAUD, mengungkapkan awalnya sebanyak delapan warga aktif sebagai relawan lingkungan sejak April 2013, dan anggotanya terus bertambah. "Hinggsa saat ini kita masih terus melakukan pendekatan kepada warga RW 10, 11, dan 19 untuk kemudian merambah ke RW sekitarnya yang ada di Desa Rawa Panjang ini," jelas Sri, Kamis (6/2/2014)
Kegiatan dibagi menjadi dua kelompok, lanjutnya, yaitu kelompok organik yang bertugas mengumpulkan sampah untuk diolah menjadi kompos dan pupuk cair, dan kelompok non organik yang mengumpulkan sampah non organik untuk diolah menjadi kerajinan tangan berupa dompet, tas cantik, sabuk, taplak meja, rangkaian bunga, tatakan piring dan gelas.
"Hasil kerajinan tangan yang kualitasnya tak kalah dengan buatan pabrik ini kita jual kepada masyarakat dan dititip disejumlah toko dengan harga yang relatif murah, bahkan pemesan terus bertambah sehingga keuntungan bisa dirasakan oleh anggota itu sendiri," jelasnya didampingi Satgas Lingkungan BLH Kabupaten Bogor, Endang Efendi.
Sementara kelompok organik Binarsih, Tarwoto (58) menjelaskan sampah plastik, bekas bungkus minyak goreng, kopi, permen dan sampah non organik lainnya di cuci sampai bersih lalu dikeringkan. Lalu dipotong sesuai pola yang telah dirancang sebelum dianyam menjadi berbagai macam kerajinan tangan.
Menurutnya, sampah organik berupa sampah daun maupun sisa makanan dicacah terlebih dahulu lalu dimasukan kedalam alat komposer yang terbuat dari drum kapasitas 40 liter. Sedangkan untuk pembuatan pupuk cair, sampah dimasukan didalam karung lalu digabungkan menjadi satu didalam drum yang sudah terisi dengan air.
"Tiap harinya sampah dalam drum itu kita aduk selama 40 hari agar menghasilkan pupuk lindi berbentuk cairan yang kualitasnya sama dengan pupuk yang dijual di pasar. Jadi, warga di perumahan ini tak perlu lagi membeli pupuk sebab kita bisa mengolahnya sendiri, itu kan menghemat biaya," jelas Tarwoto yang pensiunan LIPI ini. (ice)
Pasalnya, kegiatan Binasih itu berkecimpung dibidang pengolahan sampah yang sarat dengan kotor dan aroma tak sedap. Namun demikian, tidak demikian bagi 33 anggota kelompok yang merupakan relawan lingkungan di RW 10 ini yang rela meluangkan waktunya untuk melakukan pendekatan kepada masyarakat untuk memilah sampah organik dan non organik, dengan cara tidak membuang sampah sembarangan serta melakukan penghijauan.
Ketua Kelompok Sri Muryaning yang juga seorang guru PAUD, mengungkapkan awalnya sebanyak delapan warga aktif sebagai relawan lingkungan sejak April 2013, dan anggotanya terus bertambah. "Hinggsa saat ini kita masih terus melakukan pendekatan kepada warga RW 10, 11, dan 19 untuk kemudian merambah ke RW sekitarnya yang ada di Desa Rawa Panjang ini," jelas Sri, Kamis (6/2/2014)
Kegiatan dibagi menjadi dua kelompok, lanjutnya, yaitu kelompok organik yang bertugas mengumpulkan sampah untuk diolah menjadi kompos dan pupuk cair, dan kelompok non organik yang mengumpulkan sampah non organik untuk diolah menjadi kerajinan tangan berupa dompet, tas cantik, sabuk, taplak meja, rangkaian bunga, tatakan piring dan gelas.
"Hasil kerajinan tangan yang kualitasnya tak kalah dengan buatan pabrik ini kita jual kepada masyarakat dan dititip disejumlah toko dengan harga yang relatif murah, bahkan pemesan terus bertambah sehingga keuntungan bisa dirasakan oleh anggota itu sendiri," jelasnya didampingi Satgas Lingkungan BLH Kabupaten Bogor, Endang Efendi.
Sementara kelompok organik Binarsih, Tarwoto (58) menjelaskan sampah plastik, bekas bungkus minyak goreng, kopi, permen dan sampah non organik lainnya di cuci sampai bersih lalu dikeringkan. Lalu dipotong sesuai pola yang telah dirancang sebelum dianyam menjadi berbagai macam kerajinan tangan.
Menurutnya, sampah organik berupa sampah daun maupun sisa makanan dicacah terlebih dahulu lalu dimasukan kedalam alat komposer yang terbuat dari drum kapasitas 40 liter. Sedangkan untuk pembuatan pupuk cair, sampah dimasukan didalam karung lalu digabungkan menjadi satu didalam drum yang sudah terisi dengan air.
"Tiap harinya sampah dalam drum itu kita aduk selama 40 hari agar menghasilkan pupuk lindi berbentuk cairan yang kualitasnya sama dengan pupuk yang dijual di pasar. Jadi, warga di perumahan ini tak perlu lagi membeli pupuk sebab kita bisa mengolahnya sendiri, itu kan menghemat biaya," jelas Tarwoto yang pensiunan LIPI ini. (ice)
6/2/2014